Perlahan, tabir yang selama ini menutup banyak hal terkait sepak bola Indonesia mulai terbuka. Atau setidaknya, ada cahaya yang terang yang membuat kita mulai bisa menebak dan menerawang apa yang ada di balik gorden yang hampir selalu tertutup begitu rapat.

Tak cuma soal bobroknya sistem dan ulah mafia yang lambat laun semakin membuat sepak bola kita rusak. Namun, kejeniusan baginda kita semua, Baginda Edy Rahmayadi yang selama ini tersembunyi, perlahan semakin muncul ke permukaan dan kian lama kian terpampang nyata.

Saya yakin, untuk siapa pun yang mulanya senang sekali menghina, mencaci, dan menjadikan Baginda Edy sebagai guyonan, seakan-akan semua kekisruhan yang terjadi di persepakbolaan kita akibat ia semata, lambat laun akan tersadar dan mulai bertaubat dengan sebaik-baik taubat.

Misteri besar tentang mafia sepak bola dan kejeniusan Baginda Edy tersebut mulai terkuak sejak Mbak Nana memulai perbincangan bertajuk “PSSI Bisa Apa” di matanya acaranya. 

Acara tersebut sudah mulai dipanaskan dengan menyemutnya foto-foto semacam twibbon dengan tagar khusus di Instagram sehari sebelum acara. Yang ternyata pemanasan tersebut sukses memancing atensi ribuan pasang mata yang sudah gerah dengan kondisi persepakbolaan kita. Semua memuncak dan menemui klimaksnya saat acara benar-benar dihelat.

Pembaca yang budiman, yang juga merangkap sebagai tukang nyinyir penggemar sepak bola Indonesia yang sudah menonton acara tadi, mesti paham betul detik demi detik yang mengejutkan dan begitu menegangkan dari talkshow yang dipandu Mbak Nana. Selama ini, bagi penonton layar kaca seperti saya, membicarakan mafia sepak bola rasanya tak jauh berbeda dengan membicarakan topik-topik yang berhubungan erat dengan teori konspirasi dan iluminati. 

Kita tahu kalau itu ada. Tapi ya tidak ada bukti konkretnya. Kalau sudah begitu, kemudian bisa apa? Cuma ngawang sambil nyerocos sok tahu di lini masa media sosial sembari menanti hujatan warganet yang anti teori konspirasi.

Apalagi setelah nama Hidayat dan Vigit Waluyo disingkap dan disebut sebagai mafia besar sepak bola Indonesia sejak lama. Yang juga sekaligus menjabat sebagai Exco PSSI. Rasa geram, gemas, dan lemas seakan bercampur dan menemui titik kulminasi.

Kalau saja saya setajir Hotman Paris, mungkin sudah saya banting laptop yang saya pakai untuk nonton acara tadi via yutup terus besok beli lagi. Lha, emosi og. Ternyata kelakuannya lebih buruk dari rayap. Kalau rayap kan biasanya menggerogoti dari dalam kayu tetapi dari luar masih terlihat baik dan utuh. Ya tinggal tahu-tahu ambruk saja bangunan tuh kalau tidak segera diantisipasi. Lha, ini udah bikin bobrok dari dalam, di luar juga hancur, ditambah bau busuk pula!

Nah, di saat yang sama, ketika perasaan sedang berkecamuk dalam dada, timbul rasa bersalah yang lama kelamaan semakin jelas. Sebuah perasaan bersalah yang disebabkan karena selama ini saya ikut meramaikan tagar #EdyOut dan menuding Baginda Edy seorang sebagai biang keladi yang wajib bertanggung jawab atas lucunya PSSI di bawah nakhodanya. Padahal ternyata itu semua tidak sesederhana Baginda Edy harus turun dari singgasana megahnya di PSSI yang tidak dipakai itu kemudian semuanya beres begitu saja. Ternyata tidak sesederhana itu, Ferguso.

Perasaan bersalah penuh dosa tadi semakin diperkuat ketika tak berselang lama ada tontonan tambahan di kanal yutup lain yang mendatangkan Bung Joy dan Kaka Rochy sang legenda, yang semakin mengiris-ngiris hati. Bola panas tentang mafia sepak bola semakin bergulir deras. Skeptisisme dan rasa pesimis semakin memuncak saat menonton Liga Indonesia divisi mana pun.

Kalau tim ini menang, “ah paling settingan.” Lihat ada penalti, “ah mafia lagi dah ini.” Sampai akhirnya matiin tivi atau mending nonton Benteng Takeshi.

Selain rasa prihatin dan putus asa karena seakan mustahil sepak bola kita angkat trofi dan bersih dari cecunguk-cecunguk mafia, perasaan bersalah semakin mencuat dari dasar hati. Bahwa selama ini saya salah telah menyumpah-serapahi Baginda Edy yang hampir selalu terlihat konyol di depan kamera dan akhirnya pun berakhir jadi bahan meme warganet tanah air. Ternyata ada hal yang lebih layak ditumpas dan diturunkan.

Ya, walaupun Edy juga tetap harus turun. Karena ia tetap bertanggung jawab secara langsung atas kinerja para Exco yang amburadul itu. Yang tentu menjadi semakin liar dan beringas dengan ketidakhadiran Baginda Edy secara fisik di Jakarta. Bak seorang bocah nakal yang ditinggal orangtuanya pergi kerja. Sepanjang hari ia bebas jungkir-balik mengobrak-abrik isi rumah asal jago ngeles dan ngibul saja ketika ditanya kabar dan kondisi saat mereka pulang di malam hari.

Di tengah gelisah dan rasa bersalah, yang membuat saya rasanya semakin ingin sungkem walaupun tetap ingin jadi peramai #EdyOut di saat yang bersamaan, dalam sebuah wawancaranya, Pelatih PSM Makassar, Robert Rene Albert kurang lebih berujar seperti ini kepada para wartawan:

“Kalau saya jadi wartawan yang bagus, ini adalah tema yang bagus, dan akan saya lakukan penyelidikan. Itu akan menjadi judul yang bagus di surat kabar dan semua orang akan membelinya.”

Pas baca itu di laman Bola dot net, kok samar-samar kaya teringat sesuatu. Lah iya ternyata kok mirip pernyataan Baginda Edy yang sebenarnya menjadi gong pembuka dari segala keributan ini bermula. Ingat toh pernyataan baginda yang bilang, “kalau wartawannya baik, maka sepak bolanya baik”?

Kok omongan Robert Rene Albert bisa setipe begitu dengan Baginda Edy? Apa jangan-jangan semua ini konspirasi?

Jadi, yang selama ini kita selalu memandang remeh pernyataan Baginda Edy, yang hampir selalu berujung jadi meme dan gelak tawa, jangan-jangan memang selalu ada pesan-pesan tersembunyi darinya? Yang sebenarnya hanya orang-orang terpilih yang punya kejeniusan tingkat tinggi macam Mbak Nana yang bisa menangkap sinyalnya?

Dan jangan-jangan Baginda Edy sebenarnya adalah seorang jenius tingkat tinggi yang kita saja tidak mengerti tiap maksud sebenarnya dari tiap kata yang dilontarkannya? Hayo.