Fi(k)sikawan
5 bulan lalu · 262 view · 4 min baca menit baca · Saintek 97880_17822.jpg
https://sureshemre.files.wordpress.com/2011/12/einsteinlastequation.jpg

Einstein dan Kertas-Kertas yang Belum Selesai Ditulis

Cerita Kertas

Di usia 70-an tahun, Einstein mulai banyak memikirkan kematian. Ketika kabar temannya, Michael Besso, yang meninggal dunia terdengar, ia semakin sering merenungkan makna kehidupan dan waktu manusia yang terbatas.

Michael Besso, teman diskusi di grup Olimpia sekaligus ‘penguji’ konsep inti teori-teorinya, adalah salah satu orang yang berperan penting dalam capaian-capaiannya di masa lalu. Tak heran, kabar kematian tersebut membuat Einstein merasa kehilangan salah seorang yang sangat berharga.

Dalam surat belasungkawa untuk Besso, Einstein menulis dua kalimat yang penuh makna, agak filosofis dan diselipi sedikit guyonan: Ia telah meninggalkan dunia aneh ini sedikit lebih cepat daripada saya. Itu tidak berarti apa-apa, karena bagi fisikawan yang punya keyakinan seperti kami, perbedaan antara masa lalu, masa sekarang dan masa depan hanyalah khayalan yang sulit dihilangkan.

Selama beberapa tahun, penyakit perut dan anemia yang menyerangnya, membuat orang-orang yakin kalau Einstein akan segera menyusul Besso. Tapi, Einstei berhasil bangkit dari kasur baring rumah sakit sekali lagi pada 17 April 1955.

Yang ia langsung cari adalah kacamata, kertas dan pensil. Itu mungkin kedengaran aneh bagi kita di zaman ini yang mulai berjarak dengan kertas dan alat tulis. Tapi bagi Einstein, itulah benda-benda yang ia butuhkan segera.

Yang ia tulis bukanlah surat wasiat, tapi berbaris-baris persamaan matematis. Dan sambil mengeluh kepada putranya tentang keterbatasan pengetahuan matematikanya, ia tetap mencoba menyelesaikan apa yang mustahil diselesaikannya dengan sisa waktu yang semakin mepet.

Ia mencakar selama yang ia mampu. Namun, Aneurisme betul-betul mengakhiri riwayatnya. Ia meninggal dunia keesokan harinya dengan membawa keresahan yang belum tuntas.

Dikelilingi keluarga, kolega dan sahabat dekat, di ujung hidupnya, selain menyisakan kenangan-kenangan, Einstein juga menyisakan kertas-kertas terakhir yang belum selesai ia tuliskan (selain dua belas halaman catatan penuh simbol matematika, ada juga selembar kertas berisi konsep pidato untuk Hari Kemerdekaan Israel).

Seperti Tycho Brahe, Newton dan pemikir-pemikir lainnya, Einstein memiliki hubungan istimewa dengan kertas. Itu terjadi lantaran bagi Fisikawan, kertas adalah medium tulis yang paling praktis untuk menyimpan sementara sebuah ide atau gagasan.

Berbeda dengan papan tulis yang terbatas dan kurang praktis, kertas memungkinkan Fisikawan mencari ulang dan mengembangkan apa yang telah ditulisnya. Selain itu, dengan menuliskan gagasan ke dalam kertas, para fisikawan bisa membawa gagasannya ke mana saja.

Karena itu, hampir seluruh hari-hari Einstein tidak terlepas dari kertas. Kertas telah menjadi istri kesekiannya setelah Elsa, pensil/pulpen dan kacamatanya.

Dua belas catatan itu adalah rangkuman dari pencarian sunyi Einstein selama beberapa belas tahun belakangan. Ia mencari mata rantai yang hilang antara teori-teori yang berbeda—dan seolah terpisah.


Secara teknis, Einstein berusaha memperluas persamaan medan gravitasi dalam relativitas umum sehingga juga dapat menjelaskan medan elektromagnetik. Selain itu, ia berharap jika persamaan terpadu itu  berhasil ia temukan, maka mekanika kuantum (teori yang tidak sejalan dengan teori relativitas umum) akan dapat terjelaskan.

Sayangnya, Einstein lebih banyak menempuh jalan yang keliru. Itu dapat terlihat dari kompleksitas matematika yang meningkat dan semakin sulit dicari solusinya.

Dalam Fisika, kebenaran sebuah persamaan sedikit-banyak bergantung pada kesederhanannya dan kemampuannya menjelaskan sebuah fenomena. Sebuah persamaan dalam ruang lima dimensi, misalnya, mungkin terihat elegan dan kompleks. Namun itu tak bermakna apa-apa jika gagal menangkap realitas empat dimensi kita. 

Bagi mayoritas Fisikawan, persamaan Newton diyakini indah dan benar—dalam batas tertentu—bukan karena tigkat kerumitannya, melainkan kesederhanaan dan kemampuannya menggambarkan keadaan objek tinjauan.

Einstein menyadari hal itu. Ia memiliki kepekaan pada kebenaran sebuah persamaan. Maka, intuisinya memberi alarm bahaya.

Di komunitas Fisikawan zaman itu, pencarian teori terpadu Einstein mulai dianggap mustahil. Dan penemuan partikel dan gaya baru membuat Fisika kelihatan semakin tidak terpadu. Einstein tampak sebagai pengkhayal keras kepala yang kehilangan pijakan di bumi.


Tapi bukan Einstein namanya jika menyerah begitu saja. Keuletan adalah sifat yang mendukung kejeniusannya. Ia selalu siap berlayar menentang arus. Itu jugalah yang ia tunjukkan dalam kertas-kertas yang menemaninya di ujung hidupnya.

Di kasur baringnya di rumah sakit inilah, kertas-kertas yang dipenuhi  simbol matematis itu kelak menandai awal menuju teori puncak yang diburu Fisikawan sampai saat ini: Teori Segalaya.

Tidak hanya itu, kertas-kertas itu juga menunjukkan pencarian tanpa henti seorang anak manusia tentang sebuah kesederhanaan sejati. Kesederhanaan yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena di alam dalam satu baris persamaan.

Sampai sekarang, Einstein tetap hidup. Ia hidup dalam kepala orang-orang. Dan ia akan terus hidup jika dunia masih menjalin hubungan yang intim dengan kertas dan kebebasan berpikir.

Kertas-kertas mungkin akan segera lenyap dan diganti wadah digital. Tapi, kita tak akan melupakan bagaimana kertas membantu peradaban sampai ke titik terjauhnya.


Bersama kertas, manusia merekam ilmu pengetahuan dan menyebarkannya. Bersama kertas juga manusia bertarung gagasan.

Jika suatu peradaban maju, maka kertas akan menjadi medium yang sehat untuk mengawetkan segala jenis hasil olah pikir—entah seberapa aneh dan tak umumnya itu. Dan jika suatu peradaban sedang sedikit kena flu, maka gagasan dalam bentuk buku akan disita; kebebasan dikekang; dan pemerintah tak mendukung tumbuhnya perkelahian gagasan di ruang publik.

Pada akhirnya, Einstein menantang umat manusia era ini melalui kertas-kertas yang belum selesai ditulisnya. Apakah kita mampu melanjutkan apa yang dimulainya atau malah menyerah begitu saja di hadapan zaman yang semakin dipenuhi polusi pikiran?

Kertas mungkin tak mengabadikan kisah seseorang dan pikiran-pikirannya. Tapi setidaknya kertas memperpanjang gagasan-gagasan seseorang lebih lama dari usianya sendiri. Einstein telah membuktikannya.

Artikel Terkait