Salah satu penyebab tingginya angka perpisahan (baca: perceraiaan) di kalangan rumah tangga ialah ketidakmampuan suami-istri menahan sifat "egoisme" berlebihan dalam diri mereka masing-masing.

Tudingan ini tidak hanya dialamatkan kepada salah satu pasangan (istri atau suami semata) tetapi tudingan ini berlaku untuk keduanya.

Mengapa demikian?

Karena laki-laki dan wanita memiliki sifat egois.  Apabila sifat egoisme ini tidak termanage dengan baik, maka yang lahir dalam rumah tangga tentu saja amarah dan bahkan “kekerasan”.

Soal kekerasan dalam rumah tangga, data dari Komnas Perempuan dapat kita jadikan rujukan disini.

Menurut catatan Komnas Perempuan, selama tahun 2016, Komnas Perempuan mencatat terdapat 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan.

Dari 259.150 kasus, 245.548 adalah kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraiaan.

Di ranah rumah tangga, menurut data Komnas Perempuan, persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 42% (4.281 kasus), kekerasan seksual 34% (3.495 kasus), kekerasan psikis 14% (1.451 kasus) dan kekerasan ekonomi 10% (978 kasus).

Komnas Perempuan membagi 4 kategori kekerasan dalam rumah tangga, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis dan terakhir kekerasan ekonomi.

Kekerasan fisik sendiri dibagi lagi menjadi kekerasan fisik berat dan ringan.

Kekerasan fisik ringan seperti menampar, menjambak rambut, mendorong dan perbuatan lain yang mengakibatkan cedera ringan.

Sedangkan kekerasan fisik berat berupa pemukulan, menendang, memukul bahkan menyundut dengan rokok.

Sedangkan untuk kekerasan seksual dalam rumah tangga ialah dengan cara kontak fisik seperti meraba, menyentuh bagian organ seksual, mencium secara paksa, merangkul dan perbuatan lain yang menimbulkan rasa jijik atau terteror.

Termasuk kekerasan seksual apabila pasangan dipaksa menggunakan alat tertentu yang menimbulkan rasa sakit dan jijik pada organ vital.

Semua perlakuan itu dilakukan tentunya dengan cara memaksa dimana salah satu pasangan tidak menghendaki hubungan tersebut.

Jika hal itu pernah anda alami, maka perlakuan tersebut dikategorikan sebagai kekerasan seksual dalam rumah tangga.

Bahkan, ketika pasangan tidak mendapat “hubungan seksual” pun sebenarnya bisa dimasukkan sebagai kategori tindakan ringan dalam hubungan seksual berumah tangga.

Selain kekerasan seksual, kekerasan psikis juga tidak kalah berbahaya.

Kekerasan psikis dalam rumah tangga biasanya dialami oleh pihak yang lemah. Bentuknya bermacam-macam.

Yang umumnya terjadi ialah penghinaan, ucapan yang merendahkan, mengisolasi pasangan dari pergaulannya, melarang pasangan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, ancaman serta bentuk lain yang disampaikan melalui verbal.

Kekerasan secara psikis menimbulkan efek psikologis yang nyata. Akibatnya bisa berupa trauma dan ketakutan berhubungan.

Terakhir, menurut Komnas Perempuan ialah kekerasan ekonomi dalam rumah tangga.

Untuk kekerasan jenis ini, umumnya pasangan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, diantaranya penelantaran, disuruh bekerja secara eksploitatif, bahkan dalam beberapa kasus adapula yang melalukan praktik “pelacuran” yang dilegalkan oleh suaminya. Kategori terakhir ini tentu saja kekerasan ekonomi yang “tergolong berat”.

Dari kacamata tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tindak kekerasan dalam rumah tangga tumbuh subur karena “egosime” yang masih menjadi panglima dalam hubungan suami-istri.

Untuk membunuh serta meminimalisir egosime maka dibutuhkan sikap bijak antara kedua belah pihak.

Salah satu yang ditawarkan menurut Karen Amstrong, seorang pakar sejarah Agama dalam bukunya yang berjudul “Compassion” ialah memperbanyak kasih sayang kepada manusia.

Amstrong menegaskan bahwa kasih sayang adalah inti daripada manusia beragama.

Karena, tambahnya, dalam setiap agama yang ada di dunia, rasa kasih dan saling mengasihi merupakan fokus dari ajaran yang dibawa para rasul dan nabi.

Karena itu, sifat egoisme harus digantikan dengan sifat welas asih. Saling memaafkan dan memahami adalah kunci dari langgengnya sebuah hubungan.

Menyudahi praktik kekerasan dalam rumah tangga salah satunya dengan cara bijak dan dewasa mensikapi beragam persoalan berumah tangga.  Bukan lantas main fisik apalagi “adu jotos”.