Ami datang menghampiriku, sambil memperlihatkan status seorang teman perempuan di media sosial WhatsAppa (WA) yang sedang memakai cincin berlian di jari manisnya. Ia teman perempuan kami, mbak Ana yang dalam fotonya menunjukkan jarinya yang berhiaskan cincin tadi dan diberi caption; Thx kadonya, Papi.

“Kak, ini pamer atau pansos?” Tanya Ami. “Pansos ya?” tanyanya lagi. Aku belum menjawab, aku sibuk memerhatikan status itu. Mbak Ana memang perempuan kaya, dia punya usaha peternakan. 

Saat ini, dia mau menikah, kado cincin berlian itu mungkin dari tunangannya yang juga kaya. Ini pamer atau pansos gak ya? Aku sibuk berpikir, pamer dan pansos sama saja menurutku, yang beda itu eksis.

BTW, panjat sosial atau pansos sedang ramai dibicarakan ini. Apa sih pansos itu?Kata “pansos” berawal dari istilah panjat sosial. 

Diksi ini diartikan sebagai usaha yang dilakukan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyau status sosial tinggi, dilakukan dengan mengunggah foto, tulisan, dan sebagainya di media sosial (Kbbi daring. Kbbi.kemdikbud.go.id. akses 27 Juni 2020).

Panjat sosial alias pansos juga tidak sesederhana penjelasan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB)I diatas  itu. Apalagi pansos sejak dulu ada. Dulu, orang tua kita melakukan pansos dengan mengaku-ngaku sebagai keluarga bangsawan, sebagai teman dekat si ini atau dan si itu, bahkan ketika ada seseorang yang sukses pun kita suka pansos.

Misalnya; “Saya anaknya Puang Aco.” (Kenapa juga kalau kamu anaknya puang Aco kalau tingkah lakumu tidak seperti puang Aco?). Di Mandar, Sulawesi Barat, gelar puang digunakan untuk menghormati orang yang dianggap punya status lebih dari orang lain.

Temanku itu Suri, sama ka sekolah.” (padahal, di sekolah dulu juga tidak akrab, sekolahnya sudah puluhan tahun yang sudah berlalu juga). 

Dan “Saya ji yang bawa itu anak ke Makassar kuliah, na’ jadi orang mi.” (padahal, bantuannya cuma mengantar kuliah ke Makassar, bukan yang membiayai pendidikannya sehingga sukses jadi sarjana). Dan lain sebagainya.

Sekarang, pansos paling banyak terjadi di media sosial (medsos). Kita sangat gampang alias mudah dan cepat mengunggah sesuatu seperti foto atau tulisan yang menurut kita paling keren untuk ditampilkan agar diliat banyak orang atau dikomentari.

Misalnya; "Alhamdulillah, mobil gue!" sambil berswa-foto dengan mobil baru.

“Gw lagi di Jakarta, nih.” (pakai logat ala-ala di Jakarta gitu).

“Kapan lagi bisa makan Pizza seenak ini?” (ada foto potongan pizza dengan topping yag beraneka ragam rasa). Dan lain sebagainya.

Siapa yang Tidak Mau Eksis?

Karena kita manusia, kita perlu eksis (kecuali, mungkin pertapa di gua sana yang tidak mau kelihatan, tidak mau eksis yang memang sudah jadi tugasnya mereka mendoakan dunia).  

Saat ini dimana orang sudah sangat mobile, kita memang harus segera bergerak, kita harus eksis di mana pun berada. Apalagi secara naluriah manusia juga ingin diakui dan dianggap memiliki identitas dan jati diri.

Eksis bisa jadi menunjukkan tanda jati diri kita, merek atau brand kita. Bagiku, sah-sah saja kita pansos asal dibarengi prestasi. Misalnya; orang dulu yang pansos dengan mengatakan, “Saya anak puang Aco yang meneruskan kegiatan berkesenian turun-temurun di desa A.” 

Atau “Saya temannya Suri, dulu di sekolah 11-12 ka itu bergantian selalu rangking 1.” Atau “Sama itu anakku dengan Rahmah ke Makassar untuk kuliah, satu organisasi mahasiswa ki juga, itu mi mereka selalu dikirim ke Jawa untuk ikut forum.” Dan sebagainya.

Kan’ begitu lebih enak dengarnya! Tidak asal ngomong, apalagi mengaku-ngaku tanpa adanya usaha, kegiatan yang mendukung bersama. 

Yah, prestasi tadi. Tapi, pengakuan ini bukan hanya sekedar mengaku-ngaku karena orang yang mengaku-ngaku adalah orang yang butuh atau ingin pengakuan.

Jika hari gini berpansos di media sosial sebaiknya; “Alhamdulillah, akhirnya, aku bisa mobil dengan usaha sendiri ini.” (karena punya bisnis misalnya, atau karena sudah dapat banyak dari atau dan sebagai gojek on-line). 

“Gw lagi di Jakarta, nih. Ikut Sekolah anti Korupsi.” (karena sudah buat tulisan terbaik dan terpilih untuk ke Jakarta). 

“Kapan lagi bisa makan Pizza seenak ini? kalau bukan karena ditraktir teman yang ulang tahun.” (ini juga prestasi, prestasi bisa dapat anugerah makan gratis he he…). Dan lain sebaginya.

Self-Reminder 

Ada kata orang tentang unggahan kita di medsos. Jika kita terlalu, kelewatan pansos, kita hanya ingin, mau viral saja. Yah, kembali lagi, ketika kita posting-posting, atau unggah-mengunggah sesuatu tadi memang harus ada niat baik di sana selain karena prestasi tadi. 

Ada kejujuran, kebenaran, dan kepercayaan diri mengungkapkan tentang diri kita yang apa adanya sekaligus berbagi kegembiraan pada orang-orang tentang diri kita atas sesuatu hal.

Intinya, bangga jadi yang terbaik, yang ditampilkan dari dirimu apa adanya. Bangga tanpa prestai ya percuma juga. Tapi, juga kita perlu berhati-hati dan waspada karena tidak semua orang suka sama unggahan, dan posting kita yang keren gitu. 

Mungkin bisa mengakibatkan orang jadi iri hati, cemburu, bahkan mem-blokirmu. Pastinya, ini juga menjadi self-reminderku juga yang rajin nyetatus apapun, karena ingin eksis.

Semoga kita semua bisa mengambilnya sebagai pelajaran. Jika belum puas dengan tulisan ini, ada baiknya kita mencari orang yang tepat. Silahkan mencari orang atau tempat bertanya. Misalnya; psikolog atau konselor (Bimbingan Konseling).

Baiklah, aku sudahi tulisanku kali ini karena habis ini, aku mau unggah di medsos, “buku baruku dulu ya, sambil promosi gitu”. 

Asal jangan mengunggah seperti cem-cemanku yang memposting fotonya dengan perempuan tanpa caption apa-apa, entahlah, perempuan itu siapa? Dan apa maksudnya coba? Hua-hua-hua hikz bikin nangis aja….

LA, 27 Juni