Berdirinya Dinasti Abbasiyah tidak lepas dari peran Abu Muslim Al-Khurasani yang memecahkan revolusi besar dalam sejarah Islam dengan runtuhnya Dinasti Umayyah. Ahli sejarah Barat memanggil Abu Muslim Al-Khurasani dengan sebutan Great Revolution In Islam. Di samping Abu Muslim Al-Khurasani, Abdullah Al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Al-Abbas yang merupakan tokoh utama meruntuhkan Dinasti Umayyah dengan melancarkan propaganda dan keberhasilannya dalam merebut hati simpatisan untuk memerangi Dinasti Umayyah. 

Akhirnya, Abdullah Al-Saffah berhasil meraih kemenangannya dalam memerangi Dinasti Umayyah. Kemudian, Abdullah Al-Saffah mendirikan Dinasti Abbasiyah untuk menggantikan Daulah Bani Umayyah dan ia dilantik menjadi khalifah pertama dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 M. 

Nama Dinasti Abbasiyah dinisbatkan dari Abbas bin Abdul Muthalib karena para penguasa Dinasti Abbasiyah merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul Muthalib yang mana beliau merupakan paman Nabi Muhammad SAW. Abdullah Al-Saffah memiliki julukan yaitu Al-Saffah yang berarti penumpah darah yang disampaikannya pada saat khutbah pelantikan beliau sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah di Masjid Kuffah. 

Beliau menyebut julukan Al-Saffah karena berusaha dengan penuh tenaga membasmi Bani Umayyah dengan kekuatan pedangnya. Dengan kemenangan yang ia dapatkan, Abdullah Al-Saffah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahnnya. Kekuasaan Abdullah Al-Saffah berlangsung pada tahun 132-136 H atau 749-754 M.

Pemerintahan dinasti Abbasiyah pada awalnya dibangun oleh Abu Abbas dan Abu Dja’far al Mansyur yang merupakan saudaranya. Dinasti Abbasiyah telah mencapai zaman keemasan setelah berada di bawah kekuasaan tujuh khalifah setelah mereka. Ketujuh kholifah tersebut adalah Al Mahdi (775 M. - 785 M.), Al Hadi (785 M. - 786 M.), Harun al Rasyid (786 M. – 809 M.), Al Ma’mun (813 M. – 833 M.), Al Mu’tasim (833 M. – 842 M.), Al Wasiq (842 M – 847 M), dan Al Mutawakil (847 M. – 861 M.). Dinasti Abbasiyah mencapai pada zaman keemasan (The Golden Age) pasa periode 132 H/750 M. – 232 H./847 M. 

Pada masa Dinasti Abbasiyah, umat Islam telah mencapai titik kemuliaan, baik dalam bidang kekuasaan, ekonomi, dan peradaban. Begitu pula dengan eksistensi ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dengan pesat. 

Popularitas pemerintahan Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada saat pemerintahan berada di bawah kekuasaan Khalifah Harun Al-Rasyid dan puteranya Al-Ma’mun. Kejujuran, keihlasan, kebenaran, keadilan dan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan yang sangat tinggi menjadi landasan pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid sehingga umat Islam berada pada titik kemuliaan. 

Sosok Harun Al-Rasyid bisa digambarkan melalui kebijakan yang ia buat dalam sistem pemerintahannya sebagai pemimpin yang jujur dan adil sehingga ia bisa menjadikan pemerintahannya berada di titik kejayaan. Dalam masa pemerintahannya ia selalu didampingi oleh penasihatnya yaitu Abu Nawas yang merupakan seorang penyair yang dikenal dengan kekocakannya dalam bersyair. Namun, sebenarnya Abu Nawas merupakan seorang ahli hikmah atau filsuf etika. Zaman keemasan yang telah dicapai Dinasti Abbasiyah digambarkan dalam kisah 1001 malam sebagai negeri penuh keajaiban.

Kemajuan yang diraih pada masa Dinasti Abbasiyah terdapat dalam berbagai bidang. Namun, pada pembahasan kali ini penulis akan membicarakan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi. 

Pada era Dinasti Abbasiyah terdapat pembagian ilmu dan penulis muslimin membedakan ilmu menjadi dua, yaitu ilmu naql dan ilmu akal. Ilmu Naql adalah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi beberapa cabang keilmuwan yang meliputi Ilmu Qiraat, Tafsir, Ilmu Hadits, Fiqh, Ilmu Kalam, Nahwu, Bahasa, Bayan dan Adab (kesusatraan). Sedangkan ilmu aqli (akal) adalah ilmu yang diperoleh orang Arab dari bangsa non Arab. Ilmu aqli menjadi beberapa cabang keilmuwan yang meliputi geografi, matematika, astronomi, kimia, filsafat, sihir, sejarah, teknik, ilmu astrologi, musik, kedokteran dan seni arsitektur.

Pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah, kota Baghdad yang merupakan ibu kota negara menjadi pusat ilmu pengetahuan dan perdagangan yang sangat pesat. Data yang diambil dalam sejarah membuktikan bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dibangun sebuah perpusatakaan yang digunakan sebagai pusat telaah ilmu pengetahuan dan sebagai tempat untuk mendiskusikan ilmu pengetahuan yang diberi nama Baitul Hikmah yang artinya gedung ilmu pengetahuan. 

Para sejarawan menilai bahwa pemerintahan pada masa khalifah Harun Al-Rasyid benar-benar menempati derajat yang tinggi dalam hal peradaban dan kebudayaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan sains pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah selain gemilang pada masa khalifah Harun Al-Rasyid, juga mencapai kejayaan pada masa khalifah Al-Ma’mun (813-833 M) yang merupakan putera dari khalifah Harun Al-Rasyid. 

Jasa-jasa khalifah Al-Ma’mun juga sangat besar pada dunia sains dan ilmu pengetahuan, sehingga ia menempatkan masa pemerintahannya di puncak kegemilangan. Al-Ma’mun mengumpulkan berbagai pengetahuan asing kemudian ia memerintahkan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Pada zaman tersebut muncul para filosof-filosof Arab yang sangat pada masing-masing keahlian ilmu, diantaranya Yahya ibn Haris Az Zamari (ahli qiraat), Abdullah ibn Abbas (ahli tafsir), Imam Bukhari (ahli hadits), Imam Syafi`i (ahli fiqh), Hujjatul Islam Imam Gazali (ahli ilmu kalam), Al-Mubarrad pengarang kitab Al Kamil (ahli ilmu nahwu), penyair Abu Nawas (ahli kesusastraan), Ibn Khurdadbih (ahli geografi), Imran ibn Al Wadhdhah (ahli matematika), Abu Rayhān al-Biruni (ahli astronomi), Jabir ibn Hayyan (ahli kimia), Al-Kindi (ahli filsafat), dan Ibn Muqaffa (ahli sejarah).

Kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, teknologi juga berkembang dengan sangat pesat. Pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah mencatat penemuan-penemuan dan inovasi yang sangat berarti bagi manusia hingga saat ini. 

Salah satunya adalah pengembangan teknologi pembuatan kertas. Kertas pertama kali ditemukan dan digunakan sangat terbatas tetapi berhasil dikembangkan oleh umat Muslim Abbasiyah. Setelah itu, kaum Muslimin mengembangkan teknologi pembuatan kertas tersebut dan mendirikan pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad. 

Selain itu, teknologi berkembang dengan pesat dalam bidang kedokteran. Pada masa khalifah Abu Ja’far Al-Manshur terdapat seorang ahli kedokteran yaitu  Ibn Bakhtisyu seorang kepala rumah sakit Jundisyapur penganut Kristen Nestor. Beliau pada masa khalifah Harun Al-Rasyid mahir dalam ilmu jiwa dalam menentukan penyakit neurotis dan pengobatannya. 

Para ahli kedokteran semakin bertambah hingga sampai pada masa khalifah Al-Watsiq, diantaranya Ibn Bakhtisyu, Ibn Musawaih, Mikhail dan Hunyn ibn Ishaq. Khalifah Al-Watsiq meminta Hunyn ibn Ishaq untuk menyusun sebuah buku yang menjelaskan tentang perbedaan makanan, obat, laktasit, anatomi tubuh, racun dan obat pelunturnya. Hingga akhirnya tercipta buku yang berjudul The Book of Physical Cases. Terdapat juga ahli farmasi Koehen Al Attar Al Yahudi menyusun buku Sinah`ah As Saidalah yang menjelaskan cara membuat obat yang diminum, ditelan, berbentuk serbuk dan tablet. 

Selain dalam bidang kedokteran juga terdapat kemajuan dalam seni dan arsitektur yang berkembang pesat pada masa Abu Ja`far Al-Manshur, seperti dekorasi kubah dari emas dan di atasnya terdapat patung yang bisa berputar jika tertiup angin. Pada masa Dinasti Abbasiyah, bangunan-bangunan istana dijadikan media dalam menuangkan seni lukis dan dekorasi. Dekorasi pada masa ini memiliki ciri yaitu terbuat dari bahan gibs yang menutupi bagian bawah dinding istana, seperti penemuan pada reruntuhan kota Samara. Dalam teknik terkenal Al Hajjaj bin Ar Ta`ah yang membuat kaligrafi Masjid Raya Bagdad pada masa Abu Ja`far Al Manshur.

Catatan sejarah pada masa Dinasti Abbasiyah telah menunjukkan bahwa banyak sekali intelektual-intelektual muslim dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang terkenal hingga saat ini. Tidak dapat dipungkiri, penemuan-penemuan yang dilakukan intelektual-intelektual muslim pada masa Dinasti Abbasiyah telah menorehkan prestasi yang gemilang dan membangun peradaban Islam yang mencapai derajat kesuksesan. Kemajuan sains dan teknologi pada zaman modern ini, tidak bisa lepas dengan penemuan dan kemajuan sains dan teknologi pada kejayaan ilmu pengetahuan umat Islam, yaitu pada abad kejayaan Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang menjadi pelopor pengembenagan ilmu pengetahuan di dunia.