Derap langkah perlahan, postur tubuh yang tegap, serta raut wajah serius seolah menggambarkan keteguhan hati sepasukan prajurit yang berbaris pada suatu acara rutin yang diselenggarakan di Keraton Yogyakarta. Siang yang terik tidak mengendurkan semangat mereka dalam menjalankan ritual upacara.

Sikap serius dan khidmat yang mereka tunjukkan dalam acara tersebut menunjukkan besarnya kesetiaan yang mereka miliki. Kesetiaan dalam hal ini merujuk pada totalitas pengabdiannya terhadap keluarga kerajaan yang saat ini tengah berkuasa di Keraton Yogyakarta.                                     

Bagi sebagian besar warga masyarakat kota Yogyakarta, istilah grebeg bukanlah sesuatu yang asing. Grebeg atau Garebeg berasal dari kata “gumrebeg,” yang memiliki arti deru angin atau keramaian, yang ditimbulkan khususnya pada saat penyelenggaraan upacara. Dalam setiap upacara grebeg, keberadaan Bregada prajurit memiliki peran penting.

Upacara Grebeg biasanya diawali dengan munculnya barisan prajurit yang bertugas untuk mengawal gunungan keluar dari dalam keraton. Pasukan prajurit tersebut dinamakan sebagai bregada yang hingga saat ini jumlahnya mencapai sekitar 600 orang.

Lalu, apakah prajurit dan abdi dalem memiliki kedudukan dan tugas yang sepadan? Tentu saja, dalam sistem pemerintahan keraton, abdi dalem beserta prajurit memiliki kedudukan yang sama dan saling bekerja sama. Tidak sembarang orang dapat mencalonkan diri menjadi abdi dalem ataupun prajurit keraton.

Seorang abdi dalem atau prajurit keraton mensyaratkan figur yang berdedikasi tinggi. Menjadi seorang prajurit keraton atau abdi dalem adalah sebuah pengabdian yang didasari oleh panggilan hati.

Di samping harus mengabdi kepada keraton dalam jangka waktu yang lama dan tidak adanya kepastian dalam hal pemberian upah atau gaji, mereka harus memiliki dan memahami watak-watak luhur khas keraton. Watak-watak tersebut merupakan watak turun-temurun yang telah diwariskan semenjak Sultan terdahulu memimpin.

Hal tersebut mencermikan keautentikan yang dimiliki oleh keraton. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para prajurit keraton dan abdi dalem lebih banyak didominasi oleh kaum lanjut usia yang tergolong masih sehat.

Seperti halnya militer, prajurit keraton memiliki jabatan atau pangkat yang diukur dari tingginya kedudukan. Pimpinan tertingginya dinamakan sebagai Manggalayudha atau Komandhan/Kumendham.

Dalam pelaksanaan kinerjanya, Manggalayudha dibantu oleh seorang Pandhega atau Kapten ParentahPandhega bertugas untuk memimpin seluruh perwira dalam seluruh bregada keraton, kecuali Bregada Wirabraja dan Bregada Mantrijero.

Oleh karena itu, pada mayoritas kelompok prajurit keraton biasanya terlihat seorang Pandhega yang memimpin barisan terdepan dengan pakaian hitam bercorak emas dan batik. Keseluruhan kelompok prajurit keraton berjumlah 10 kesatuan.

Kesatuan prajurit keraton tersebut memiliki nama, antara lain Bregada Bugis, Bregada Surakarsa, Bregada Wirabraja, Bregada Dhaeng, Bregada Patangpuluh, Bregada Jagakarya, Bregada Prawiratama, Bregada Nyutra, Bregada Ketanggung, dan Bregada Mantrijero. Kesepuluh kesatuan prajurit memiliki kostum yang berbeda-beda.

Namun, terdapat persamaan kostum antara Bregada Patangpuluh dengan Bregada Jagakarya, Prajurit Ketanggung, dan Prajurit Mantrijero, yaitu menggunakan atasan bermotif lurik. Hal yang membedakan di antara persamaan kostum yang dikenakan oleh beberapa kesatuan bregada tersebut terdapat pada topi atau celana yang memiliki warna, bentuk, atau corak tertentu.

Nilai-nilai yang bersifat filosofis tentunya tidak lepas dari budaya yang dimiliki oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Keraton Yogyakarta. Hal tersebut ditunjukkan dari adanya makna filosofis pada tiap-tiap kesatuan bregada prajurit keraton yang direpresentasikan dalam panji-panji atau bendera, atau biasa disebut sebagai klebet yang dibawa oleh tiap kesatuan prajurit keraton.

Selain itu, dalam setiap acara parade, tiap prajurit membawa senjata sebagai pelengkap kostum, tentu dengan jenis-jenis yang berbeda, mulai dari tombak hingga senapan. Dengan berjalan lambat, mereka berusaha untuk mengikuti irama gending atau musik yang dimainkan oleh prajurit yang berada di depan barisan.

Yang menarik, masing-masing kesatuan mempunyai lagu pengiring parade yang berbeda. Pada awalnya, penulis sempat merasa bosan ketika menyaksikan upacara grebeg karena lambatnya langkah kaki para bregada prajurit. Maklum, kita sudah terbiasa melihat parade prajurit era modern yang serbacepat dan bergegas.

Namun, rasa bosan itu kemudian sirna dan berubah menjadi rasa takjub ketika penulis melihat rombongan prajurit mengawal gunungan yang dibawa dengan cara dipanggul oleh para abdi dalem. Para prajurit itu tetap berbaris dalam irama yang terjaga, meski mayoritas berusia tak muda lagi.

Dalam cuaca panas dan terik, mereka tetap berusaha membawa gunungan dari keraton menuju alun-alun dengan sikap khidmat, sambil tetap berusaha menjaga gunungan agar tidak terjatuh. Di samping itu, adanya beberapa bentuk gunungan yang terlihat cukup besar dan berat  menambah rasa kagum penulis akan keseriusan mereka dalam melaksanakan upacara grebeg.

Kesungguhan mereka dalam melaksanakan ritual tersebut tentu bukanlah sesuatu yang tumbuh secara tiba-tiba. Sikap itu adalah hasil dari proses penghayatan nilai-nilai luhur yang mereka warisi secara turun-temurun. Hal tersebut menyadarkan penulis bahwa kebudayaan perlu dilestarikan dari hal kecil terlebih dahulu.

Salah satu contohnya adalah berlaku serius dan sungguh-sungguh dalam pelaksanaannya. Perlu komitmen kuat untuk selalu menjaga kesakralan upacara Grebeg Besar, seperti yang dilakukan oleh pihak Keraton Yogyakarta dari tahun ke tahun, agar bisa bertahan hingga saat ini.   

Di samping kesakralan yang dimiliki oleh upacara tersebut, penulis menemukan keautentikan yang terkandung di dalamnya. Walaupun telah tergerus zaman yang sering kali menghendaki adanya perubahan, upacara Grebeg Besar tetap terjaga orisinalitasnya.

Dari dulu hingga sekarang tetap sama tata laksananya, mulai dari urutan rombongan barisan prajurit yang memiliki makna filosofis yang berbeda, hingga pakaian yang dikenakan. Selain itu, susunan serta konstruksi gunungan yang digunakan seolah menolak adanya perubahan.

Eksistensi pasukan prajurit keraton yang mengawal upacara grebeg seolah menggambarkan keteguhan para pemangku kebudayaan dalam lingkup keraton untuk selalu menjaga kelestarian budayanya. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa Upacara Grebeg di Keraton Yogyakarta adalah sebuah peristiwa budaya autentik.

Upacara tersebut selalu menjaga kelestariannya dari masa ke masa. Meski telah jauh melewati berbagai zaman, dengan elegan ia tetap bisa memperlihatkan eksistensinya.

Satu hal yang mungkin telah berubah, yaitu atmosfir di sekitarnya yang telah terkepung pekatnya aroma komersialisme, dengan jejalan manusia yang makin menyesaki area upacara.