Le Mans 1959, Carroll Shelby (Matt Damon) memacu Aston Martin di tengah kegelapan. Sekalipun punggungnya sempat terbakar, ia bersikeras melaju menuju garis akhir. Tidak percuma, ia menjuarai 1959 24 hours of Le Mans. Namun, karier sebagai pembalap harus berhenti di situ. Ia divonis menderita gangguan jantung.

Detroit 1963, Lee Iacocca (Jon Bernthal), wakil presiden Ford Motor Company, mengusulkan membeli Ferrari pada Henry Ford II (Tracy Letts). Penjualan Ford saat itu sedang menurun. Henry Ford II, cucu pendiri perusahaan dan inventor mobil, marah besar.

Lee mengajukan proposal ambisius untuk mendongkrak pemasaran. Ford harus berpartisipasi pada balapan 24 jam di Le Mans, Prancis. Oleh karena membutuhkan waktu lama untuk mendesain mobil balap juara, Lee merekomendasikan Ford agar membeli Scuderia Ferrari.

Kebetulan, pada saat itu, Scuderia Ferrari sedang kesulitan uang. Mereka terlalu boros berkonsentrasi mendesain mobil balap hebat. Walaupun hasilnya memang mereka sering juara. Transaksi antara Ford dan Enzo Ferrari (Remo Girone) tampaknya berjalan lancar.

Namun pada tahap akhir, Enzo Ferrari malah bersepakat dengan FIAT. FIAT menyodorkan tawaran yang lebih menguntungkan dan tetap mengizinkan Enzo memiliki Scuderia Ferrari. Marah besar akibat terhina oleh Enzo Ferrari, Henry Ford II memutuskan merancang mobil balap sendiri.

Demi harga diri, Henry menargetkan Ford harus menjuarai balapan Le Mans untuk mengalahkan Ferrari. Dalam waktu singkat dengan biaya berapa pun. Demi mewujudkan ambisi atasannya, Iacocca mempekerjakan Shelby American. Perusahaan mobil balap kecil yang dimiliki Carroll Shelby. 

Shelby kemudian merekrut Ken “Bulldog” Miles (Christian Bale). Ken adalah mantan tentara Inggris veteran Perang Dunia II yang menjadi pembalap andal. Namun temperamen yang gampang meledak telah menyulitkannya. Bengkel yang dikelola Ken bangkrut. Keuangan rumah tangganya dalam masalah.

Shelby dan Ken Miles bersama mekanik lain merancang Ford GT40 Mk I. Setelah melalui berbagai uji coba dan memperbaiki cacat desain prototipenya, mobil tersebut siap diluncurkan. Namun menjelang seri kompetisi Le Mans tahun 1964, Ford memutuskan menunjuk Phil Hill dan Bruce McLaren (Benjamin Rigby).

Ford tidak menyukai Ken Miles dengan alasan temperamen yang bertentangan dengan kultur perusahaan. Tanpa Ken Miles, dua pembalap Ford tersebut gagal memenangkan seri Le Mans 1964. Tepat seperti yang sudah diduga Shelby sebelumnya. Henry Ford merasa dipermalukan setelah kekalahan ini. Namun Shelby berhasil meyakinkan prospek cerah mobil balap Ford. Untuk itu ia meminta otoritas penuh.

Shelby dan Ken Miles segera merancang GT40 Mk II. Namun ternyata, Ken hampir terbunuh saat percobaan. Sementara Shelby terlibat politik kantor bersaing dengan Leo Beebe, wakil presiden senior Ford. Beebe berusaha menyingkirkan Ken Miles dari proyek.

Shelby meyakinkan Henry Ford II dengan taruhan bila Ken Miles memenangkan balapan 24 hours of Daytona, maka Ken yang akan dikirim mengikuti 24 hours of Le Mans. Ternyata di Daytona, Shelby dan Ken Miles harus “berkompetisi” juga melawan Beebe.

Namun akhirnya, Ken Miles memenangkan seri Daytona. Ken Miles, bersama tim Shelby, pun akhirnya berlaga di 24 hours of Le Mans tahun 1966. Pada putaran pertama, pintu mobil Miles sempat bermasalah. Mampukah Ken Miles dan CarrollShelby memenangkan Le Mans? Akankah Henry Ford berhasil mempermalukan Enzo Ferrari? 

Ford vs Ferrari (FvF) tipe film berbiaya besar yang menarik. FvF menyajikan tontonan spektakuler. Film ini sangat berhasil untuk menyenangkan banyak orang. Sensasi desingan suara, pecahan kepingan bagian mobil balap yang terbang di layar, berikut gesekan lomba adu kecepatan mobil sangat mengesankan

Plot pelintiran di bagian tengah-akhir film cukup menarik. Terutama bagi penonton yang belum membaca sejarah balapan 24 hours of Le Mans 1966. Di tengah antusiasme euforia yang berhasil dibangun dari awal sampai bagian tengah, babak tengah-akhir FvF memelintir semuanya.

Namun FvF terasa sangat maskulin sekali. Maskulinitas dalam film ini tersurat dalam persaingan antarkarakter keras, angkuh, dan ambisius. FvF juga dipenuhi intrik. Friksi antara Leo Beebee dan Carroll Shelby, misalnya, menampilkan politik kantor.

Dari aspek drama, FvF terasa kering. Kisah humanistis yang sebenarnya bertebaran di antara para tokoh tidak diperdalam. Bagaimana motivasi Ken membalap terbentuk? Bagaimana dampak pensiun dini Carrol Shelby pada kariernya sebagai pencipta mobil balap?

Potensi pertentangan aspek manusiawi melawan ambisi perusahaan tidak tergali maksimal. Padahal friksi antara Carroll Shelby, Ken Miles, dan Leo Beebe memungkinkan sisi humanistik dalam film disajikan di tengah dominasi adegan-adegan maskulin.

Semua hanya ditampilkan hitam-putih antara penjahat dan pahlawan. Boleh dibilang, Ford vs Ferrari hanya sebatas menampilkan kisah heroisme dua pahlawan Amerika melawan kompetitor asing di sirkuit balap.

Peran Mollie (Caitriona Balfe) dan Pete (Noah Jupe) pun hanya sebatas pendukung bagai “cheerleader”. Peran mereka sebagai istri dan anak Ken Miles tidak digali lebih dalam. Pete hanya digambarkan sangat mengidolai ayahnya.

Potensi pengaruh Mollie dan Pete pada performa “gila” Ken di sirkuit sebetulnya sangat besar untuk dideskripsikan. Tapi naskah yang ditulis trio Jeff Butterworth, John-Henry Butterworth dan Jason Keller hanya berfokus pada bagaimana Ken menginspirasi Pete dan Mollie menjaga kewarasan Ken.

Matt Damon bermain sesuai standar aktingnya sebagai Carroll Shelby. Karakter mantan pembalap dan manajer ambisius, bisa meledak kemarahannya, tapi sekaligus mampu mengelola diri berhasil ditampilkan Damon. Citra pria maskulin yang tenang dan ambius benar-benar bersinar dalam tampilan Damon.

Peran Christian Bale sebagai Ken Miles juga memukau penonton. Bale berhasil menyajikan karakter impulsif, pemarah, sulit dipahami sekaligus jenius dan penyayang keluarga. Kualitas akting Bale berhasil mengimbangi Damon. Ken yang urakan dan eksentrik sukses menjadi komplementer bagi Shelby.

Relasi kimiawi antara Matt Damon dan Christian Bell memikat penonton. Penonton akan teryakinkan pada persahabatan Shelby dan Ken sebagaimana yang ditampilkan Damon dan Bell. Harapan penonton melihat hubungan persahabatan dua orang laki-laki ambisius dan brilian akan dipenuhi Damon dan Bale.   

Sebagai tontonan, FvF sangat menghibur. Film ini berhasil menyajikan ketegangan sirkuit balap mobil dan friksi maskulin di antara karakternya. FvF membayar lunas harapan penonton pada tontonan yang membangkitkan adrenalin.

Namun, film ini gagal menyajikan aspek manusiawi yang lebih mendalam dari sebuah kompetisi sengit. Aspek manusiawi hanya disajikan sebagai tempelan.