Dalam filsafat Buddhisme, disebutkan bahwa yang menyebabkan seseorang tidak dapat lepas dari roda tumimbal lahir adalah terdapatnya kotoran batin yang merupakan bibit dari kelahiran itu sendiri, sehingga seseorang akan terus terlahir merasakan penderitaan di dalam samsara (siklus kelahiran-kematian).

Disebutkan bahwa kotoran batin yang paling dasar dan paling sulit dikikis adalah ego atau keakuan. Ego atau keakuan inilah yang kemudian akan melahirkan kotoran batin dan penderitaan lain, seperti keserakahan, konflik sosial, kebencian, serta iri hati.

Dalam budaya konsumerisme, ego ini adalah instrumen halus yang menggerakan pasar kapitalisme. Ego merupakan alasan seseorang berperilaku konsumtif. Baik demi status sosial ataupun menikmati kemewahan dan kenyamanan, ego inilah yang sesungguhnya dijual dan ditawarkan oleh industri kapitalis melalui beragam barang dan jasa dengan harga yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki cukup uang.

Dengan hadirnya status sosial yang terkategorikan oleh mampu tidaknya seseorang untuk membeli ego, maka kesenjangan sosioekonomi pun terjadi. Munculah istilah si kaya dan si miskin. Munculah kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas. Munculah kaum priayi dan kaum liyan.

Stratifikasi kelas sosioekonomi akhirnya melahirkan konflik-konflik sosial dalam masyarakat, dari kasus pencurian hingga kekerasan. Konflik-konflik ini pada dasarnya lahir karena alasan yang sudah dapat ditebak, yaitu keserakahan dan iri hati.

Sebagai contoh atas pembagian kelas sosial, masyarakat kita sudah terbiasa membedakan antara majikan dengan pesuruhnya, yang mana majikan sudah sewajarnya memiliki uang dan kekuasaan, sedangkan pesuruh identik dengan kotor, debu, rendah, dan miskin. Tidak jarang kita menemukan seorang majikan bersikap sewenang-wenang kepada pesuruhnya, seolah berhak berkata kasar dan membentak pesuruhnya, sedangkan pesuruh wajib patuh dan wajar menerima hardikan dari majikannya.

Pembagian kelas sosial seperti ini, beserta “hak-hak khusus” yang diperoleh karenanya, menyebabkan banyak orang berlomba-lomba untuk bisa berada di posisi “majikan”, dan memenuhi semua keinginan egoismenya.

Dalam rangka mencapai hal ini, ketika bekerja saja tak cukup, akhirnya lahir kasus-kasus pencurian karena seseorang ingin memenuhi kehausan egonya dalam memiliki beragam benda yang bisa menjadi simbol atas status dan kemewahan dalam budaya konsumerisme. Kasus korupsi dan penghindaran pajak yang ramai dibicarakan pun tak lain adalah buah akibat dari sistem kapitalisme dan budaya konsumerisme ini, yang mana orang berbondong-bondong ingin memperkaya diri agar dapat berperilaku konsumtif untuk meningkatkan status sosialnya.

Di sisi lain, “keakuan” adalah alasan mengapa kita cenderung mendahulukan “kepentinganku”, “kenyamananku”, “kebahagianku”, dan segala “-ku” lainnya. Kita berlomba-lomba mencari kemewahan sekalipun itu dengan jalan instan dan curang serta merugikan pihak lain untuk memenuhi keinginan si “aku” ini. Kita jadi melupakan keberadaan orang lain, kesulitan orang lain, kebutuhan orang lain. Kita merasa bahwa diri kita adalah yang paling penting di dunia ini.

Kita mengabaikan karakter sosial dan komunal pada kodrat manusia sebagaimana yang disebutkan dalam teori evolusi bahwa justru dengan membentuk kelompok yang harmonis dan mempedulikan antar-anggotanya maka tiap-tiap individu akan lebih terjamin keamanan dan kesejahteraannya, sehingga yang terpenting bagi kita adalah memperkaya diri sendiri dan membiarkan orang lain tetap dalam kondisi miskin. Tidak lagi kita memahami pentingnya kepemilikan bersama, tapi kita hanya tahu soal kepemilikian pribadi.

Industri kapitalis menyadari perilaku yang demikian sehingga mereka memanfaatkannya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara mempromosikan bahwa dengan memenuhi ego atau keakuan, maka kita akan mendapatkan kepuasan. Semakin mampu membeli barang dan jasa dengan harga yang mahal, maka harga diri juga semakin meningkat. Semakin memiliki pesuruh, semakin merasa dirinya adalah golongan priayi atau kelas menengah atas yang punya hak ditinggikan oleh orang lain (jika bukan merendahkan orang lain).

Era media sosial saat ini memperburuk kondisi tersebut. Jika dulu kebanggaan atas status sosial hanya bisa ditunjukkan pada lingkungan sekitar dan keluarga atau kerabat dekat, saat ini hal itu bisa ditunjukkan ke semua orang yang tidak kita kenal sekalipun dengan mengunggahnya ke media sosial. Beragam gambar dan tagar kita tampilkan di berbagai akun media sosial sebagai bukti atas status sosial yang kita banggakan.

Semakin memberi makan pada ego, maka seseorang semakin merasa puas. Semakin membuat orang lain iri hati, semakin seseorang merasa bangga dan lebih tinggi statusnya. Perilaku seperti ini akan menjadi adiksi dan mendorong seseorang untuk merepetisi perbuatannya yang dia anggap membawa kepuasan tersebut.

Dari sini dapat kita lihat bagaimana bahayanya sistem kapitalisme dalam mempengaruhi perilaku dan gaya hidup konsumerisme seseorang. Rantai lingkaran setan antara keakuan dan sistem kapitalisme semakin menjerumuskan pola perilaku masyarakat ke dalam beragam masalah. Hal inilah yang akhirnya akan menyebabkan jurang pemisah antara yang kaya dan miskin semakin besar dan dalam, semakin menindas yang di bawah.

Kita menjadi manusia-manusia yang mengutamakan kompetisi, tidak peduli apakah berbuat curang atau jujur, tidak peduli sekalipun itu menjatuhkan orang lain, dan tidak memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain. Bahkan mungkin kita akan sedemikian rupa mempertahankan kondisi kemiskinan pada orang lain agar status sosial kita tetap terjaga.

Dengan dalih manusiawi dan apresiasi terhadap kreativitas mencari peluang usaha, kita telah mengizinkan masyarakat kita terkotak-kotakan ke dalam si kaya dan si miskin. Kita membiarkan sebuah keluarga tinggal dalam rumah besar atau bahkan memiliki lebih dari satu rumah di saat banyak keluarga lain tidak memiliki rumah. Kita telah membiarkan seseorang membuang makanan yang dibeli dengan harga mahal di saat orang lain mengais sampah untuk mencari sisa makanan.

Inilah bentuk perbudakan di zaman modern. Si borjuis memperbudak si proletar melalui sistem perekonomian dan kompetisi antar-individu yang sejak awal tidak berimbang. Kita semua diperbudak oleh sistem kapitalisme untuk terus memenuhi ego dengan iming-iming meningkatnya status sosial dan kemewahan.

Kita dibuat percaya pada individualitas dan lupa bahwa keberadaan kita sesungguhnya ditopang oleh keterhubungan antara individu tersebut dalam kesetaraan sosial dan kekuatan komunal. Dan semakin lama, integritas kita pun semakin tergerus oleh perilaku keserakahan yang terbentuk melalui sistem yang demikian.

Society does not consist of individuals, but expresses the sum of interrelations, the relations within which these individuals stand. (Karl Marx, Grundrisse, 1858)