Risiko adalah hal yang selalu ada di setiap hal. Atlet sepak bola memiliki risiko untuk cedera atau pembalap motor berisiko untuk mengalami kecelakaan saat balapan berlangsung. Hal serupa terjadi saat kita melakukan investasi.

Secara umum ada dua sumber risiko yang mungkin terjadi di dalam dunia finance. Risiko pertama disebut dengan systematic risk atau beta (β). Sedangkan risiko kedua disebut dengan non-systematic risk.

Systematic risk adalah risiko yang terjadi oleh berbagai faktor dalam sekala besar (makro ekonomi). Inflasi, perubahan siklus bisnis secara global, hubungan antar negara dalam pengaruh geopolitik dan suku bunga adalah beberapa contoh yang mempengaruhi performa portofolio investor.

Faktor di atas tidak bisa diprediksi dengan pasti, sehingga kita sulit untuk menekan risiko tersebut. Akan tetapi, kita dapat menjaga systematic risk dalam porsi yang wajar. Salah satunya adalah dengan memasukkan jenis financial asset seperti fixed income di portofolio.

Non-systematic risk adalah risiko yang terjadi secara mikro, dengan kata lain disebabkan oleh faktor yang dipengaruhi oleh masing-masing industri. Risiko bisa ditekan dengan melakukan diversifikasi di portofolio investor.

Sebelum membahas lebih jauh, kita sebaiknya pahami terlebih dahulu konsep dasar tentang diversifikasi. Pada dasarnya diversifikasi adalah suatu penganekaragaman. Di dunia finance, diversifikasi dapat diartikan sebagai suatu pola untuk mengalokasikan investasi ke berbagai macam jenis.

Sebagai contoh, seorang investor memiliki dua jenis saham dari industri yang berbeda yaitu Pfizer perusahaan obat di bidang kesehatan dan Zoom perusahaan komunikasi teknologi di bidang teknologi.

Dikutip dari The Guardian pada tanggal 9 November 2020, ketika Pfizer mengumumkan bahwa vaksin yang mereka ciptakan 90% efektif dalam tahap percobaan, pasar merespons cukup positif. Seperti FTSE 100 yang melonjak 4.7% dan tentu harga saham Pfizer juga meningkat 11%.).

Sebaliknya, harga saham perusahaan teknologi seperti Zoom mengalami penurunan. Mereka kehilangan nilai dari saham tersebut berkisar 14%.

Melihat skenario di atas, terlihat jelas bahwa dua efek yang saling bertolak belakang. Dengan kata lain, peristiwa seperti ini akan menstabilkan portofolio investor tersebut. Melakukan diversifikasi akan membantu portofolio kita untuk mengeliminasi unsystematic risk tersebut.

Bagaimana jika kita hanya memiliki beberapa saham dari satu bidang industri saja? Berdasarkan contoh di atas, portofolio return yang akan diterima oleh investor akan sangat berisiko. Risiko yang diterima oleh investor adalah risiko yang disebabkan oleh  kedua faktor tersebut yaitu makro dan mikro.

Diversifikasi juga bisa dilakukan untuk dua jenis aset yang berbeda. Kombinasi saham (shares) dan obligasi (bonds) menjadi salah satu contoh kombinasi dalam satu portofolio. Tentu saja, investor perlu menentukan proporsi persentase untuk alokasi kedua aset ini.

Risiko portfolio tergantung terhadap korelasi antara hasil aset portofolio yang akan diterima. Seperti yang kita tahu ada dua jenis korelasi yakni positif korelasi dan negatif korelasi.

Positif korelasi adalah ketika dua variable berjalan dengan arah yang sama. Mulai dari nol (0) sampai satu (1) sebagai parameter. Perfek korelasi ketika portofolio kita mencapai satu. Namun, portofolio risiko sulit untuk ditekan ketika positif korelasi terjadi.

Investor sangat beruntung jika portofolio mereka memperlihatkan pergerakan yang positif. Namun, bagaimana jika aset di portofolio kita menunjukkan perurunan harga? Strategi ini akan terlihat sia-sia karena investor akan mengalami kerugian dua kali lipat.

Hal selanjutnya adalah negatif korelasi. Pada dasarnya negatif korelasi terjadi ketika pergerakan dua aset di portofolio saling bertolak belakang. Parameter untuk menentukan korelasi tersebut adalah nol (0) sampai negatif satu (-1), dimana negatif satu adalah perfek korelasi.

Contoh dari negatif korelasi adalah ketika mengalokasikan jenis aset di saham dan obligasi untuk jangka panjang. Dalam waktu tertentu, ketika harga saham naik, harga dari obligasi cenderung turun atau sebaliknya. Portofolio risiko terlihat sangat berkurang ketika dua jenis aset saling mengimbangi.

Jika kita kembali ke pengantar di awal bahwa atlet sepak bola rentan dengan cedera, namun mereka dapat melakukan latihan seperti penguatan otot untuk menekan risiko atlet tersebut mengalami cedera. Akan tetapi, cedera akan selalu menerpa atlet ketika bertanding di lapangan.

Sama halnya dengan melakukan investasi. Meskipun kita sudah melakukan diversifikasi portofolio, risiko tidak mungkin hilang 100%. Kita hanya bisa menurunkan persentase risiko yang akan kita terima.

Kita sebagai investor baik pemula atau yang sudah berpengalaman, sebaiknya menentukan jenis aset mana yang baik untuk melakukan kombinasi. Berdiskusi dengan manajer investasi menjadi salah satu cara untuk menentukan diversifikasi yang terpat untuk portofolio kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi investor pemula atau yang sudah berpengalaman ketika ingin menyusun atau memperbaiki portofolio, agar kestabilan portofolio dari seorang investor dapat terjaga untuk jangka panjang atau pendek.