“Gue sudah like, ya!”

Pernah membaca komen seperti kalimat di atas di sebuah postingan instagram? Iya, biasanya pada kolom komen akun remaja. Aku hanya mengira-ngira, mungkin mereka ada perjanjian “lu like 1 postingan gue, gue like 1 postingan lu.” Semacam “Like for like”?

Dulu pernah baca di laman sebuah akun Facebook, “Yang tidak like foto ini berarti iri,” tulisnya. Mungkin bercanda maksudnya. Tapi begitulah romantika jika jumlah like menjadi ukuran kesuksesan sebuah unggahan. Di balik sisi positif, keberadaan fitur like juga ternyata memiliki sisi negatif.

Ketika jumlah like dijadikan ukuran kesuksesan, maka beberapa hal negatif muncul ke permukaan. Persaingan jumlah like menjadi tidak terhindarkan. Rata-rata jumlah like pada tiap unggahan sebuah akun dapat menjadi matrik bagi pengusaha atau produk untuk menggunakan jasanya.

Akun yang memiliki follower banyak dan selalu mendapat like dan komen yang juga banyak dari followernya disebut juga influencer, sering memanfaatkan akunnya sebagai markerter untuk mempromosikan produk atau jasa orang lain. Sebuah brand tidak akan mau mengiklankan produknya di sebuah akun bila jumlah rata-rata like diunggahannya sedikit.

Jumlah follower juga sangat menentukan harga sekali unggah sebuah foto produk/jasa di sebuah akun influencer. Harga sekali unggah foto produk di sebuah akun dengan follower 100.000 akan berbeda dengan akun dengan jumlah follower 1 juta.

Saat ini, Kyle Jenner memegang rekor dengan harga tertinggi untuk 1 kali unggah brand produk, yaitu sekitar USD 1 juta atau Rp14 miliar! Jumlah follower Kyle saat ini sama dengan kakaknya Kim Kardashian, yaitu 153 juta followers!

Memang tidak semua, tapi banyak orang sangat bernafsu untuk memperbanyak jumlah follower yang biasanya bertambah juga jumlah like, sehingga dapat menggaet perusahaan untuk beriklan di akun Instagramnya.

Tak bisa dimungkiri, saat ini, zaman ini, semua orang menjadi attention seeker (pencari perhatian). Mulai dari yang minim followers hingga yang memiliki ratusan juta. Hal yang dikejar semua sama, yakni jumlah like dan puja-puji. Ibarat menanam padi, biasanya ilalang pun ikut tumbuh. Di antara puja-puji, caci maki dan hujatan pun sering menyertai.

Demi konten yang menarik dan berharap dapat jumlah like yang banyak, para pemilik akun melakukan hal-hal yang berisiko tinggi, seperti selfie di ketinggian atau tempat-tempat berbahaya. Berpose cantik sopan hingga nyeleneh nyaris telanjang, mencicipi makanan yang normal hingga memakan hal-hal yang tidak wajar. Semua demi like.

Aktualisasi diri, demikian para pengejar like ini menjelaskan. Perang diam-diam jumlah like ini tidak hanya di Instagram, tapi hampir semua media sosia, seperti facebook, twitter, youtube, tik-tok, dan lain-lain.  

Beberapa tahun belakangan ini, praktisi kesehatan dan pengamat media sosial mulai khawatir akan efek negatif dari fitur like tersebut. Rasa bangga bila jumlah like-nya banyak dan rasa kesal bahkan depresi bila jumlah like tidak sesuai yang diharapkan. Dan lucunya, jumlah like atau view dari sebuah unggahan kadang tidak bisa diprediksi.

Saya contohkan artikel, karena saya lebih peduli artikel daripada foto yang saya unggah di IG dan FB. Tulisan yang saya bikin dengan serius dengan memaparkan data yang saya kumpulkan dari berbagai sumber kurang diminati dibanding tulisan yang saya bikin tak serius dan tanpa dukungan data.

Hasil penelitian menemukan bahwa makin tinggi durasi seseorang menggunakan media sosial, maka makin tinggi juga risikonya mengalami kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, perasaan kesepian dan isolasi, harga diri yang lebih rendah, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Keinginan bunuh diri ini sering kali terjadi karena cyber bullying (perundungan secara siber) yang makin dahsyat yang sering kali mengakibatkan runtuhnya rasa percaya diri seseorang dan menganggap dirinya gagal. Kabarnya, Sully, artis Korea Selatan, bunuh diri karena tidak tahan dengan bullying di akun media sosialnya.

Demi mengurangi faktor negatif tersebut, pada Juli 2018 yang lalu, Instagram melakukan uji coba menghilangkan jumlah like pada Instagram di enam negara, yaitu Irlandia, Italia, Jepang, Brazil, Australia, dan Selandia Baru. Pemilik akun masih dapat melihat siapa saja yang me-like unggahannya, tapi tidak tercantum jumlahnya.

Alasan Instagram menghilangkan jumlah like adalah supaya pengikut akun hanya fokus pada foto atau video yang diunggah, bukan pada jumlah like-nya.

Dari uji coba itu, ternyata hal positif lebih banyak didapat sehingga Instagram menghilangkan jumlah like dan diganti dengan kata “others” atau “thousands of others” atau “millions of others”. Pergantian ini dapat mengurangi stres bagi pemilik akun, terutama pemilik akun yang berusia muda.

Tapi rasa stres itu dipindahkan kepada para influencer. Mereka takut bila perubahan fitur ini membuat mereka akan kehilangan follower yang berdampak pada kehilangan pendapatan. Karena sudah rahasia umum bahwa banyak influencer yang menjadikan media sosial sebagai sumber penghasilannya.

Peter Deluce, seorang pelukis, mengatakan bahwa penghapusan jumlah like itu mungkin mengerikan bagi seniman yang baru muncul secara online. Karya mereka sering laku terjual bila ada akun dengan jumlah follower besar membagikan karya mereka. Dalam hal ini, jumlah like menjadi validasi kualitas sebuah karya sehingga laku dijual.

Tapi pendapat itu tidak terlalu valid juga karena banyaknya penjual jasa like dan follower. Kedua fitur itu sebenarnya tidak bisa lagi menjadi patokan utama perusahaan atau produk memilih influencer mempromosikan dagangan mereka. Nama tokoh di balik akun itu yang menjadi metrik utama.

Penelitian berdasarkan umur menunjukkan bahwa perempuan, terutama remaja putri, paling banyak mengalami depresi karena media sosial. Depresi itu karena terlalu banyak waktu dihabiskan di media sosial.

Begini, media sosial merusak mental seseorang, yakni terlalu fokus pada jumlah like, cyberbullying, selalu membuat perbandingan dengan akun lain, memiliki terlalu banyak teman palsu, dan kurangnya berinteraksi di dunia nyata.

Tips sederhana yang paling jitu bagi pengguna media sosial, terutama remaja yang mulai mengalami depresi, adalah TINGGALKAN MEDIA SOSIAL! Hapus semua akun di media sosial dan mulai lebih aktif berinteraksi dengan orang-orang di dunia nyata. Ingat kesehatanmu!