Pekerja
2 tahun lalu · 70 view · 1 menit baca · Puisi d15.jpg

Efek Secangkir Cinta Kartini

Pagi,
Lalu mentari melenggang menuju terang
Menepuk pipiku
Mengajakku berjalan, sedikit cepat dari biasanya
Tapi nyatanya, aku harus berlari, anakku menunggu nasi yang kubeli….
Kepulan asap kopi tak murni, menari-nari
Menguap lantas terbang

Kacamata merah tergeletak dingin
Jari jemari kembali pada huruf-huruf mimpi 
Menyala diujung sebatang racun
Terhisap dalam-dalam
Lalu menumpuk rapi di rongga dada
… menunggu stadium berikutnya

Muka pucat memeluk kata
Aku telah terlupa, bahwa hati harusnya tahu diri bukan membodohi diri
Napas yang meraga terbata-bata
Sebab semesta masih jauh dari nyata
Senja, apa kabarmu?
Sisakan aku di sepenggal waktumu
Bersamanya
Bersama dia
Bersama ia
Bersama seseorang yang debatnya berkali-kali menamparku

Ah…  aku rindu
Habislah gelap terbitlah terang
Setengahnya aku terbang
Tanpa sayap yang kupinjam
Mati-matian mencari langit yang bernama AKU

Rembulan retak tadi malam
Remahannya terbawa angin
Langit menangis, resah
Lautan mencari penghuninya
Riaknya menghempas keras batu karang seraya berkata… aku inginkan hidupku!

Dan aku sudahi menjadi srigala bermuka singa
Menghentikan puisi bernafsu
Menyala-nyala
Tapi apa bisa?
Sedang taring-taring kata masih garang
Sedang kepala masih tertutup sarang laba-laba

Tapi… ilalang menyapa pelan, tersenyum sayang, memeluk rasa dengan segenggam penuh pengharapan
Ah mimpi, aku terlalu menumpukmu di rak-rak berdebu
Jendela bisu kamarku terbatuk-batuk
Dinding putih bukan penghalang
Lantai jernih bukan jalanan petualang

Lantas hape bersuara tentang penantian Kartini  tanpa suami
Kuatkah?
Tentu saja, sebab secangkir cinta tak pernah tertebas habis oleh caci-maki

Ini tentang perempuan...
Berkerudung hitam, duduk diam pada sudut bangku taman
Selamat sore, apa kabarmu?... Angin menyapa pelan
Tanpa menoleh perempuan itu menjawab… Kamu tahu aku sedang menunggu seseorang, katakan padanya aku masih di sini

Tiba-tiba beberapa daun berguguran di rerumputan, ranting-ranting bergerak resah dan akar-akarnya terhisap tanah merah beraroma payah
Angin tersenyum, bersiul lantas berputar-putar membentuk lingkaran
Perempuan itu tetap diam bertahan…

Ini tentang perempuan, berkerudung hitam, tertunduk bisu pada sudut ruang tunggu, rindu…

Artikel Terkait