Saya hendak berilustrasi perihal kedudukan ego. Seperti publik mafhumi bagaimana sepak terjang klub Persib versus Persija, lebih-lebih para pendukungnya. Sudah dari dulu kala para pendukung masing-masing klub tersebut tak bosan berseteru bak dunia Tom and Jerry. 

Namun di atas Persib dan Persija ada klub nasional bernama PSSI. Saat klub kesebelasan nasional tersebut melawan Malaysia, ego Persija, Persib, dan lainnya tak begitu tampak. Ego sektoral sudah melebur dan meluas menasional. 

Namun kesan yang kerap kita terima saat menyaksikan kesebelasan antarnegara tersebut adalah konsepsi berseteru; Indonesia pasti kamu bisa, dan teriakan provokasi. Begitu juga dengan suporter Malaysia akan melakukan hal yang senada.

Ilustrasi berikutnya lebih mengerucut pada suatu kesebelasan adalah seperti ketika salah seorang pemain tiba-tiba rubuh tersungkur akibat tersenggol pemain lainnya. Setelah ia menengok ke belakang, rupanya temannya sendiri yang berseragam sama dengannya yang membuatnya terjatuh. Lalu teman tersebut spontan bilang, "I am sorry!" sembari mengulurkan tangannya. Lalu ia menyambutnya dan bangkit lagi. 

Pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah, apa yang dirasakan oleh pemain yang terjatuh tersebut? Tentu saja secara fisik ia sedikit merasakan sakit, tetapi egonya berkata memakluminya. Mengapa bisa begitu? Sebab ia adalah bagian dari tim kesebelasannya.

Namun apa yang akan terjadi ketika yang merubuhkan dirinya adalah lawan kesebelasannya? Apa kira-kira yang tergerak dalam benaknya? Umumnya ia menganggap lawannya curang, dan ingin mencederainya. Lalu muncul dorongan ingin membalasnya.

Baca Juga: Gen yang Egois

Pertanyaan berikutnya, kenapa ia bereaksi berbeda dengan di atas, padahal dalam kejadian yang serupa, misalnya? Jawabannya karena ia bukan bagian dari egonya, bukan pula dalam tim kesebelasannya. 

Itu sedikit gambaran kedudukan ego yang sangat mungkin juga berlaku perihal yang sama pada ego dalam agama, etnis, ras, suku, dan lainnya. Tetapi seandainya semua ego sektoral sudah menasional seperti tergambar dalam kesebelasan tersebut, kemudian diperluas hingga mendunia, apa yang ada dalam bayangan kita?

Sampai di sini ada yang hendak ingin saya beberkan bahwa dalam hidup ini kalau mau menyadari sebetul-betulnya, sejujurnya kita hidup di dunia ini tidak ada yang namanya musuh, yang ada semua adalah saudara.

Hanya saja yang menjadi kendala adalah kedudukan ego yang terprogram dari sejak kecil dan mungkin hingga kini terjebak dalam kemelekatan akan pengharapan pujian, pengakuan yang oleh Gobind Vashdev menyebutnya “narkoba” di dalam diri. Dan juga kemelekatan doktrin ini baik itu buruk, ini benar dan itu salah telah mempolarisasi banyak sisi kehidupan. Di sini saya tidak sedang mengatakan ajaran benar-salah, baik-buruk atau lainnya adalah perkara yang harus diabaikan. Sekali lagi tidak. 

Saya hanya ingin menyampaikan makin banyak pengetahuan perihal itu melekat kuat ke dalam ego selanjutnya akan menjadikan suatu eksistensi ego makin menyempit nan kokoh. Dan akan berpeluang menyembulkan emosi marah, jengkel, dan lainnya manakala terjadi suatu ketidaksesuaian dengan ekspektasi ego.

Pada akhirnya hidup akan selalu diperhadapkan dalam ruang hitam-putih, bersitegang kamu salah dan aku benar, banyak menuntut pada dunia luar agar seirama apa yang dipikirkan. Apakah cara pandang demikan salah? Tidak. Hanya saja belum mencapai kesadaran yang hening.

Kebahagian dan Tuhan

Apakah kebahagian itu? Apakah ketika sedang punya banyak uang? Beristri cantik, atau bersuami ganteng nan tajir? Pangkat akademis yang prestisius? Punya banyak pengikut dan dihormati banyak orang?

Itu semua oleh khalayak ramai menamai suatu kebahagiaan. Namun kebahagian versi lain bukanlah ketergantungan pada dunia luar. Sebab perspektif kebahagian seperti yang banyak disebut di atas secara tidak sadar akan selalu diintai oleh perasaan sebaliknya.

Kebahagian versi lain ilustrasinya sebagai berikut, katakanlah di bawah langit ada awan putih dan gelap. Anggap saja awan putih sebagai simbol kebenaran, kebaikan, sedangkan awan gelap sebaliknya. Kalau suatu kesadaran telah melampaui kedudukan seperti gambaran dua awan tersebut, akan lahir kesadaran baru bahwa ia telah menjadi langit biru yang mengamati dua awan yang berbeda.

Dengan kalimat yang lebih menarik, Jalaluddin Rumi dalam puisinya mengutarakan unek-uneknya: "Aku bukanlah orang nasrani, Aku bukanlah orang yahudi, Aku bukanlah orang majusi, dan Aku bukanlah orang islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu dalam 'suatu ruang murni' tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah."

Membaca puisi Rumi tersebut terangnya ia tidak sedang berparadigma ateis, sebab ia sendiri adalah teisme. Bahkan pergulatan batin akan pencapaian spiritual ketuhanannya ia ekspresikan dalam banyak puisi yang mengagumkan bahkan sering dirujuk oleh kaum beragama.

Sekali lagi, Rumi melalui puisinya itu tidak sedang memengaruhi khalayak menjadi ateis. Ia sedang berilustrasi akan kedudukan jiwa yang terbebas dari segala macam ikatan untuk terbang menjulang tinggi setinggi-tingginya. ‘Aku’ lebih rasional dimaknai bukan aku biasa, tetapi aku yang sudah melebur menjadi Aku. Untuk mencapai kedudukan Aku, ia telah melampaui baik-buruk dan benar-salah.

Dengan kalimat yang lebih sederhana, Rumi seakan sedang berbicara tentang betapa pentingnya memahami eksistensi agama dan Tuhan. Keduanya adalah berbeda. Tuhan bukan agama dan agama bukan tuhan. Seolah Rumi sedang menggugat para pemeluk agama yang ribut soal agama, namun melupakan Tuhan yang maha pengasih lagi penyayang.