“Kau yakin surga itu ada?”

“Percayalah, surga itu tak ada.”

“Kau yakin?”

“Yakin. Kecuali surga dalam realitas imaji, itu memang ada.”

Percakapan di atas hanya rekaan saya belaka. Tapi percakapan serupanya, atau katakanlah yang lebih intim tetapi tak dirahasiakan, dapat ditemukan setidaknya di warung kopi. Terutama, memang, di mana lagi tempat terbebas selain di kedai kopi?

Boleh jadi, Anda memikirkan sosial media sebagai tempat terbebas sekarang ini. Anda dapat mengeluhkan apa pun di sana. Menyapa teman, kerabat dan kolega. Bahkan memberi cacian kepada lawan Anda, seandainya itu perlu. Benar, Anda dapat melakukannya sampai undang-undang ITE mengingkarinya.

Atau katakanlah begini: Anda membayangkan rumah sewa atau indekos sebagai tempat terbebas, di mana sepasang kekasih luang berdua-duaan sebelum kancing celana terbuka berikut yang lainnya tanggal. Bersenggama bahkan tak keluar kamar untuk beberapa waktu. Itu juga benar dapat dilakukan sebelum aparat gila urusan dan warga datang menyeruduk dan menggiring ke muka umum.

Ingatan kita barangkali masih segar dengan seorang pegiat media sosial, Jonru Ginting, dan Gubernur DKI Jakarta, Basuski Tjahaja Purnama alias Ahok. Keduanya adalah salah sekian dari banyak orang yang lupa (atau belum tahu) bahwa tempat yang ikhlas menerima pernyataan-pernyataan kontroversial mereka (tanpa dilaporkan) itu bukan di sosial media atau di perkampungan warga, tetapi di kedai kopi.

Jika ada hari di mana semua orang tampak setara dan egaliter, maka itulah hari besar umat muslim: idulkurban dan idulfitri. Kita bisa menemukan semua berpakaian serbabaru. Tak ada beda. Tak ada identitas, kecuali mereka “islam” yang berbondong ke masjid. Tapi jika ada tempat yang tak dibelenggu oleh upacara semacam itu, Anda tentu tahu di mana tempatnya.

Di kedai kopi. Di sanalah satu-satunya tempat tersetara, tentu saja bagi siapa pun. Tak ada pejabat sebagaimana tak ada wakil rakyat, kecuali pengunjung. Setara sebagai orang bebas. 

Kita bisa menemukan atau mendengar apa pun dipercakapkan, bahkan tanpa sembunyi-sembunyi. Mulai dari kekasih yang patah hati, hari yang sial, rumah yang berantakan sebab diisi pertikaian ibu dan bapak hingga perdebatan mengenai kebenaran teori Darwin. Dan kita sedikit terpanggil untuk memberinya buku Sapiens.

Sekali waktu kita akan melihat kumpulan pelajar, atau sekawanan mahasiswa baru yang masih begitu berahi membahas peran mereka sebagai agen of change, sebagai katalis perubahan dan penyegar kegersangan harapan rakyat, sambil berapi-api mengutuk pemerintah dan berpikir mesti disudahi dengan jalan revolusi. Mengerikan, Bung!

Narasi apa pun yang dihasilkan di kedai kopi itulah realitasnya. Ruang publik yang justru tidak dibatasi oleh apa pun, impunitas. Sebagaimana yang dikatakan---kurang lebih---oleh Jurgen Habermas, seorang filsuf sekaligus sosiolog dari Jerman, “Ruang publik hanya terjadi ketika individu satu dan yang lain berinteraksi secara sadar tanpa ada intervensi dari dan oleh siapa pun.”

Apa yang bisa kita katakan mengenai eksistensi kedai kopi adalah wadah kebebasan ekspresi, sebagaimana yang dimaksudkan sang sosiolog Jerman itu, sekalipun benar tak mungkin sepasang kekasih bersenggama di sana. Tapi jelas, itulah faktanya, yang barangkali akan membudaya sebagai rutinitas hari-hari terutama di tengah kegenitan undang-undang yang cenderung mengisolasi percakapan yang bersifat “tak boleh”.

Kalau Anda termasuk peminum kopi dan pengunjung kedai kopi tersering, tentu saja akan sangat akrab dengan kisah-kisah revolusioner di baliknya. Tidak saja sebagai tempat interaksi sosial belaka, tetapi gagasan perlawanan kelas bawah, perjuangan kemerdekaan individu tumbuh dan lahir di sana.

Belum lama ini, muncul agitasi pemboikotan dari kalangan agamis terhadap kedai kopi ternama, Starsbucks, lantaran pihaknya dengan terang menyatakan akan mengakomodasi hak-hak kaum LGBT, sekalipun agitasi pemboikotan itu tak mengubah sesuatu apa pun.

Dahulu, di Eropa, tentu saja jauh sebelum kedai kopi dijejali wifi, beberapa kedai kopi pernah mengalami hal yang sama sebagaimana Strabucks. Ahli sejarah dari Prancis, Jules Michelet, mengatakan bahwa kedai-kedai kopi pada masa itu menjadi tempat di mana berita dan isu-isu sosial dipercakapkan serius, sampai berakhir dengan lahirnya Revolusi Perancis.

Kenyataan itu bagaimanapun melahirkan kecemasan di tubuh pemerintah. Bahkan berujung pada manipulasi saintifik dari seorang dokter, demi menghentikan rutinitas yang tentu saja dapat berakibat parah: mengancam kedudukan secara politik bagi penguasa kala itu.

Dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, oleh Linda Civitello, mengungkapkan, seorang dokter muda di Perancis menyatakan bahwa mengonsumsi kopi merupakan biang segala penyakit. Seperti keletihan, melemahkan otak, menggerogoti fungsi tubuh bahkan mampu menyebabkan impotensi akut.

Apa yang dapat dikatakan atas ini adalah, kedai kopi tak bisa dilepaskan dari akumulasi peristiwa Revolusi Perancis, bagaimanapun. Masih dengan Linda Civitello, ia bahkan dengan gamblang mengatakan, sebab kopi dan kedai membuat orang-orang Eropa untuk kali pertama bersetatap muka tanpa melibatkan berbotol-botol alkohol.

Eksistensi kedai kopi bagaimanapun telah banyak mengambil peran dalam sejarah pergerakan di dunia. Tak hanya di Perancis. Di India, misalnya, keberadaan kedai kopi sulit dipisahkan dengan cacatan sejarah yang mengantarkan mereka menjadi sebuah negara yang kita kenal, sekalipun lewat film Kuch Kuch Hota Hai, setidaknya bagi saya.

Bagaimanapun rupanya kedai kopi di era ini, yang diisi oleh kalangan muda-mudi putus asa, atau semangat membara sekawanan mahasiswa baru, itu hanya kesementaraan yang tak akan lama. Sebab waktu akan berguling dengan sejarahnya sendiri-sendiri, dan kedai kopi akan menemani sejarah itu sampai waktu berguling pada sejarah yang baru.