Seorang tenaga pendidik (pengajar) seyogyanya memiliki peran teramat mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa. Tanggung jawab mengajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan untuk para murid adalah kemuliaan.

Dengan segudang tugas penuh amanah, guru menjadi salah satu pahlawan penting dalam menyongsong perubahan lintas generasi. Tenaga kependidikan punya tempat strategis pada upaya pembangunan bangsa. Oleh karena itu, standar kemampuan profesional profesi pendidikan mutlak menjadi kebutuhan dalam konteks memainkan peran fundamental dunia kependidikan.

Nyatanya, pada era modern seperti sekarang, Guru sebagai komponen SDM pengajar profesional harus memiliki tingkat profesionalisme di lingkup keahlian masing-masing, punya kreatifitas, mampu bersaing, berwawasan luas. Kesekian komponen tersebut sesuai fakta memanglah harus dimiliki agar level kemampuan guru punya kredibiltas sehingga memiliki kekuatan untuk bersaing di zaman serba ketat ini.

Tantangan Pengembangan Profesi Guru

Dilansir dari buku karya Prof. Tukiran Taniredja (2016) berjudul ‘Guru yang Profesional’, usaha membentuk tenaga pengajar profesional adalah kepentingan nyata dan bukan sekedar formalitas belaka. 

Pekerjaan membentuk sosok tenaga kependidikan berlabel kompeten diakui menjadi pekerjaan besar dan berat. Ada beberapa tantangan cukup ikhwal yang harus dihadapi guru dalam rangka pengembangan profesinya.

Berdasarkan kenyataan, profesi guru mengalami desakan kebutuhan masyarakat dan sekolah akkan keberadaan guru, hal tersebut menyebabkan tidak adanya perlindungan dari oknum kurang kompeten yang menjadikan profesi guru sebagai pekerjaan dadakan tanpa memperhatikan latarbelakang keahlian.

Semisal bisa dibuktikan karena kurangnya guru di pedalaman, banyak orang dari berbagai latarbelakang pekerjaan bisa beralih profesi menjadi guru untuk mengisi slot kosong di sana.

Ditambah penambahan guru secara besar-besaran membuat standar kompetensi dan mutu sulit dikendalikan, sehingga timbul anggapan tidak penting membahas tingkat profesionalisme guru di tengah desakan yang semakin kompleks.

Tuntutan dan harapan publik melahirkan paradigma tuntutan baru terhadap peran yang seharusnya dimiliki tenaga pendidik. Atas hal itu, keinginan penambahan kemampuan guru  selalu bersaing ketat dengan terus meningkatnya harapan masyarakat yang terkadang melaju lebih cepat dari kemampuan pihak guru dalam masa upgrade skill mereka.

Masalah bisa saja muncul bilamana harapan atas profesionalitas guru sulit tercapai sesuai ekspetasi. Permasalahan lain yakni adanya klaim pendidikan merupakan mesin penggerak utama pembangunan yang bisa menimbulkan kepercayaan berlebih di kalangan profesi kependidikan sendiri. Sehingga akibatnya profesi kependidikan tidak mau membuka telinga untuk mendengar dan memahami kebutuhan rill di masyarakat.

Zamroni (2003) punya analisis bahwa profesi pendidikan kita sedang dilebur badai krisis kepercayaan an legitimasi. Ketimpangan itu disebabkan oleh tiga hal, antara lain adalah guru yang tidak efektif, jalur menempuh langkah profesional yang keliru, dan semakin jauhnya guru dengan pedoman nilai maupun norma profesi.

Pentingnya Membangun Kompetensi Profesi Guru 

Kompetensi guru adalah kemampuan dalam melaksanakan kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Di dalam Undang-Undang (UU) Negara Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 dijelaskan, ketentuan kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan aspek perilaku yang dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru pada khususnya dalam amanah menjalankan tugas keprofesionalnya.

Macam-macam kompetensi guru nyatanya dapat dibangun melalui empat aspek inti yang harus dimiliki seorang tenaga pendidik. Pertama, Kompetensi profesinal salah satunya dibutuhkan guru dalam penguasaan materi ajar secara luas dan mendalam yang memungkinkan mendukung kemampuan membimbing peserta didik dalam memenuhi standar kompetensi yang diperlukan.

Kedua, Kompetensi pedagogik. Adalah ilmu dalam mendidik, ilmu tersebut mencangkup didaktik dan metodik. Kemampuan pedagoik seorang guru dalam kemahiran mengelola proses pembelajaran yang didasarkan pada ilmu mendidik.

Kompetensi ini menurut penjabaran Mulyasa (2007), seperti dikutip dari buku Guru Profesional, menjelaskan kemampuan pedagogik guru dalam mengelola pembelajaram meliputi aspek pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, kemampuan guru memahami peserta didik, pengembangan kurikulum, kemampuan perancangan pembelajaran, maupun pemanfaatan teknologi sebagai pendukung pembelajaran.

Ketiga, Kompetensi Kepribadian. Menurut penjelasan Pasal 28 ayat 3  butir b Standar Nasional Pendidikan (SNP) , merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa sehingga bisa menjadi teladan untuk peserta didik.

Kepribadian guru dalam dunia kependidikan vital keberadaannya, jadi guru dituntut memiliki kompetensi kepribadian  yang mumpuni, bahkan kompetensi tersebut akan menjadi landasan untuk tercapainya kompetensi-kompetensi pendukung lainnya.

Kompetensi kepribadian mencangkup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral, disiplin, tanggung jawab, peka, objektif, luwes, dan kemampuan berkomunikasi.

Keempat, Kompetensi Sosial. Kompetensi ini menekankan tujuh poin yang harus dipenuhi agar seorang guru dapat berkomunikasi dan memiliki kemampuan bergaul di sekolah maupun masyarakat. Antara lain adalah punya pengetahuan tentang adat istiadat sosial maupun agama, memiliki pengetahuan tentang kebudayaan, pengetahuan tentang kehidupan demokrasi, pengetahuan tentang estetika, dan itikad apresiasi dan kesadaran sosial.

Jadi, berbagai macam kebutuhan peran maupun usaha dalam memajukan tingkat profesionalitas kompetensi guru mutlak harus dilakukan, serta harus dijadikan keutamaan dalam wadah mencetak tenaga pendidik profesional kemudian hari.