Quasi-state merupakan entitas politik yang tidak mewakili negara berdaulat, namun sepenuhnya sudah sempurna dilembagakan atau memiliki otonom untuk berdikari. 

Dengan otonomi dan kedaulatannya, quasi-state dapat melakukan beberapa kontrol atas teritorial atau wilayah tertentu. Quasi-state tidak memiliki kohesi kelembagaan yang sempurna, namun bisa menciptakan kontrol regional.

Quasi-state adalah jembatan emas bagi para pembebas. Dengan memiliki quasi-state, para pembebas mempunyai sarana dan kesempatan besar untuk menciptakan negara berdaulat penuh yang diakui dunia internasional.

Apa sebenarnya quasi-state itu? Legal atau ilegalkah? Beberapa poin di bawah ini akan memberikan gambaran tentang quasi-state.

1. Lebih berwibawa dari kata “pseudo”

Istilah leksikal quasi-state di KBBI tentunya hanya menyediakan kata “kuasi” dari adaptasi “quasi” yang diartikan sebagai: hampir seperti; seolah-olah. Lebih ringan dari “pseudo” (semu).

Kamus lainnya seperti Oxford, setali tiga uang, hanya pada kata “quasi” dengan makna: that appears to be something but is not really so. 

Untuk itu, rujukan langsung laman-laman populer yang tentunya lebih luas dan up to date. Khususnya dalam urusan istilah derivasional yang gramatikal. Seperti pengertian pada laman GSDRC.org.

Laman tersebut memberi makna: quasi-states are part of a more general process of self-determination which has affected domestic as well as international politics, rooted in Western egalitarianism.

Nyata sudah bahwa quasi-state adalah bentuk deliberasi entitas politik untuk menentukan nasib sendiri berbasis egalitarian.

2. Berpadan kata dengan “proto-state”

Quasi-state mempunyai padanan dengan "proto-state" telah lama digunakan dalam konteks Yunani Kuno. Istilah untuk merujuk pada fenomena pembentukan negara yang besar dan kohesif akan sering didahului oleh bentuk-bentuk kenegaraan yang sangat kecil dan longgar.

Seperti era Yunani Kuno ketika Athena awalnya adalah negara quasi (quasi-state) yang lemah. 

Kemudian berkembang menjadi entitas politik yang lebih besar dan lebih terpusat. Sebagian besar negara quasi (quasi-state) adalah produk konfederasi komunitas yang terjadi dalam waktu relatif singkat yang disatukan di bawah sebuah kekuatan dan satu kendali yang berwibawa.

3.  Final di city-state

City-state atau negara-kota merupakan salah satu hasil bentukan pertama dari akumulasi quasi-state yang sudah mempunyai wewenang dan keabadian institusional dan diakui internasional. Keadaan konfederasi singkat bisa dipicu banyak faktor, salah satunya ekonomi yang lemah.

Faktor lainnya seperti romantisisme sejarah dan budaya. Seperti kasus Sunda Empire dan sejenisnya merupakan semangat quasi-state yang berbasis romantisme sejarah dan budaya.

4. Produk Disintegrasi

Quasi-state juga diberikan kepada daerah yang memisahkan diri dari negara lain. Quasi-state mendapatkan kontrol de facto atas wilayah yang mereka klaim. Ada yang berhasil mendapat pengakuan internasional, ada pula yang gagal.

Kecenderungan terbentuknya quasi-state yang berbasis kelemahan ekonomi dari sebuah kekuasaan utama yang legal atau negara atau jenis pemerintahan lainnya, bisa saja mencapai tingkat keabadian institusional dan wewenang.

Quasi-state dapat terlibat dalam perdagangan eksternal, pasar gelap serta menyediakan layanan sosial. Dan, bahkan melakukan kegiatan diplomatik terbatas. 

Negara-negara proto atau quasi-state ini biasanya dibentuk oleh gerakan-gerakan yang diambil dari minoritas etnis atau agama, atau gerakan pemikir yang terkonsentrasi secara geografis, dan karenanya merupakan bentuk umum dari konflik sipil antar-etnis.

5. Subur di negara yang berbasis sosial “imagine community

Kelemahan ekonomi sebuah negara memicu anarko dengan tingkat chaos dan riot yang variatif. Dengan meminjam istilah Benedict Andersson, yang masuk dalam kategori “Imagined Community”, adalah negara yang terbentuk dari berbagai macam suku bangsa dan berbaur menjadi satu kesatuan negara (state).

Quasi-state subur dengan multi-etnis dan rawan gesekan antar-etnis yang akhirnya akan menimbulkan chaos. Apalagi dipicu lagi dengan kelemahan dan ketimpangan perekonomian.

 6. Negara absen ala Robert Jackson

Absennya negara dalam mengatasi permasalahan ekonomi, misalnya, juga bisa membuat negara tersebut berstatus “quasi-state”. Istilah ini diperkenalkan oleh Robert Jackson dalam bukunya yang berjudul “Quasi-State”.

Absennya negara bisa menimbulkan anarko sindikalis yang punya visi kebangsaan dan pro-demokrasi.

Dalam kasus ini, secara garis besar, istilah quasi-state dapat diartikan juga sebagai sebuah negara yang walaupun memiliki kedaulatan dan diakui oleh komunitas internasional, akan tetapi tidak mendapatkan kepercayaan dari warga negaranya dan tidak dapat menjalankan fungsinya secara benar.

7. Quasi-state dekat dengan daya juang anarko sindikalis

Ketika fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama sudah berkacak pinggang di luar batas, ketika kekuasaan oligargi memperkosa, dan ketika negara sudah tak peduli dengan jeritan ketimpangan sosial, maka siaplah berhadapan dengan kekuatan yang berorientasi quasi-state.

Ketika timbulnya agresivitas kelompok massa terhadap kelompok massa lainnya yang akhirnya menimbulkan bentrokan karena negara tidak hadir, negara absen, hingga kehadiran hukum dan adanya aparat penegak hukum dihiraukan sajua oleh kelompok-kelompok massa tersebut.

Salah satu komunitas tersebut adalah anarko sindikalis. Mereka akan bereaksi dengan ketidakadilan negara dalam meredam gejolak sosial. Termasuk penguasaan pasar oleh negara dan sindikat oligarki sera arogansi kelompok mayoritas agama.

Ketika warga negara sudah tidak percaya terhadap negaranya, mereka bisa saja dengan mudah menerapkan hukum produk mereka sendiri. Pengaruh dan wibawanya jelas lebih besar dibanding hukum yang telah disusun dan diundangkan oleh negara.

Efek lain dari absennya negara adalah, warga negara akan cenderung untuk bersikap dan beraksi agresif terhadap kehadiran simbol-simbolkekuasaan negara, ataupun agresif terhadap komponen aparatur negara. Intinya, mereka sudah tidak percaya lagi terhadap negaranya. Negara absen!

Anarko sindikalis bisa berkembang di mana saja. Dari pedalaman nun jauh di sana hingga di perkotaan atau wilayah urban yang menjadi basis industrial.

Gerakan anarko sindikalis lahir dari yang terdidik, yang tersiksa, yang tertindas, dan berpikir kritis. Mereka terjun langsung melawan berbagai ketidakadilan dan ketimpangan sosial di sekitar mereka dengan cara yang mereka sanggupi. Sangat berbahaya jika terakumulasi dalam kesanggupan riot dan chaos.

Jatuhnya negara berdaulat ke dalam level quasi-state dapat dihindarkan dengan cara penguatan ekonomi negara, dalam hal kestabilannya. 

Dengan pendekatan unitaris yang kuat, negara bisa bergerak ke arah bentuk kuasi-federal, sambil menolak kecenderungan apa pun terhadap federasi pluralis.

Referensi