Seorang maestro sepak bola, dengan kemampuan olah bola menawan dan karisma yang berpendar, tidak selalu berhasil menghela suatu kesebelasan. Sebab, bermain bola dalam sebuah tim dan mengelola suatu kesebelasan itu dua hal yang berbeda, meski masih dalam satu konteks permainan.

Di lapangan hijau, seorang maestro sepak bola akan selalu menjadi sorotan publik. Di kaki mereka tergantung banyak harapan dan ekspektasi. Publik menunggu sesuatu yang memukau dari kaki mereka. Seolah-olah dengan demikian, sepak bola sudah purna ketika mereka beraksi di lapangan.

Pada suatu alur cerita permainan, seorang maestro lazim menjadi protagonis. Dengan kakinya, ia diharap dapat menerobos barisan lawan, memberi umpan-umpan menakjubkan, serta melepaskan tembakan indah yang merobek jala gawang lawan.

Di depan penonton, magisme seperti itu adalah syarat sah menjadi seorang maestro bola. Tanpa itu, esensi permainan dari sepak bola seperti hambar.

Meski begitu, maestro bola punya peran besar di balik tersingkapnya esensi permainan sepak bola. Ketika mereka berlaga, ada sejenis gairah atau nyawa yang tidak dapat didefinisikan secara ilmiah. Eksesnya bisa berupa daya tarik yang penuh pesona. Dan agaknya, ini yang disebut dengan magisme.

Kendati diberkahi magisme bakat yang terkadang di luar nalar, seorang maestro bola ialah sosok yang memiliki karakter kuat, ego besar, dan juga diiringi ketenaran yang menjadi-jadi. Dalam tuntutan kolektivitas permainan sepak bola, ego mereka ditiup oleh ekspektasi besar. Seakan-akan, nama mereka terdengar lebih nyaring ketimbang kebesaran tim.

Di sepak bola, sudah hukumnya talenta terbaik memikul sorotan besar dalam tim. Terkadang, sorotan itu menjadikan citra seorang maestro melekat dengan tim yang ia bela. Kemudian, bangunan tim seolah-olah dibuat untuk menyangga permainan maestro. Padahal realitasnya, bangunan tim dibentuk untuk dipertanggungjawabkan secara publik pada sang maestro bola tersebut.

Di sinilah para maestro mendapatkan tantangan yang sifatnya historis sekaligus futuristik. Cara mereka mengejawantahkan tantangan-tantangan itu akan mencerminkan semesta berpikir mereka nanti di karier kepelatihan. Momen-momen ini merupakan tikungan sejarah penting guna mengenali karakter kepelatihan mereka di masa yang akan datang.

Maestro dan Sejarah Permainannya

Ketika menghela suatu kesebelasan, puluhan ego berserakan dengan visi bermain yang berbeda-beda. Di sini, tugas seorang pelatih adalah mengelola ego-ego tersebut agar visi tim lebih diutamakan. Tujuan jangka pendeknya, skema permainan berjalan sesuai keinginannya di atas lapangan. Dan tujuan jangka panjangnya, jelas meraih trofi ataupun sekadar posisi tertentu di suatu klasemen.

Namun kita menyadari, ego seorang allenatore sendiri perlu dikelola. Ia sudah mesti selesai dengan ego-ego semasa menjadi pemain. Bagian ini terkadang digoda oleh romantisisme kejayaan masa lampau mereka. Romantisisme sejarah tanpa rasionalisasi yang dialami para maestro bola terkadang menjadi stimulus negatif kala menukangi suatu kesebelasan.

Ketika stimulus negatif itu menyusupi ego para maestro yang menjadi pelatih, mereka akan terbawa suasana masa lampau. Derasnya pujian yang dulu menghampiri mereka tiba-tiba menghantui tuntutan kesuksesan di posisi yang baru. Melihat anak buahnya bekerja, tidak jarang membuat mereka gatal ingin turun langsung ke lapangan dan menuntaskan pekerjaan dengan kaki-kaki magisnya.

Memang, pada kaki seorang maestro, realisme sepak bola bisa berjodoh dengan magisme. Namun di kepelatihan, yang ada di depan mata adalah tantangan yang serba-kalkulatif. Contohnya, ketika mempersiapkan tim untuk menghadapi suatu pertandingan, dibutuhkan racikan taktik ataupun program pelatihan yang detail, relevan, dan rasional. Di posisi ini, kemolekan kaki para maestro tak berlaku lagi.

Pada nama-nama maestro bola seperti van Basten, Diego Maradona, Michael Platini, hingga Ruud Gullit, kita dibuat percaya adanya estetika individual dari sepak bola. Namun, ketika masih aktif bermain, nama-nama besar ini tentu memiliki ego yang berbeda jika dibandingkan dengan pemain yang punya atribut permainan biasa-biasa saja.

Hanya saja, apakah dengan bakat sepak bola dan distingsi psikologis itu akan menjamin para maestro mendulang kesuksesan saat berkiprah di kepelatihan? Tentu saja tidak. Sebab ketika menempuh opsi kepelatihan, idealisme permainan para maestro dibenturkan pada kenyataan yang mesti dihadapi tanpa kaki-kakinya. Itu membuat mereka butuh energi lebih untuk menyesuaikan cara kerja yang baru.

Maka, tidak mengherankan kalau nama-nama besar di dunia sepak bola tidak selalu berhasil kala menempuh karier sebagai juru taktik. Kita tahu, sebagai pelatih, prestasi Maradona semenjana. Sementara itu, racikan taktik van Basten tak mampu mengubah dunia persepakbolaan sebagaimana sesumbarnya kala pertama kali berseragam A.C Milan. Begitu pula pada Platini, Henry, dan juga Ruud Gullit.

Praktis, dari situ kita tahu memang tak banyak maestro sepak bola yang bertahan lama dan berhasil menjadi pelatih. Sebab, mengulang kesuksesan pada posisi yang berbeda memang tidak mudah. Terlebih, bagi seorang maestro, mengalihkan ego dari tengah lapangan ke pinggir lapangan adalah suatu pergolakan batin tersendiri. Dalam proses itu, mereka berada di persimpangan kariernya.

Batas antara keberhasilan dan kegagalan karier kepelatihan para maestro adalah sejarah permainan mereka. Kala menyeberangi batas tersebut, simpul-simpul psikologis mereka bekerja. Jika ia berhasil menyerap banyak pembelajaran dalam sejarah permainannya sendiri, ia punya banyak peluang untuk berhasil. Namun semisal gagal merefleksikannya, eksistensinya sebagai juru taktik lebih cepat meredup.  

Selain itu, maestro yang dengan tenang berhasil mengejawantahkan ekspektasi publik di lapangan hijau, saya pikir akan lebih berhasil di kepelatihan daripada seorang maestro yang menikmatinya. Cara mereka menangani masa kini dan masa lalu pada akhirnya akan memengaruhi visi kepelatihan mereka. Tanpa itu, yang ada hanya romantisisme kejayaan masa lampau yang dihantui kegagalan demi kegagalan.