Pada saat ini, banyak masyarakat lebih mengutamakan penggunaan teknologi agar tidak lagi menggunakan kertas sebagai media tulis-menulis karena teknologi dikenal lebih praktis. Dengan adanya hal tersebut, tidak dimungkiri bahwa dampak penggunaan teknologi sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

Hasil dari survei yang diadakan Nielsen Consumer Media View pada tahun 2017 menunjukkan bahwa penggunaan media cetak koran, tabloid, dan majalah hanya terpaut jauh dengan penggunaan media berbasis teknologi seperti websites, digital jurnal, dan sebagainya. Hal ini terjadi tentu karena maraknya penggunaan media berbasis teknologi.

Belum lagi masyarakat juga menilai kelemahan berita pada kertas seperti majalah, tabloid, dan koran yang berjalan lambat untuk menjamah telinga masyarakat. Dengan fenomena tersebut, terbukti bahwa teknologi benar-benar memimpin peradaban manusia dan berhasil menggeser posisi kertas di hati masyarakat.

Semua media cetak seakan telah tergantikan dengan kecanggihan teknologi media online melalui fasilitas internet. Namun, apakah generasi muda saat ini benar-benar bisa untuk tidak bergantung pada penggunaan kertas secara mutlak? Lalu, apakah teknologi memang benar menggeser posisi kertas?

Sebenarnya, hadirnya kertas dalam kehidupan merupakan sebuah revolusi besar dalam peradaban manusia. Karena kertas menyumbangkan arti tersendiri bagi manusia bahkan jauh sebelum teknologi hadir.

Hal ini sebenarnya membuktikan bahwa eksistensi kertas dalam kehidupan serba teknologi ini ternyata belum atau bahkan tidak bisa tergantikan. Kebutuhan kertas sudah menyatu dalam sendi kehidupan manusia yang tidak bisa tergantikan oleh kertas, salah satunya sebagai wadah penyimpanan dokumen resmi.

Selain itu, kertas juga menjadi salah satu pemasukan terbesar Indonesia. Hal ini karena perkembangan dan kemajuan dari industri pulp dan kertas. Tercatat bahwa industri pulp dan kertas merupakan penyumbang devisa negara terbesar ke-7 dalam aspek sektor non-migas di Indonesia.

Oleh karenanya, produksi kertas terus berlangsung meskipun teknologi telah hadir dan mulai menggeser posisi kertas. Pemerintah juga tidak akan membiarkan salah satu pemasok devisa negara berkurang begitu saja.

Di sisi lain, terjadi masalah pada teknologi. Kenyataan dari teknologi tak seindah yang diharapkan. Mei 2017 lalu menjadi salah satu sejarah yang memilukan bagi peradaban teknologi dan bagi mereka yang meremehkan kertas.

Kemajuan teknologi yang didewakan masyarakat tersebut justru menjadi bumerang bagi masyarakat sendiri. Banyak orang menyalahgunakan teknologi dan melakukannya demi memenuhi kebutuhan materi meskipun dengan cara yang salah.

Salah satunya, yaitu serangan siber skala besar. Virus wannacry berhasil menginfeksi 75.000 komputer di 99 negara dan menuntut pembayaran penebusan untuk memulihkan data seperti sedia kala.

Jutaan data pun hilang. Kegiatan perkantoran dan pelayanan publik terlumpuhkan. Lalu, siapakah yang berhak disalahkan dalam hal ini? Dengan melihat permasalahan tersebut, kita bisa merasakan dampak buruk dari teknologi yang merasuki kehidupan manusia.

Dengan adanya permasalahan tersebut, manusia kini sadar dan seakan menelan ludah sendiri setelah mereka berani meremehkan kertas. Kejadian tersebut membuktikan bahwa mereka tetap membutuhkan data yang bentuknya konkret dan tertulis, yaitu kertas.

Di situlah peran kertas yang sebenarnya dibutuhkan dan tidak bisa tergantikan oleh kecanggihan teknologi.

Selain itu, saat ini, media digital dilanda oleh maraknya berita-berita hoaks yang dibuat oleh masyarakat sendiri. Mereka sengaja untuk menyebarluaskan berita hoaks demi mendapatkan keuntungan. Sekali lagi, keberadaan teknologi terancam.

Salah satu oknum penyebar berita hoaks, yaitu Saracen. Mereka bekerja dengan menyebarkan ujaran kebencian ke media sosial dan berita tersebut berhasil dikonsumsi oleh masyarakat. Mereka menyebarkan konten yang berupa provokasi terhadap suatu berita.

Dari sanalah masyarakat akan bereaksi dan menganggap bahwa berita tersebut benar adanya. Sayangnya, masyarakat tidak memahami bahwa berita tersebut adalah berita hoaks.

Lalu, bagaimana dengan kertas? Kita tidak perlu khawatir mengenai hal itu. Para penyebar berita hoaks berpikir bahwa kertas bukanlah media yang tepat untuk menyebarluaskan berita hoaks. Oleh karenanya, mereka memilih teknologi sebagai sarana untuk melakukan kejahatan mereka.

Semua hal yang disebutkan mengenai kertas di atas telah membuktikan bahwa kertas adalah media yang paling bertanggung jawab; dan benar bahwa teknologi memang tak seluruhnya berhasil menggeser posisi kertas.

Melihat fenomena akan kebutuhan kertas yang sangat krusial di atas, maka di era teknologi ini, diperlukan langkah-langkah bijak agar pemanfaatan kertas minim terhadap eksploitasi hutan dan tidak merusak lingkungan secara berlebihan.

Berbagai asumsi terkait kecemasan tentang industri kertas akan mengalami kemunduran karena era digital dianggap mendominasi dan akan menggantikan posisi kertas dalam kehidupan. Hal ini tentu tidak dapat diterima begitu saja tanpa adanya penelusuran lebih dalam mengenai kertas dan perkembangan teknologi.

Oleh karenanya, pemerintah maupun masyarakat harus bekerja sama dalam menghadapi permasalahan ini. Eksistensi kertas juga tidak boleh hilang sepenuhnya dari kehidupan teknologi ini karena sejatinya kertas akan tetap berfungsi, bagaimanapun keadaannya.

Masyarakat hanya salah dalam mengartikan kertas dalam kehidupan mereka. Oleh karenanya, banyak masyarakat yang berpikir bahwa kertas tidak lebih baik dari teknologi.

Referensi