Pada 2007, sehari sebelum perayaan kemerdekaan Indonesia, tiga anak muda merilis album pertama. Mereka menyebutnya Efek Rumah Kaca — judul salah satu lagu di album tersebut yang sekaligus menjadi nama grup musik mereka.

Efek Rumah Kaca (ERK) muncul ketika industri musik Indonesia sedang didominasi lagu-lagu cengeng, mendayu-dayu, dan miskin makna. Dua single pertama mereka, Jatuh Cinta Biasa Saja dan Cinta Melulu, dianggap sebagai kritikan atas fenomena tersebut.

Kedua lagu yang membuat mereka terkenal itu, bagi saya, bukan sekadar kritikan atas dunia musik Indonesia. Grup musik yang sering mengangkat tema sosial-politik ini— yang baru saja mengeluarkan album ketiga mereka— tidak hanya menumpahkan kejengahan karena cinta menjadi komoditas murahan.

Mereka mengkritik cara kita memahami cinta. Lebih jauh, mereka melakukan apa yang disebutkan oleh Arthur Rimbaud dalam buku Une Saison en Enfer (A Season in Hell).

Seperti kita tahucinta butuh ditemukan kembali,” kata penyair Prancis yang pernah berada di Jawa selama beberapa minggu pada 1876 itu.

***

Setahun setelah ERK meluncurkan album debut, berlangsung percakapan tentang cinta antara Alain Badiou, dan wartawan Le Monde, Nicolas Truong, di hadapan pengunjung Festival Avignon di Paris.

Badiou muak melihat cinta menjadi komoditas yang kering — terutama dipelopori oleh situs-situs kencan di Internet. Perlakuan semacam itu, bagi Badiou, juga berarti penghancuran atas cinta. Dalam ancaman musnahnya cinta sebagai kebenaran, Badiou melihat tugas filsafat untuk menyelamatkannya.

Badiou memang sering disebut sebagai salah satu pemikir terdepan yang meletakkan filsafat kembali ke posisi penting.

Setelah direvisi, pada 2009, transkrip percakapan antara Badiou dan Troung terbit sebagai buku, Éloge de l’amour (In Praise of Love), meminjam judul salah satu film Jean-Luc Godard.

Dalam buku tersebutBadiou memaparkan sejumlah perihal mengenai cinta — persoalan paling licin dari kehidupan manusia yang menurutnya sering dihindari dan disalahtafsirkan para filsuf dan pemikir dunia. Salah satu musuh cinta, bagi Badiou adalah situs kencan online . Dalam kasus ERK musuh tersebut adalah industri musik.

Berangkat dari buku-buku terdahulunya, terutama Being and Event, Badiou memberi uraian yang lebih masuk akal mengenai cinta. Dia mengkritik pandangan para filsuf pendahulu yang melulu melihat cinta dari sudut pandang hasrat dan moralitas.

Cinta bukan kontrak antara dua orang yang mencintai diri sendiri melalui orang lain. “Cinta adalah bangunan yang memaksa dua individu untuk melampaui narsisme,” kata Badiou.

Cinta, bagi Badiou, adalah pikiran, logika murni. Dia mengutip ujaran penyair Portugal, Fernando Pessoa: Love is a thought.

Badiou menunjukkan analisis dari struktur arena cinta dan transformasinya menjadi prosedur kebenaran. Ia juga memaparkan keterkaitan cinta dengan politik dan seni.

Dalam hubungannya dengan politik, misalnya, Badiou menyebut cinta sebagai komunisme mungil.

“[T]he real subject of a love is the becoming of the couple and not the mere satisfaction of the individuals that are its component parts. Yet another possible definition of love: minimal communism!”

***

Pada November 2012, Roman Krznaric menerbitkan The Wonderbox: Curious Histories of How to Live. Dalam buku itu, Krznaric melihat ada satu perihal yang seharusnya mendapatkan perhatian serius.

Krznaric melihat cara kita memaknai cinta semakin sempit. Salah satu persoalannya adalah bahasa. Di Indonesia, dalam segala segi kehidupan, kita umumnya hanya menggunakan kata ‘cinta’ — kata love untuk kasus yang dibahas Krznaric.

Pecinta kopi tahu bahwa ada banyak istilah untuk menyebut beragam jenis olahan kopi. Espresso, latte, cappuccino, frappuccino, mochaccino, macchiato, dan seterusnya. Tapi, kita tampaknya hanya kenal satu jenis cinta — atau menggunakan satu kata untuk menyebut beragam tipe cinta.

Kebudayaan Yunani mengenal enam tipe cinta dengan nama berbeda.

Ada eros untuk jenis cinta yang penuh hasrat seksual. Ada philia untuk menyebut cinta yang lebih berorientasi persahabatan dan persaudaraan. Ada ludus untuk cinta yang kekanak-kanakan dan agape untuk cinta yang lebih radikal — jenis cinta yang bisa membuat kita berempati kepada manusia atau mahluk lain.

Mereka juga mengenal pragma. Jenis cinta inilah yang dalam bahasa Erich Fromm bisa membuat kita “stand in love”, bukan semata “fall in love”. Ketika Anda berpikir tentang angka perceraian yang terus meningkat, seperti yang diresahkan Badiou di bukunya, hal itu disebabkan oleh hilangnya makna cinta jenis ini.

Terakhir, ada philautia atau cinta kepada diri sendiri. Ada dua macamphilautia. Jenis yang menghancurkan adalah terobsesi kepada diri sendiri, misalnya, terus-menerus berusaha menggapai ketenaran personal dan semacamnya. Tapi, ada jenis yang lebih sehat. Aristoteles menyebutnya, “All friendly feelings for others are an extension of man’s feelings for himself.”

Salah satu persoalan dari hal yang dikritik ERK dan Badiou adalah karena makna cinta menjadi cenderung tunggal. Lihatlah, bagaimana ERK bahkan tidak bisa dan tidak secara khusus menyebut jenis cinta apa yang mereka sebut klise dan banal.

Dalam kritiknya, ERK tidak menyebut cinta macam apa yang mereka sebut menye-menye. Apakah setiap kali kita membicarakan cinta kita akan disebut mendayu-dayu? Bukankah, jika melihat penjelasan Badiou, membicarakan cinta bisa juga berarti membicakan politik dan seni? 

Bahasa Indonesia sesungguhnya tidak terlampau miskin. Selain cinta, ada kata asmara, kasih, sayang, dan sejumlah kata lain yang maknanya miripNamun, kata-kata tersebut tidak memiliki makna spesifik. Anda mungkin akan bingung membedakan makna masing-masing kata tersebut.

Kita harus berani memaknai ulang kata-kata itu untuk menyelamatkan cinta dari komodifikasi. Barangkali usaha semacam itu bagus dimulai dari karya sastra . Remy Sylado pernah mencobanya dengan, misalnya, ‘mendefinisikan’ perempuan dan wanita dalam novel Ca Bau Kan.