Beberapa hari lalu, saya membaca tulisan Eka Kurniawan yang berjudul Yang Lebih Besar, Minggir pada kolom opini Jawapos edisi Kamis, 26 Juli 2020. Dalam tulisan itu, ia menyoal konsep diskriminasi.

Dengan analogi seputar permainan sepak bola anak-anak kompleks, Eka mampu mendobrak antusiasme kita untuk kembali melirik situasi dunia kepenulisan bangsa.

Ini bukan pertama kalinya Eka mengulas seputar kondisi dunia tulis-menulis bangsa ini. Pada beberapa kesempatan, ia menyoal hal serupa, soal diskriminasi; baik antara penerbit, toko buku, bahkan oleh negara kepada para penulis.

Terpenggal sebuah dialog menohok yang dikutipnya dalam tulisan itu; “Dari mana? Indonesia Timur? Terbit. Dari mana? Jabodetabek? Tolak.” Eka mengakhiri paragraf itu dengan kalimat tanya: Apakah penulis Jabodetabek merasa terdiskriminasi?

Entahlah, siapa yang paling layak menjawab pertanyaan ini. Nyatanya, perlakuan diskriminasi ini terlalu luas dan absurd maknanya. Siapa yang paling bisa menjelaskan perasaan orang yang sedang merasa terdiskriminasi?

Bagi saya, tulisan ini mengungkap banyak hal. Dengan pikiran terbuka, saya harus mengamini apa yang dipaparkannya. Mulai dari harga buku yang jauh lebih murah di tanah Jawa, penerbit yang banyak, event-event kepenulisan, dan lain sebagainya.

Pada suatu forum diskusi komunitas menulis, saya pernah mendengar candaan seorang peserta; "Wajar kita di timur mengandalkan otot ketimbang otak, uang 20.000 di sini hanya bisa dapat sebungkus nasi kuning, sedang di Jogja dengan uang segitu, kita bisa membeli sebuah buku bagus.”

Lalu, apa makna diskriminasi yang dimaksud Eka, apakah hanya sebentuk perasaan atau fisik (yang menyangkut keberadaan buku, harga dan penerbit) seperti candaan teman peserta tadi?

*

Saat menghadiri bedah buku berjudul Kepada Jauh Yang Dekat karya Arief Balla, salah seorang pembedah, Faisal Oddang, sempat mengungkapkan kekesalannya akan sematan istilah ‘penulis lokal’ pada dirinya di beberapa kesempatan.

“Istilah lokal itu terasa seperti cibiran yang mendegradasi label penulis. Panggung nasional seperti hanya milik mereka yang berdomisili di ibu kota, banter Jabodetabek dan seterusnya,” kata Faisal.

Lokal; seperti tidak nasional. Kesannya sedikit suram, konotasinya seperti amatiran. Terdengar jauh dari kota dan modern. Setidak-tidaknya stigma itu yang tertanam di kepala masyarakat umum.

Ungkapan itu selalu dilontarkan pada event-event kepenulisan yang berlangsung di tanah Jawa. Bagian terparahnya, terkadang didahului dengan pertanyaan asal daerah. Sekira dari luar Jawa, maka tersematlah istilah 'penulis lokal' itu.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan penulis lokal atau penulis bukan lokal? Siapa yang bisa memberikan kualifikasi itu? Sangat diskriminasi jadinya, jika standar penilaian itu didasarkan pada daerah asal penulis.

Disebut sebagai penulis apa Eka Kurniawan di daerah asalnya Tasikmalaya? Fiersa Besari di Bandung? atau penulis-penulis lain di kampung halamannya?

Kita sama sekali tidak punya kualifikasi untuk menyebut seseorang sebagai penulis nasional atau bukan nasional. Standar penilaiannya tidak jelas. Juga, sampai sekarang belum ada kelompok yang menamai diri sebagai asosiasi penulis apa, atau komunitas literasi apa, yang bisa mengeluarkan standar atau kategori untuk seorang bisa disebut sebagai penulis ‘nasional’ atau ‘bukan nasional’.

Padahal jika melihat prestasi, baik Eka maupun Faisal sama-sama penulis hebat yang sudah menembus dunia pembaca internasional.

Selain berderet penghargaan nasional, Faisal Oddang pernah diundang secara langsung untuk menghadiri International Writing Program 2018 di Iowa City, Amerika Serikat. Pada tahun yang sama menerima Robert Bosch Stiftung and Literariches Colloquium Berlin Grants.

Eka Kurniawan, siapa yang tidak mengenal kecermelangan narasi pada buku-bukunya? Karyanya saat ini sedang naik daun di kalangan pembaca luar negeri. Buku Lelaki Harimau (Men Tiger), Cantik Itu Luka (Beauty is Wound), menyusul O, sedang diterjemahkan dalam banyak bahasa. Ia bahkan masuk nominasi Man Booker International Prize 2016, bersanding dengan penulis sastra Dunia.

Tetapi siapa yang berhak memberikan label penulis nasional atau internasional pada Eka atau Faisal? Lalu seberapa penting hal-hal serupa harus diungkap-sematkan?

*

Kita mungkin masih ingat saat Eka Kurniawan menolak penghargaan Anugerah Kebudayaan 2019 dari Kemendikbud. Seperti yang diungkapkan pada media sosial miliknya, alasan penolakan ini menitikberatkan pada ketidakhadiran negara dalam dunia seni, budaya dan literasi. Baginya, hal-hal (seremoni) seperti itu hanyalah omong kosong.

Dalam banyak hal, bagi saya, perilaku atau sikap diskriminasi juga disebabkan oleh gagalnya negara menjadi penengah yang bijak. Diskriminasi, baik dalam kehidupan sosial hari-hari, maupun dalam dunia literasi adalah bentuk kealpaan negara.

Pandangan ini tentu akan menimbulkan banyak perdebatan, soal; sejauh mana negara harus ada dan mengintervensi kehidupan masyarakatnya?

Dan mungkin, setiap kita memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda-beda.

Tetapi, sedari awal, pijak sejarah pembentukan negara adalah melayani warganya. Negara hanya perlu hadir di tengah masyarakatnya untuk mengetahui lebih banyak apa yang dibutuhkan oleh warganya.

Bukan malah berdiam di puncak, mengatur, lalu memaksakan kehendak dengan dalih kekuasaan. Lalu saat terjadi masalah, sekonyong-konyong berdiri dan ‘menyogok’ kita dengan serangkaian penghargaan yang sangat tidak substansial.

Sikap Faisal menyoal istilah ‘penulis lokal’ bisa saja dimaknai seperti erangan anak kecil yang sedang ngambek. Toh, seorang penulis dinilai dari karya, bukan istilah atau gelar-gelarnya.

Tetapi jauh dari makna itu, bagaimanapun bentuk dan rupanya, perilaku diskriminasi harus diberangus. Apa lagi jika menyangkut jantung pertahanan budaya bangsa; dunia literasi.

Negara harus hadir dalam berbagai bentuk dan rupanya untuk menengahi dan menyelesaikan persoalan yang ada.

Baik Eka maupun Faisal merasa sama-sama mewakili perasaan orang-orang yang terdiskriminasi, dan saya yakin kita semua setuju dengan pandangan kedua penulis hebat ini.