Theodore L. Dorpat (2007), psikiater forensik ternama dari Montana, menjelaskan dalam bukunya yang menjadi best-seller, Crimes of Punishment, bahwa hukuman didasarkan pada asumsi bahwa tiap orang, anak atau dewasa, dapat menyadari bahwa mereka telah melakukan pelanggaran, dan kemudian menyatakan penyesalannya. 

Dengan perkataan lain, hukuman dibuat oleh si penghukum agar dengan “penderitaan” yang dialami oleh mereka yang menerima hukuman, mereka dapat memahami kesalahannya, untuk kemudian bertobat dan menjadi lebih baik. 

Namun demikian, hukuman sepertinya tidak mampu mencapai tujuannya, untuk menjadikan seseorang lebih baik, untuk tidak lagi melakukan apa yang tidak dapat diharapkan. 

Hukuman terbukti tidak efektif dengan diulanginya kembali kesalahan yang kurang lebih sama oleh orang yang sama. Atau bahkan mereka menjadi lebih buruk dari ketika mereka belum pernah menerima hukuman tersebut. Jika diperhatikan, anak yang dianggap “nakal” seringkali adalah anak yang sama. 

Sejumlah bukti juga menunjukkan bahwa pemenjaraan tidak membuat seseorang menjadi lebih baik. Bentuk hukuman yang satu ini tidak berhasil menjalankan fungsinya dalam memberi efek jera baik bagi orang lain maupun bagi pelaku sendiri. 

Tidak sedikit pelaku  kembali melakukan kejahatan yang sama dalam waktu tidak lama setelah ia keluar dari penjara. Dua pertiga dari mantan napi di New Jersey kembali melakukan pelanggaran dalam dua tahun (McRandle (2009). 

Hampir 75% mantan napi di Skotlandia kembali melakukan kejahatan dalam waktu dua tahun setelah keluar dari penjara (berdasarkan surat kabar Herald Scotland).

Jumlah narapidana yang bunuh diri di penjara juga mencapai angka yang memprihatinkan. Dorpat (2007) menemukan tingkat bunuh diri di rutan sedikitnya mencapai 5 kali lebih tinggi, dan tingkat bunuh diri di penjara mencapai 2 kali lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya. 

Penjara di Prancis juga sedang diselidiki sistem penanganannya karena banyaknya narapidana yang bunuh diri. Di salah satu penjaranya, La Sante, lebih dari seratus narapidana bunuh diri setiap tahunnya. 

Di Indonesia meskipun tidak ada data pasti mengenai narapidana atau tahanan yang bunuh diri, melalui penelusuran surat kabar saya menemukan setiap bulannya selalu ada berita mengenai narapidana yang bunuh diri. 

Bunuh diri biasanya terkait erat dengan gangguan depresi yang dialami para tahanan atau narapidana. Sejumlah penelitian yang dikaji Dorpat menunjukkan gangguan ini memang banyak dialami para tahanan dan narapidana. 

Bunuh sendiri banyak terjadi pada hari-hari pertama mereka di penjara. Bila mereka berhasil melewati hari-hari pertama ini tanpa bunuh diri, bukan berarti mereka terlepas dari depresi, kecemasan, dan kondisi mental yang negatif lainnya. 

Dalam bukunya, Dorpat menegaskan bahwa sebagian besar narapidana dirusak oleh pengalaman mereka di penjara dan menjadi lebih buruk secara psikologis ketika mereka keluar dari penjara dibandingkan ketika pertama kali mereka masuk.

Mengapa demikian? Apakah benar yang dikatakan Skinner bahwa hukuman memang tidak efektif, termasuk pemenjaraan? Tetapi mengapa masih banyak orang yang percaya akan efektivitas hukuman? 

Sering kali guru atau orang tua meyakini bahwa hukumannya efektif ketika anak-anak yang sering mereka hukum ini kelak berprestasi. Masyarakat juga meyakini bahwa penjara membuka jalan pertobatan bagi para kriminal ketika mereka melihat sejumlah orang yang sadar, tidak lagi melakukan tindak kriminal, dan bahkan menjadi pemuka agama. 

Keyakinan ini semakin diperkuat ketika tidak hanya satu orang yang meyakininya, dan kelompok orang yang percaya akan hal ini berbincang satu sama lain untuk saling meneguhkan kepercayaannya. 

Dengan kata lain, orang-orang yang senang menghukum ini mendapatkan penguatan (reinforcement) akan keyakinan mereka terhadap efektivitas hukuman. 

Saya mengenal seorang guru yang senang menghukum muridnya secara verbal. Ia menceritakan bahwa ia bertemu dengan murid-muridnya terdahulu yang membenarkan tindakannya yang gemar memaki dan menghina murid. 

Mereka bahkan mengatakan bahwa makian sang guru ternyata berguna untuk menguatkan mental mereka ketika bertemu dengan guru-guru lain yang jauh lebih senang menghukum di kelas-kelas selanjutnya. 

Sebuah kesimpulan yang mengenaskan. Mengenaskan karena sang guru bangga telah mendapat pujian untuk hukuman yang ia lakukan, dan sang murid berterima kasih untuk hukuman yang tidak seharusnya mereka terima hanya karena mereka kembali mendapatkan hukuman yang lebih berat. Mengenaskan karena dunia pendidikan kita penuh hukuman dan kekerasan. 

Jika kita memberi hukuman dan menyimpulkan hal yang sama untuk beberapa hal di atas, kita telah mengalami confirmatory bias dan illusionary correlation

Confirmatory bias dapat diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk menyukai informasi yang mendukung keyakinan mereka (Myers, 2008). 

Bias ini biasanya terjadi karena kita senang mendengar apa yang ingin kita dengar. Jika kita senang menghukum, maka yang ingin kita dengar adalah bahwa hukuman kita efektif. Ketika hal itulah yang kita dengar, kita akan semakin meyakini apa yang kita yakini. 

Mekanisme otak manusia akan lebih cepat menangkap hal-hal yang mendukung keyakinannya. Sementara otak harus berproses keras untuk memahami hal yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini. 

Hal ini pula yang menurut Myers telah mendorong manusia melakukan illusionary correlation, yaitu melihat adanya hubungan antara dua hal padahal yang terjadi tidaklah demikian. 

Kita melihat bahwa hukuman akan membawa keberhasilan atau perbaikan karena ada yang menjadi lebih baik setelah mendapat hukuman. Kita menyimpulkan bahwa hukuman berkorelasi dengan perubahan positif, padahal tidak demikian. 

Korelasi yang ada hanyalah ilusi yang dipengaruhi pula oleh confirmatory bias.

Dopart menegaskan bahwa kesimpulan-kesimpulan tersebut sama sekali tidak benar. Orang-orang ini berhasil bukan karena mendapat hukuman, melainkan mereka berhasil meskipun mereka mendapat hukuman. 

Saya setuju dengan pandangan Dopart. Hukuman tidak dapat menghindarkan seorang murid dari kewajibannya untuk lulus atau naik kelas. Oleh sebab itu, meski malu, takut, dan tertekan, sebagian murid sadar bahwa mereka harus berjuang untuk kelulusan mereka. 

Saya kira orang tua atau guru yang senang menghukum harus memahami hal ini. Jika tidak, mereka hanya menambah beban anak-anak yang berusaha dengan gigih untuk mencapai prestasi dalam situasi yang sedemikian menekan. 

Lebih buruk lagi, kadang orang-orang yang menghukum berdalih bahwa mereka sedang menguji mental orang yang mereka hukum. Pertanyaannya adalah apakah benar mereka menguji mental, dan bukan menghancurkan? Dalam tulisan selanjutnya, kita akan melihat bagaimana hukuman membawa keburukan. 

Dalam kesempatan ini, saya hendak meralat ilustrasi pada tulisan