Meskipun jumlah bayi yang dilahirkan oleh pasangan keluarga baru di Indonesia saat ini cenderung menurun dibandingkan era 1970-an (sebelum ada program KB), akan tetapi jumlah penduduk Indonesia tetap tinggi.

Pada era 1970-an, keluarga Indonesia sangat menikmati paham keluarga besar. Akibatnya jumlah bayi yang dilahirkan saat itu rata-rata berjumlah 5 sampai 6 anak per keluarga.

Dampak dari jumlah kelahiran bayi yang tinggi era 1970-an berimbas pada terciptanya bonus demografi. Yaitu kondisi yang menunjukkan jumlah penduduk produktif (usia 15 – 64 tahun) berada pada jumlah yang besar.

Meskipun jumlah bayi yang dilahirkan oleh keluarga baru Indonesia saat ini telah menurun menjadi 2 sampai 3 anak per keluarga, akan tetapi jika dikumulatifkan dalam satu tahun akan terlahir 4 sampai 5 juta bayi dari total keluarga yang ada di Indonesia.

Jumlah ini masih tergolong tinggi dibandingkan harapan pemerintah melalui BKKBN yang menargetkan pada periode 2010-2035 jumlah kelahiran bayi menurun 1,93 anak per wanita.

Selain itu meningkatnya usia harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia yang telah mencapai 70,7 tahun menyebabkan tingkat harapan hidup penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat.

Sejak 2010, jumlah penduduk lansia terus mengalami peningkatan secara masif dan diperkirakan akan berjumlah 32,2 juta lansia pada 2035[i].

Mengamati dinamika kependudukan di atas, ada tiga hal yang dapat disimpulkan, pertama dan kedua adalah jumlah penduduk (usia 0 – 14 tahun) dan penduduk produktif (usia 15 – 64 tahun) Indonesia masih tinggi. Ketiga, jumlah penduduk lansia (64 tahun ke atas) terus bertambah.

 

Kondisi ini merupakan kabar bahagia bagi industri kertas. Mengapa demikian? Karena berdasarkan paradigma ilmu kependudukan antara kondisi yang satu dengan yang lain akan menghasilkan interelasi (saling keterkaitan) atau menghasilkan efek gema (echo effect)[ii]

Industri kertas selain dapat meraup keuntungan dari jumlah penduduk yang besar, juga dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan kependudukan di Indonesia.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa produk kertas dan turunannya selama ini menjadi kebutuhan besar bagi masyarakat. Mulai dari aktivitas menulis, mencetak, dan membungkus. Ada juga tissue yang sering digunakan untuk pelengkap hidangan dan kebersihan. Berikut ini beberapa contoh efek gema dinamika penduduk pada industri kertas.

Usia 0 – 14 tahun 

Bagi orang tua masa kini memang terdapat banyak pilihan yang dapat digunakan sebagai media belajar anak. Namun demikian, beredarnya informasi mengenai dampak buruk penggunaan media digital seperti gadget, smartphone, televisi dan lainnya terhadap perkembangan anak, menjadikan para orang tua mulai beralih pada media lama, yaitu buku dan kertas.

Ketakutan orang tua terhadap bahaya gadget membuat mereka sangat berhati-hati dalam memberikan gadget untuk anaknya. Beberapa penelitian menyatakan bahwa penggunaan gadget pada anak yang terlalu dini akan berpengaruh buruk pada karakter anak.

Sebuah studi tentang “Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak” yang dipublikasikan pada jurnal Media Komunikasi dan Sosial Keagamaan, November 2017 lalu menemukan bahwa dampak negatif penggunaan gadget pada anak lebih besar daripada dampak negatifnya[iii]. 

Beberapa dampak negatif yang diuraikan antara lain, radiasi yang dapat menyebabkan rusaknya jaringan syaraf dan otak anak, dan menurunnya daya aktif anak untuk berinteraksi dengan orang lain[iv].

Sebaliknya, penggunaan kertas sebagai media belajar bagi anak-anak memiliki beberapa kelebihan, antara lain; meningkatkan kreativitas. Anak yang belajar menggunakan kertas atau buku dapat berinteraksi langsung dengan media kertas.

Anak-anak dapat mengambar, menulis, melihat gambar-gambar, atau membaca beberapa cerita. Mereka juga dapat membentuk kertas menjadi apa saja yang mereka inginkan.

Kelebihan berikutnya, membaca melalui buku akan meningkatkan emosi positif yang terdapat dalam jiwa si anak. Temuan ini ditunjukkan oleh sebuah studi 2013 yang dipublikasikan pada jurnal science[v]. 

Buku-buku fiksi atau buku-buku cerita akan memberikan rangsangan positif terhadap emosi si anak, seperti meningkatkan rasa empati dan sifat sosialnya. Anak-anak akan lebih peduli terhadap temannya dan mudah dalam bergaul.

Kelebihan selanjutnya, membaca menggunakan buku akan meningkatkan fokus anak, karena dibandingkan dengan menggunakan media digital, kemampuan membaca dan ketahanan mata akan lebih tinggi.

Selain meningkatkan fokus, membaca buku teks juga akan berpengaruh besar terhadap keterampilan mensintesis, mengenal dan memecahkan masalah, menyimpulkan serta mengevaluasi.

Berdasarkan studi tentang “Hubungan antara Kemampuan Membaca Buku Teks Terhadap Hasil Belajar” yang dipublikasikan pada Studi Didaktika (Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan) 2017 lalu menemukan bahwa antara kemampuan membaca buku teks dan hasil belajar memiliki pengaruh yang positif. Itu artinya semakin banyak membaca buku teks, keterampilan dan hasil belajar seorang akan menjadi meningkat dan lebih baik[vi]. 

Manfaat lainnya dari penggunaan media kertas juga ditemukan oleh studi Wakefield Research yang menyatakan bahwa 95 persen generasi Z (generasi yang lahir pada 1995-2015) di Amerika yang mencatat di kertas mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak mencatat atau menggunakan media lainnya[vii]. 

Usia 15 – 64 Tahun

Masih sama dengan generasi sebelumnya, penggunaan kertas sebagai alat menulis, mengambar, membaca, dan mencetak masih digunakan pada penduduk usia 15 – 64 tahun.

Perbedaannya, penggunaan kertas pada penduduk usia 15 – 64 tahun lebih bervariasi dan bernilai ekonomis tinggi. Penggunaan kertas bukan sekedar perlengkapan namun lebih kepada kebutuhan hidup. Mulai dari pembungkus nasi, arsip perkantoran, serta bahan jualan dan kerajinan tangan yang bernilai jutaan rupiah.

Penduduk usia 15 – 64 tahun merupakan penduduk produktif yang pemikiran dan ide-idenya masih sangat fresh dan kreatif. Dengan demikian, industri kertas harus dapat melibatkan kelompok penduduk produktif ini dalam usaha pemanfaatan kertas yang tepat guna.

Industri kertas harus mengandeng penduduk usia produktif dalam upaya mensosialisasikan, memanfaatkan, dan mengelola kebermanfaatan kertas.

Upaya seperti gerakan literasi menulis tentang cerita kertas sangatlah patut diapresiasi. Karena melalui gerakan ini, ide-ide kreatif masyarakat dapat tersampaikan. Selain itu, industri kertas juga harus berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat seperti lembaga desa, sekolah, kampus, dan lainnya. Upaya ini bertujuan untuk memperluas usaha pengelolaan kebermanfaatan kertas secara tepat guna dikalangan masyarakat.

Usia 65+

Pada kelompok usia 65 tahun ke atas atau 65+, Industri kertas dapat menjadi sebuah solusi. Ketakutan pemerintah terhadap meningkatnya penduduk lansia selama ini adalah akan bertambahnya beban ekonomi. Karena penduduk lansia dipandang sebagai penduduk yang tidak produktif.

Karena pada usia ini, lansia dianggap akan mengalami penurunan jumlah pendapatan atau bahkan hilang. Di sisi lain jumlah pengeluaran mereka akan meningkat akibat kondisi kesehatan yang mulai menurun.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah strategi untuk menjaga “produktivitas” penduduk lansia supaya tidak hilang. Upaya yang dapat dilakukan salah satunya dengan melakukan pemberdayaan lansia melalui kegiatan membuat bahan kerajinan menggunakan kertas.

Namun demikian, produktivitas yang dimaksud disini bukanlah memperkerjakan lansia demi tujuan pendapatan semata. Makna produktivitas yang dimaksud lebih kepada kegiatan/aktivitas yang dapat dilakukan oleh lansia untuk mengisi waktu luang. Syukur-syukur jika menghasilkan uang, maka itu dapat dianggap sebagai bonus.

Para lansia dapat diajarkan dan didampingi untuk membuat berbagai bahan kerajinan kertas. Pembuatan kerajinan kertas dinilai tidak memerlukan tenaga yang ekstra sehingga masih memunkinkan untuk para lansia melakukannya.

Upaya yang lain, dapat dilakukan dengan memberikan berbagai bahan bacaan untuk lansia. Seperti halnya taman baca anak-anak, maka lansia pun nantinya akan sangat membutuhkan taman baca. Perbedaannya dengan buku anak-anak, taman baca lansia harus diperbanyak dengan buku bergambar dengan tulisan yang besar.

Selanjutnya, para lansia juga dapat diberikan media kertas sebagai alat untuk menuliskan segala rasa yang dialaminya. Biasanya para lansia, merupakan generasi lama (incumbent) yang kurang mengenal penggunaan teknologi digital. Untuk itu kertas merupakan alternatif terbaik bagi para lansia untuk menulis.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa efek gema dinamika penduduk pada peluang industri kertas di Indonesia masih sangat besar. Selagi jumlah bayi yang dilahirkan dan usia produktif masih tetap tinggi, dan penduduk lansia terus bertambah. Maka selama itu pula industri kertas akan terus ada dan besar.

Kemajuan teknologi bisa jadi mempengaruhi tingkat penggunaan kertas, namun demikian teknologi tidak akan pernah mengantikan kertas, karena antara kertas dan teknologi bersifat saling melengkapi.

Kertas dan penduduk ibarat pakaian dan badan. Kertas adalah pakaian dan penduduk adalah badan. Badan akan terlihat indah, anggun, dan rapi karena adanya pakaian. Begitupun penduduk, ia akan bernilai, maju, dan berkembang dengan adanya kertas. Karena sejatinya kertas adalah bukti sebuah peradaban manusia.

Referensi 

 [i] Adioetomo, Sri Moertaningsih dan Elda Luciana Pardede. 2018. Memetik Bonus Demografi Membangun Manusia Sejak Dini. Depok: Rajawali Pers.

 [ii] Ibid

 [iii] Chusna, Puji Asmaul. 2017. Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak. Jurnal Media Komunikasi dan Sosial Keagamaan, Vol. 17, No. 2, November 2017. http://ejournal.iain-tulungagung.ac.id/index.php/dinamika/article/download/842/586. Diakses 02 Mei 2019, Pukul 09:48 WIB.

[iv] ibid

 [v] https://nationalgeographic.grid.id/read/131618065/enam-manfaat-membaca-buku-fiksi-yang-perlu-anda-ketahui?fbclid=IwAR1-t0EDxX09_wViVt_6HIG9uEXUXWucgV7iDxGDNyqLXzCIXyUSZU8CMbE. Diakses 01 Mei 2019, Pukul 22:00 WIB.

[vi] Fitriah, Diana. 2017. Hubungan Kemampuan Membaca Buku Teks dan Keterampilan Berpikir

Kritis dengan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam. Studi Didaktika, Jurnal Ilmiah Bidang 

Pendidikan, Vol. 11, No. 1, 2017.

http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/studiadidaktika/article/download/523/451/. Diakses 02 Mei 2019, Pukul 09:48 WIB.

[vii] Stillman, David dan Jonah Stillman. 2019. Generasi Z Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.