Beberapa hari terakhir ini, hati kita berderuh sedih, nurani kita tercabik pedih, melihat bencana yang terjadi di Garut, Jawa Barat. Puluhan orang meninggal dunia, puluhan di rawat di rumah sakit, dan puluhan lagi belum ditemukan, rumah-rumah mereka hancur, wilayah mereka porak-poranda akibat banjir bandang.

Belum tuntas penangan korban di Garut, hujan diiringi angin kencang, membuat jembatan penyembrangan orang (JPO) dan papan reklame rubuh di Pasar Minggu, Jakarta selatan, akibatnya tiga orang meninggal dunia, dan beberapa orang terluka, dan harus dirawat di rumah sakit.

Indonesia, negara tempat kita bernaung, masuk sebagai zona merah rawan bencana alam, hamparan pulau-pulau nan eksotik yang menghampar di gugusan kepulauan nusantara ini, ditopang oleh lempeng bumi aktif, yang berpotensi menciptakan gempa dan tsunami.

Belum lagi, sampah yang menumpuk, hutan yang digundul, laut yang ditimbun, hutan yang dibakar, semua itu berpotensi mengundang bencana, seperti banjir, tanah longsor, abrasi, kekeringan, dan lainnya. Tiap detik bencana mengancam kehidupan kita, bukan hanya di indonesia, tapi seluruh penjuru dunia.

Gunung-gunung yang meneduhkan, laut biru menghampar indah, pulau-pulau nan eksotik, hamparan hutan yang menghijau, bibir pantai nan indah tak terperi, semua itu adalah suguhan alam yang memanjakan manusia, mereka hanya butuh dianggap ada, dihargai, dan dijaga, intinya, jangan membuat alam kita sebagai budak, ia adalah keluarga  kita, yang terikat hubungan primordial satu sama lain

Seperti itu yang dijelaskan mereka, para penghayat paham ekofeminisme—membahas tentang relasi etika lingkungan dengan feminisme— paham yang dibangun oleh para feminis religius, yang meyakini bahwa persoalan ekologis sangat erat kaitannya dengan sprititualitas.

Keyakinan ini, bahwa manusia, alam, dan seluruh ciptaan berada dalam derajat yang sama, bertalian dan saling terhubung. Prinsip egaliter itu, membuat kita harus menghadirkan rasa solidaritas dan sepenanggungan, antara manusia, alam, dan seluruh ciptaan-Nya.

Salah satu persoalan kritis yang dialami manusia sekarang adalah terputusnya hubungan spritualitas dengan alam dan seluruh jaringan kehidupan, kita sudah gagal memahami bahwa bumi adalah rumah kita, dan segala yang ada di dalamnya adalah keluarga kita, keluarga yang niscaya harus kita kenali dan saling menjaga satu sama lainnya.

Krisis kesadaran kita akan lingkungan harus kita obati sesegara mungkin, akar kesalahan itu, ada pada paradigma dan ego superioritas kemanusiaan yang kita miliki, yang dalam bahasa Judith Plaskow kita telah melakukan penolakan atas kenyataan bahwa kita dan alam tercipta dalam pengejawantahan yang sama.

Lebih jauh, apa yang dituliskan Paula Gunn Allen, kita adalah bumi (we are the land), dimana bumi adalah sumber humanitas. Keterhubungan spritualitas dan humanitas kita berada pada kenyataan bahwa spritualitas adalah kekuatan hidup bersama segala hal yang hidup.

Pemahaman ini mengantarkan kita untuk membangun paradigma pemeliharaan dan kesalingterkaitan yang berpusat pada alam, yang bersandar pada nilai kehidupan manusia, Alam dan seluruh ciptaan, yang tentu saja bertujuan untuk adanya distribusi kebutuhan hidup tanpa melalui kekerasan terhadap  bumi kita.

Kita berada dalam satu keterhubungan yang rumit, setiap kejadian yang terjadi pada kita, terkait dengan alam, terkait pula dengan ciptaan. Kejadian-kejadian baik yang kita alami, tentu bersumber dari hubungan baik, dan kejadian-kejadian buruk yang kita alami, bersumber pula dari buruknya kita membangun hubungan itu.

Maka, tugas kita, makhluk yang dianugrahi akal, dan diberi amanah menjadi “khalifah” Allah di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, adalah mengamputasi ego superioritas kemanusian kita, dan membangun paradigma egalitarian antara manusia, alam, dan seluruh ciptaan-Nya. Hanya dengan itu kita bisa saling bertukar senyum ramah antar sesama ciptaan-Nya.