Di dunia yang penuh dengan keberagaman di segala aspek lapisannya ini justru memberikan warna tersendiri untuk setiap sendi-sendi dalam kehidupan manusia. Terutama dalam hal aliran atau jenis musik. Ada begitu banyak aliran musik yang terus berkembang dan menciptakan aliran-aliran musik lainnya seiring dengan perkembangan zaman, seperti Jazz, Rock, Classic, Pop, Reggae, Hip Hop, EDM, dan Dangdut.

Tidak dimungkiri bahwa aliran-aliran musik tersebut mungkin diperdengarkan setiap harinya, baik melalui media seperti radio, televisi, hingga platform digital yang bisa kita akses kapan pun dan di mana pun hanya dengan menggunakan smartphone yang kita miliki. Di antara banyaknya aliran musik yang terdapat di dunia tersebut, salah satunya adalah Japanese Pop atau yang sering kita kenal dengan sebutan J-Pop.

Apa itu J-Pop? J-Pop merupakan istilah yang digunakan untuk musik populer yang berasal dari Jepang. Istilah ini tercipta karena adanya keinginan para musisi Jepang yang ingin bersaing dengan para musisi Barat, terutama industri musik Amerika. Aliran musik yang satu ini memiliki keunikan tersendiri yang terdapat pada komponen atau unsur musik yang dimilikinya, baik dari lirik, nada, dan ritme.

Pada umumnya musik Jepang tidak menggunakan teknologi auto-tune sehingga membuat para penyanyi memiliki keunikan atau ciri khas suaranya tersendiri, jadi jangan heran jika suara aslinya tidak akan berbeda dengan suara yang kita dengarkan pada platform musik. Hal itu dikarenakan industri musik Jepang memiliki kebijakan tersendiri mengenai hal ini. Selain penggunaan auto-tune, J-Pop juga jarang menggunakan musik elektro yang membedakan dengan aliran musik lainnya.

Di negara Indonesia tersendiri, mungkin eksistensi untuk aliran musik yang satu ini tidak terlalu populer terutama dibandingkan dengan aliran musik Korean Pop atau yang lebih akrab disebut dengan K-Pop yang sama-sama berasal dari Asia. Bahkan sudah tidak mengherankan jika anak muda terutama kaum perempuan di Indonesia sangat begitu tertarik dengan aliran musik K-Pop dibandingkan dengan J-Pop. Bahkan salah satu sumber media sosial yaitu Twitter menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan fanbase K-Pop terbesar.

Jika penulis telaah, salah satu hal yang menjadi faktor kurangnya peminat J-Pop dibandingkan dengan K-Pop terutama di negara Indonesia adalah terdapatnya perbedaan dalam hal promosi. Di mana lagu-lagu Jepang cenderung menerapkan pembatasan region dalam promosinya, seperti pada media platform YouTube, Spotify, dan Joox yang mengakibatkan beberapa lagu hanya tersedia atau dapat diakses di wilayah Jepang aja.

Hal demikian tentu berbeda dengan kebijakan promosi kebudayaan Korea termasuk K-pop yang lebih bebas dan leluasa mempromosikan ke seluruh penjuru dunia. Baik melalui media cetak, internet, maupun media massa. Sehingga tidak mengherankan jika kita sering melihat hal-hal yang berbau Korea di sekitar kita.

Walaupun demikian, hal tersebut tidak dapat menjadikannya tolak ukur bahwa aliran musik J-Pop tidak digandrungi oleh masyarakat Indonesia terutama dari kalangan anak muda.

Hal tersebut dikarenakan salah satu media dalam mempopulerkan musik Jepang adalah melalui soundtrack dalam anime maupun film Jepang yang ditayangkan di Indonesia, baik yang ditayangkan melalui bioskop maupun televisi.

Contohnya saja pada salah satu film live action Rurouni Kenshin: The Final/The Beginning yang soundtracknya diisi oleh band asal Jepang yang telah mendunia yaitu One Ok Rock atau dalam film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie: Mugen Train yang soundtracknya diisi oleh salah satu penyanyi wanita asal Jepang yang populer yaitu LiSA, dengan judul lagunya yaitu Homura () yang sangat populer sejak penayangan film tersebut hingga dicover oleh beberapa penyanyi bahkan Youtuber termasuk yang berasal dari Indonesia.

Dapat dikatakan bahwa, meskipun J-Pop di Indonesia kurang populer dibandingkan dengan aliran musik lainnya, aliran musik yang satu ini memiliki pasar tersendiri bagi para penikmat jejepangan di Indonesia. J-Pop masih sering hadir dan diperdengarkan ketika ada festival seni Jepang di Indonesia, seperti pada Festival Ennichisai Little Tokyo atau yang lebih dikenal dengan Ennichisai Blok M, merupakan festival Seni dan Kuliner Jepang berskala dunia yang diselenggarakan setiap tahunnya di Blok M, Jakarta semenjak 2010 silam.

Bahkan beberapa Universitas di Indonesia juga rutin menggelar festival Jepang sebagai salah satu acara tahunan kampus. Seperti Jiiyu Matsuri yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Jakarta, Akiba no Kaze oleh Universitas Negeri Semarang, MangaFest oleh Universitas Gajah Mada, yang turut menampilkan band-band lokal yang ikut meramaikan acara dengan menyanyikan lagu-lagu hits Jepang.

Tak jarang pula menghadirkan penyanyi dari luar negeri, seperti MindaRyn yang tampil pada acara Japan Culture Daisuki Festival yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2018 silam.

Dengan demikian dapat menjadi sebuah penilaian bahwa eksistensi kepopuleran J-Pop di Indonesia sebenarnya masih memiliki daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya terutama di kalangan anak muda yang masa kecilnya ditemani oleh kartun animasi atau anime Jepang seperti Captain Tsubasa, Doraemon, One Piece, maupun Naruto yang memiliki soundtrack lagu yang begitu membekas pada ingatan para penontonnya.

Kualitas musik Jepang yang tidak kalah saing dengan aliran musik lainnya tentu membuat J-Pop tidak padam begitu saja dan kehilangan penggemarnya. Hanya saja selera musik setiap orang tentu berbeda-beda.

Jika kamu ingin mulai mencoba mendengarkan musik Jepang, cobalah dengan mendengar musik yang familiar atau yang sering kamu dengar, seperti pada soundtrack anime atau film Jepang favorit kamu misalnya. Penulis sendiri merekomendasikan grup band seperti One Ok Rock, Back Number, Given, Radwimps, Official Hige Dandism atau kamu juga dapat mendengarkan lagu-lagu yang berasal dari penyanyi terkenal seperti Kenshi Yonezu, LiSA, Masaki Suda yang karyanya telah populer diperdengarkan pada platform YouTube.