Keluarga Einstein agak sekular. Itu tampak ketika Ayah dan Ibu Einstein memodikasi tradisi tua Yahudi, yaitu ‘menjamu tokoh agama di hari Sabat’ menjadi ‘menjamu mahasiswa kedokteran miskin’.

Max Talmud nama mahasiswa itu. Sebagai ucapan terima kasih, Max Talmud membawakan buku sains berjudul People’s Books on Natural Science untuk Einstein remaja. 

Buku tersebut ditulis Aaron Bernstein yang isinya menekankan hubungan Fisika dan Biologi. Buku itu juga memuat percobaan-percobaan ilmiah dengan penjelasan yang rinci. Buku inilah yang membangkitkan imajinasi Einstein sehingga ia pernah mengkhayalkan dirinya menunggangi cahaya.

Tapi perkenalan Einstein dengan sains menimbulkan reaksi mendadak terhadap agama ketika ia berusia 12 tahun.

Einstein remaja melakukan perlarian radikal. Ia menghindari ritual-ritual keagamaan. Sikap skeptis dan melawan inilah yang kemudian menonjol dalam diri Eistein di kemudian hari.

Dengan dua sikap ini, ia mengembangkan kebebasan berpikir yang kuat. Itu juga memberinya keberanian menentang keyakinan ilmiah yang sudah diterima luas—dan kemudian memecah revolusi dalam Fisika beberapa puluh tahun berikutnya.

Mistisisme dan Einstein

Einstein selalu menjaga jarak antara pandangan politik, ekonomi, negara, dan lain-lain dengan teori-teori fisikanya.

Saat berkunjung ke Inggris di tahun 1921, Einstein ditanya oleh uskup agung tentang implikasi teori relativitas terhadap pandangan Ketuhanan. Einstein menjawabnya dengan nada santai, “Tak ada. Relativitas adalah persoalan sains dan tak memiliki kaitan dengan agama.”

Di kesempatan yang lain, seorang penyair dan propagandis bernama Viereck bertanya apakah Einstein percaya Tuhan atau tidak. Kembali, Einstein menjawab dengan kalimat diplomatis.

“Saya bukan seorang ateis. Masalah itu (Tuhan) terlalu besar untuk daya pikir kita yang terbatas. Kita seperti anak kecil yang memasuki perpustakaan sangat besar penuh buku dalam banyak bahasa. Anak itu tahu seseorang pasti telah menulis semua buku itu. Namun, anak itu tidak tahu cara menulisnya.

Anak itu tidak memahami bahasa yang mereka tulis. Anak itu sedikit mencurigai ada urutan misterius dalam penyusunan buku itu, tetapi tidak tahu tentang urutan tersebut.

Menurut saya, itu adalah sikap manusia paling pintar kepada Tuhan. Kita melihat alam semesta diatur dengan sangat bagus dan mematuhi hukum tertentu. Tetapi kita hanya sedikit memahami hukum tersebut.” (What Life Means to Einstein, Saturday Evening Post, 26 Oktober 1929).

Kalimat di atas adalah cara Einstein menjelaskan secara halus bagaimana ia memandang dunia ini tanpa melukai ekspresi personal orang.

Walau Einstein tak terlalu suka dengan pelembagaan agama, ia tak seperti Hawking yang lebih vulgar mengatakan bahwa Tuhan (dalam terma agama formal) tak memiliki peran dalam model kosmologinya.

Karena itu, banyak orang beragama yang saat ini tetap mengutip perkataan Einstein—meski tak tahu sepenuhnya maksud di baliknya.

Memang benar, Einstein, dalam beberapa keadaan, bukanlah sosok yang hanya mengandalkan pikiran-pikiran logis belaka. Ada sisi-sisi tak terlihat dari diri Einstein. Salah satunya, yakni pandangannya tentang 'kekuatan di luar manusia' yang dapat dikaitkan dengan mistisisme.

Kedekatan ini terjadi lantaran pandangan serupa mistisisme ala Einstein dan rasionalisme tidaklah dipisah jurang yang begitu lebar. Keduanya dapat saling mengisi—kekakuan rasionalisme di dunia sains akan dilengkapi pemaknaan serupa mistisme terhadap suatu peristiwa yang cenderung luwes di dunia nyata.

Einstein, seperti juga kebanyakan orang, percaya ada ‘sesuatu’ di luar sana yang memiliki pengaruh tertentu terhadap dirinya. Pandangan itu ia capai dari rasa kagum akan keteraturan luar biasa di alam.

Mistisisme tanpa nama mungkin dapat dihubungkan dengan sikap Einstein yang mencari tiik-titik pelengkap bagi pandangan rasionalnya.

Memang Einstein tak pernah menyebut spesifisik mistisisme seperti apa yang menarik perhatiannya. Tapi, dengan mencermati kisah hidupnya, mistisisme tanpa nama inilah yang paling dekat dengannnya—yang tetap mempertahankan sisi rasionalnya dan melengkapinya dengan sisi spiritual yang tak kaku.

Sisi spiritual ini tercermin dari cara seseorang mengekspresikan kekaguman pada struktur dan tatanan tertentu di alam. Ketika seseorang melihat bagaimana gerakan bulan dan jatuhnya apel diatur oleh hukum yang sama, sisi spiritual ini akan mendorongnya menuju titik terjauh yang sanggup dicapai ilmu pengetahuan.

Ia dibuat kagum di satu sisi dan terpacu mencari struktur yang dapat membuat tambah kagum lagi. 

Einstein menduga mungkin saja ‘perasaan kagum pada apa yang tak terpahami’ adalah benih dari seluruh seni dan sains sejati. Mungkin karena itulah Einstein, di suatu kesempatan, mengatakan tentang pandangan pribadinya yang berkaitan dengan sebentuk mistisme tanpa nama ini.

Einstein mengakuinya dalam kalimat-kalimat berikut:

Mengakui bahwa sesungguhnya apa yang tidak bisa kita jangkau itu benar-benar ada, mewujudkan dirinya pada kita sebagai wujud kearifan tertinggi dan keindahan yang bersinar tiada tara, yang hanya dipahami oleh akal gersang kita dalam bentuknya yang paling primitif—pengetahuan ini, perasaan ini, berada pada inti semua sikap beragama yang sejati. Dalam pengertian ini, aku termasuk orang yang beragama dengan taat (Modern Religious Thought, halaman 240, Boston, 1990).

Barangkali, pilihan Einstein dapat menjadi alternatif bagi sebagian kita saat ini. Ketika kita begitu kaku memahami sesuatu, mistisisme dan bentuk pemaknaan lain dapat menjadi pilihan.

Einstein menunjukkan bahwa sikap seperti ini menumbuhkan paduan unik antara kepercayaan diri dan kerendahan hati. Juga membantunya menghindari kepura-puraan dan kesombongan. 

Menyadari keterbatasan, pada akhirnya, membantunya bersikap lebih rendah hati terhadap rahasia alam yang belum tersingkap. Lantas bagaimana dengan kita?

Di era ilmiah saat ini, mungkin kita akan menanggapi berbagai temuan-temuan saintifik dengan kaku. Namun kering dan tak luwesnya sains dan ilmu pengetahuan secara umum, mungkin, dapat mengarahkan kita untuk menengok kembali beberapa 'kebenaran' lama.