Arsiparis
2 bulan lalu · 518 view · 4 menit baca · Saintek 82808_95428.jpg

Einstein Lupa Bahwa Waktu Menempati Ruang

Jagad raya adalah gugusan teka teki. Kita mencoba menjawab dan mengetahui rahasia segala yang ada di baliknya. Kita yang kerdil ini mencoba berbagai cara untuk mengetahui grand design dari semua ini. 

Saat logika terasa ada keterbatasan, manusia pun tersadarkan bahwa ilmu yang dimiliknya hanyalah setetes air di lautan yang mencoba memahami air samudra.

Saat kesadaran akan kelemahan itu ada, Manusia paling jenius di Abad ke-21, Albert Einstein,  mengakui, berkenaan dengan keteraturan dan keseimbangan  jagad raya ini, bagaimana keteraturan yang mencapai perhitungan quantum itu tak mampu membuatnya mampu menebak  pergerakan benda benda kosmos secara tepat. Tentunya ada kekuatan maha dahsyat yang mengaturnya.  “Dan tuhan tak tak bermain dadu dengan semua ini,” ujarnya.

Ilmu pengetahuan modern selama ini hanya mampu menjelaskan gejala alam dan alasan alasan penyebabnya namun tak bisa menciptaan sebab  itu yang baru dan memunculkan akibat yang baru pula.

Keingintahuan yang besar telah membuat orang ingin tahu segalanya. Segala yang terjadi di dunia ini haruslah bisa dipahami secara logika. Manusia adalah makhluk yang bertanya akan selalu terlihat antusias untuk menanyakan apa apa yang terjadi di sekelilingnya. Ilmu pengetahuan berhasil menyingkirkan mitos mitos zaman kegelapan.


Stephen Hawking, pakar fisika teori dari Inggris sampai bercita cita menemukan rumus segala hal yang bisa digunakan untuk membaca segalanya. Berangkat dari energi yang terdiri dari ruang dan waktu hasil derivasi dari teori yang dikemukakan oleh Einstein. 

Ia beranggapan bahwa Waktu juga berubah tidak berjalan konstan. Dan dia berhasil menyanggah Kealpaan Einstein yang mengabaikan waktu sebagai materi yang juga berubah tersebut.

Ada dimensi dimensi yang membuat waktu mulur mungsret tidak lurus sebagaimana kita sadari. Inilah penemuan paling baru dari pengetahuan yang menyempurnakan teori relativitas Einstein. Jagad raya adalah ruang waktu yang maha besar. Dan terus memngembang dan membesar entah sampai kapan.

Untuk sementara, Hawking berhasil menggugah kesadaran akan sangkan paraning dumadi. Dari mana dan kemanakah kita seolah hampir diketahui dengan pasti. 

Hawking menyadari sesuatu yang mengembang pasti berawal dari suatu yang diam pada awalannya. Big Bang atau dentuman besar berhasil dijelaskan oleh Hawking dan menjadi penemuan penting abad ini.

Jagad raya kita ini sebelum ada sepersekian milyar  detik waktu adalah sebentuk singularitas yang sangat padat, sepesar kacang polong.  Sebuah awal yang melahirkan dentuman besar membuat jagad raya itu kini seperti adanya kini. 

Dan tentunya perkembangan ini makin diperkuat oleh fakta  sejak hubble menemukan teleskop . Andai kita mempunyai jarak yang bisa mengamati pergerakan antar planet di jagart raya tentunya kita bisa melihat bagaimana mereka saling menjauh satu sama lain.


Hawking meyakini bahwa tenaga yang dilontarkan pada saat dentuman besar itu mash ada dan  lambat laun akan habis serta  membuat benda benda angkasa yang  dilondarkan  tersebut itu akan menyatu kembali, menjadi singularitas sebesar kacang polong.

Waktu Tidak melaju Linier Seperti Pemahaman Einstein

Dunia, bagaimana ia tercipta adalah rahasia abadi yang mungkin semua penasaran dengannya. Ilmuwan, agamawan dan semua yang berada di dalamnya selalu bertanya Tanya tentang maksud dan keberadaan dunia ini.

Tak henti hentinya ilmuwan menganalisa, baik itu bidang fisika maupun ilmu hayat yang muncul dengan ide evolusinya. Teori dentuman besar seolah sejalan dengan teori evolusi bagaimana waktu menjadi kunci pada setiap perubahan perubahan yang terjadi.

Waktu menjadi obyek penelitian yang begitu menggairahka. Bagaimana ia berperan dalam persepsi manusia sebagai materi yang mendiami bumi ini. Relativitas Einstein berhasil menyadarkan entitas waktu yang begitu nisbi dengan mengambil perumpamaan antara kesenangan dan kesedihan.

Saat dalam kondisi senang waktu berjalan begitu cepat dalam persepsi seseorang sedangkan saat dalam kondisi sedih waktu berjalan seolah sangat lambat. Bahkan, keterkaitan dengan pergerakan ini bagaimana waktu bisa menghilangkan bentuk dari sebuah materi jika materi itu bisa bergerak secapat cahaya. Yang ada hanya energy.

Bergerak adalah keniscayaan sebagaimana yang diungkapakan Einstein bahwa untuk tetap berada di jalur keseimbangan segalanya harus tetap bergerak. Begitu juga yang diungkapakan oleh Darwin bahwa yang bertahan adalah ayang bergerak mengikuti waktu hingga lestari dan bertahan keberadaannya.


Keduanya ini disempurnakan oleh teori dentuman besar Hawking yang menyebut bahwa setelah ledakan itu, jagad raya terus melaju bergerak dalam ruang dan waktu yang membero sebab akibat setiap materi di dalamnya.  Bagi Hawking waktu tak selinier yang dipahami Albert Einstein, menurutnya waktu bisa dilipat dan ditekuk untuk didekatkan.

Menurut Hawking, andai kita menggambarkan waktu laksana garis lurus A dan B dalam sebidang kertas kosong, maka untuk mendekatkan jarak antara A dan B  cukup dengan melipat kertas tersebut hingga A dan B menempel. Dalam pemahaman Einstein agar A bisa ke B dengan cepat maka ia harus bergerak dengan cepat pula. Einstein lupa bahwa ada ruang yang ditempati waktu.

Untuk saat ini Hawking berhasil melengkapi aksioma Einstein E=MC2  yang mengabaikan ruang dan waktu. Dan pemahaman soal waktu tang bisa dilipat sementara ini akan terus menjadi bahan diskusi entah sampai kapan. Atau ini adalah puncak dari pencarian teori segala hal kita pun tak tahu.

Artikel Terkait