Secara historis, Humanisme, khususnya di Eropa, dapat dikatakan bertitik pangkal pada Tradisi dan Ajaran Gerejani (Katolik) sekitar paruh abad ke 15 M yang dianggap "otoritatif dan mengekang". Kemudian disusul dengan lahirnya Revolusi Prancis 3 abad sesudahnya atau tepat abad ke 18 M, dengan semboyannya yang amat bergema ketika itu, yakni "Liberte, Egalite, fraternite" atau kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan.

Semboyan di atas merupakan domain atau diskursus Humanisme dalam cakupan yang universal. Humanisme yang berarti adalah upaya mengangkat harkat dan martabat manusia, termasuk hak dan otonomi individu yang setara dengan yang lainnya. Singkatnya, Humanisme merupakan pandangan yang hendak meletakkan "manusia dan kemanusiaan di atas segala-galanya."

Seiring dengan rentetan kronik yang terjadi, demikian juga dengan pemikiran mengenai Humanisme. Jika menurut Jean Paul Sartre (dengan Humanisme Eksistensial-nya) bahwa "neraka adalah orang lain," neraka yang dimaksudkan Sartre adalah sikap "dominasi dan intimidasi" seseorang yang berlaku sebagai subjek, lalu meng-objek-kan orang lain. Sehingga menyebabkan semacam ketakutan, penderitaan atau tepatnya neraka. Bahkan kata Sartre, itu bisa terjadi melalui sorotan atau tatapan seseorang yang tajam dan juga sinis.

Dengan kata lain, neraka adalah sikap dominasi dan intimidasi dari seseorang kepada orang lain, dan sekaligus diinterpretasikan bahwa akan selalu ada konsep yang superior sebagai subjek. Maka begitu juga yang diinterpretasikan oleh seorang Edward Shaid. Namun tentu saja Said tidak menyebut Neraka. Interpretasi atau pandangan Shaid lahir dari kacamata orientaslisme-nya.

Orientaslisme, yang pada awalnya hanya diisi oleh cendekiawan-cendekiawan injili, pengkaji bahasa Semit, Islamologi atau yang paling monumental karena beberapa observasi terhadap Timur. Terutama mengungkapkan sebuah kekayaan bahasa Sansekerta (Timur jauh) dan Avesta (Timur tengah) pada akhir abad ke 18 M. Sehingga orientalisme semacam memiliki khazanah ilmu pengetahuan yang populer dan khas. 

Dari khazanah ilmu pengetahuan yang populer dan khas itulah orientalisme semakin berkembang dan semakin intens ditelisik dengan segala karekteristik, bahasa dan kebudayaannya. Khususnya dalam "kacamata orientalisme" Shaid, adalah bagaimana Barat yang memandang Timur sebagai objek. Barat menjadi subjek, sedangkan Timur adalah objek -- ada sikap dominasi dan intimidasi yang erat selama berabad-abad. Bahkan tidak jarang Barat berargumen atas nama Timur.

Pandangan Barat kepada Timur sebagai objek tidak terlepas dari "kolonialisasi" Barat atau invasi dan ekspansi bangsa-bangsa Eropa ke wilayah Timur dengan berbagi tujuan. Timur dipandang sebagai karya estetik yang memberi kenikmatan metafor, yang eksotik atau bahkan feminin. Bahkan Timur sering dipandang tidak memiliki realita atau hanyalah sebuah produk "imajiner". Seperti yang dikatakan Disraeli dalam novelnya, Tancred, bahwa "dunia Timur adalah sebuah karir."

Sehingga dari itulah Shaid sebagai orientaslisme ingin merepresentasikan Timur sebagai dirinya sendiri atau sebagai subjek (dan bukan objek). Timur yang di-Timur-kan. Sederhananya, bukan Timur yang dimiliki atau diciptakan oleh orang-orang Barat atau tepatnya untuk mendudukkan Timur sebagai Subjek.

Upaya Shaid untuk mendudukkan Timur sebagai subjek, sekaligus memberikan formula atau "integritas koeksistensi" dari dua dimensi atau identitas yang berbeda dalam mewujudkan perdamaian dan persaudaraan. Dengan maksud, dua identitas tersebut adalah sebagaimana Palestina dengan identitas Timurnya dan Israel dengan identitas Baratnya, sebagai sebuah realita yang melahirkan "keprihatinan" dan "menghubungkan" orientalisme Shaid dengan Humanisme.

Apa yang menghubungkan orientaslisme Shaid dengan Humanisme adalah sebab Shaid atau lebih lengkapnya, Edward Wadie Shaid yang lahir dan tumbuh di Palestina (Yerussalem) pada tahun 1935 silam. Namun karir politiknya justru dibangun di Amerika. Sebuah akulturasi yang dialami Shaid bersamaan dengan ketegangan politik "internasional dan bahkan apokaliptik".

Ketenangan internasional dan apokaliptik yang bisa ditemukan dalam perang sipil di Libanon yang sudah dimulai sejak tahun 1975 sampai 1990. Meski begitu, jejak pertumpahan darah dan ekstrimisme masih terus berkembang sampai hari ini. Perang Intifadhah sekitar akhir 1980-an, hingga hadirnya berbagai fenomena bom bunuh diri yang terjadi di mana-mana. Kerusakan-kerusakan dan sebuah tragedi yang mengerikan, yakni tragedi Penyerangan September (11-09-2001). 

Sederhananya, apa yang ingin disampaikan Shaid, tidak lain adalah hilangnya rasa kemanusiaan (dehumanisasi) rasa empatik dan rasa toleransi. Sebuah penghancur terhadap peradaban manusia dan kemanusiaan. Shaid, seolah mengajak manusia supaya "merenung". Terlepas dari sosok Barat sebagai subjek yang superior, sedangkan Timur hanyalah sebuah karya, yakni pada masa-masa pemberontak, perang saudara dan bahkan fanatisme agama. Semua itu adalah praktik ketidakmanusiawian.

Dengan demikian, dalam persoalan-persoalan yang rumit, subtil dan reflektif mengenai diskursus Humanisme, yang paling utama bagi Shaid adalah "didasarkan pada rasa kebersamaan." Selain itu -- sekalipun usaha perdamaian dan persaudaraan itu bukanlah sesuatu yang mudah -- namun dengan Humanisme, patutnya dipahami sebagai upaya membangun "resistansi dan kesadaran" terhadap praktik-praktik yang tidak berprikemanusiaan.

Semua itu ditegaskan Shaid: "Saya telah menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidup saya selama 35 tahun untuk membela hak-hak rakyat Palestina menuju kemandirian Nasional. Meski demikian, saya juga memperhatikan keberadaan orang-orang Yahudi; apakah mereka juga menderita karena penganiayaan dan penderitaan. Intinya, yang paling penting untuk mewujudkan kesetaraan di Palestina dan Israel, seharusnya diarahkan pada tujuan manusiawi, yakni koeksistensi, serta tidak adanya penindasan dan pengucilan."

Barangkali Shaid tidak seperti Annemarie Schimmel, yang juga adalah seorang orientalis, dan selain hidup semasa dengan Shaid, juga begitu terpengaruh dan tertarik dengan dunia Timur, khususnya pada Jalaludin Rumi, seorang Sufistik sekaligus Penyair dari Qonyah (kini Turki).

Hingga bentuk ketertarikan atau kecintaannya itu terpampang di tempat peristirahatannya yang terakhir, ditulis di atas makam Schimmel, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib: "Sesungguhnya manusia itu tertidur. Ketika mereka mati, maka mereka terbangun."

Bahkan Schimmel yang meninggal banyak buku tentang Timur (dan Islam) dan yang paling fenomenal adalah tentang nabi Muhammad Saw, yang berjudul "And Muhammad Is His Messenger (Dan Muhammad Adalah Utusan Allah). Namun, tidak demikian dengan Shaid, ia tidak menulis sesuatu atau meninggalkan catatan tebal tentang Islam dan Muhammad secara spesifik. Shaid, tetaplah seorang Agnostik tulen dan seseorang yang berdiri di tepi garis diaspora.

Namun, apa yang paling menarik bagi saya dalam melihat sosok Edward Shaid, seseorang yang di hidup di tengah-tengah "keretakan" identitas dua bangsa dan berbagai praktik dehumanisasi. Adalah Shaid sendiri yang lebih "senang" jika disebut sebagai seorang Humanis ketimbang orientalis, dengan cita-cita mewujudkan kebebasan bagi umat manusia atau dengan kata lain, adalah dengan melihat setiap manusia sebagai perwujudan yang absah dan setara. Sehingga itu bagi Shaid: "Perjuangan hidup bagi saya bukanlah soal nama baik agama, melainkan lebih pada nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini masih merupakan barang langka."


Tabik


Khadafi Moehamad

Gorontalo, April 2021


Referensi:

1. Orientaslisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek (Penerjemah: Achmad Fawaid)