Setiap anak idealnya mendapatkan edukasi kesehatan reproduksi sejak dini atau sejak anak mulai bertanya tentang seputar organ reproduksi secara bertahap sesuai dengan perkembangan usianya.

Namun, sayangnya masih ada anggapan tabu yang kerap kali menjadi tantangan bagi orang tua khususnya ketika akan mengajarkan kesehatan reproduksi. Selain itu, edukasi  terhadap isu ini juga sering kali dipandang sebagai hal sensitif oleh sebagian kecil orang tua.

Dari dulu hingga sekarang pengarusutamaan isu kesehatan reproduksi adalah perjuangan melawan perlakuan tidak adil (stigma). Isu ini direduksi maknanya sebatas aktivitas hubungan jenis kelamin (seksual) saja. 

Padahal kesehatan reproduksi sudah mengalami perluasan makna menjadi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) yang merupakan hak setiap individu, termasuk anak. Kita semua memahami jika hak sifatnya melekat pada setiap individu dan tidak dapat dirampas oleh siapapun. 

HKSR berdasarkan konferensi internasional dan kependudukan 1994 di Kairo, Mesir memiliki 2 komponen yaitu; Hak kesehatan seksual yang mencakup bebas dari segala bentuk kekerasan berbasis gender, bebas dari segala bentuk diskriminasi, memperoleh informasi terkait seksualitas dan bebas menentukan orientasi seksual serta menentukan pasangan.

Selanjutnya adalah Hak Reproduksi yang di dalamnya mencakup hak untuk mendapatkan akses pelayanan mengenai kesehatan reproduksi, hak untuk mendapatkan alat kontrasepsi dan hak untuk mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi secara komprehensif. 

Di satu sisi, masih ada orang tua yang menganggap tabu mengajarkan pendidikan HKSR terhadap anak. Namun di sisi lain orang tua juga merasa khawatir dengan makin maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual dengan korban usia anak.

Saya dapat memahami kegalauan orang tua yang masih "menyuburkan" kata tabu karena ada bayangan-bayangan doktrin dan mitos di alam pikirannya ketika mengedukasi HKSR terhadap anaknya.

Bayangan tersebut menurut saya karena masih adanya pola pikir yang menyebut bahwa jika anak mendapatkan edukasi HKSR maka dianggap terlalu cepat mengetahui aktivitas seksual. Padahal sebenarnya edukasi HKSR bukan sekedar membicarakan hubungan seksual.

Bagi saya, ada atau tidak ada edukasi HKSR yang namanya hubungan seksual akan selalu berjalan. Orang tua tentu dapat memilah dan memilih materi edukasi isu seputar HKSR. Karena edukasi isu ini juga tidak bisa seenaknya, karena perlu memperhatikan konteks usia anak. Meskipun isu HKSR sangat mendasar, boleh jadi kita belum perlu membanjiri anak dengan informasi yang bertubi-tubi. Kita bisa memulai mengajarkan anak tentang organ reproduksi beserta fungsinya. 

Saya termasuk tipe orang tua yang memercayai bahwa jika anak mendapatkan informasi HKSR yang benar dan bertanggung jawab sesuai dengan perkembangan usianya maka anak akan mampu belajar menjaga organ reproduksinya sendiri. 

Menurut saya ada beberapa hal mengapa anak-anak perlu mendapatkan edukasi HKSR sejak dini, yaitu; Pertama, agar anak dapat mengenal organ reproduksi dan fungsinya, karena organ reproduksi sudah menempel atau melekat pada tubuh.

Organ reproduksi sifatnya umum/universal karena di bawa sejak lahir dan semua orang memilikinya. Akan tetapi jika alam pikiran kita masih ada kata tabu, sampai kapanpun kita akan enggan mengedukasi anak. Seyogianya, kita dapat memutus mata rantai tabunya edukasi HKSR. Di mulai dari diri kita sendiri sejak saat ini. 

Kedua, agar anak-anak dapat belajar menjaga tubuhnya Sendiri. Mungkin kita dapat menunda waktu memberikan edukasi HKSR terhadap anak. Namun, kita tidak mungkin bisa menghentikan laju pertumbuhan usia anak. Saya hanya khawatir jika kita sibuk menunda edukasi HKSR, anak justru mengakses dan mendapatkan informasi yang tidak bertanggung jawab melalui pihak lain.

Ketiga, agar anak dapat belajar melindungi dirinya sendiri. Sebagai orang tua tidaklah mungkin kita dapat mengawasi anak 24 jam non stop, apalagi jika anak sudah mengenal dunia luar. Lalu siapa yang akan melindunginya selain dirinya sendiri? Di fase ini kita sebagai orang tua bisa mengajarkan anak tentang sentuhan aman dan tidak aman.

Sentuhan aman adalah sentuhan-sentuhan yang bisa dibenarkan. Contohnya pelukan yang dilakukan oleh ibu dan ayahnya. Atau sentuhan oleh tenaga kesehatan ketika sedang mengobati, itupun harus didampingi oleh orang tuanya atau orang yang bisa dipercaya. 

Selanjutnya sentuhan tidak aman, yaitu sentuhan di area sensitif. Pada umumnya di tubuh kita ada area tertentu yang jika mendapatkan sentuhan merasa tidak nyaman, merasa kotor, takut, khawatir, bingung, marah, dan menimbulkan perasaan negatif lainnya. Kita perlu mengajarkan kepada anak bahwa jika ada orang yang akan menyentuh bagian tersebut anak perlu melakukan perlawanan.

Itulah makanya dalam dunia pengasuhan anak ada istilah toilet training. Dalam toilet training yang pernah saya ketahui, anak mulai diajarkan bagaimana cara membersihkan organ reproduksi setelah buang air.

Di tahap ini orang tua bisa membantu anak hanya mengambil atau mengalirkan air untuk mencuci organ reproduksi tanpa perlu menyentuhnya. Lalu anak akan belajar mencucinya sendiri, tujuannya agar meminimalisir sentuhan.

Keempat, agar anak belajar menghormati tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Edukasi HKSR sebenarnya ingin mengajarkan sejak dini bahwa setiap orang berhak mendapatkan penghormatan atas tubuhnya. Artinya, kita tidak bisa secara serampangan dan sembarangan menyentuh dan memperlakukan tubuh orang lain.

Kelima, agar anak belajar memahami perbedaan organ reproduksi perempuan dan laki-laki. Menurut saya sejak dini anak-anak perlu dikenalkan tentang perbedaan organ perempuan dan laki-laki karena ada organ-organ reproduksi tertentu yang bentuknya berbeda.

Dalam pandangan saya ada momen spesial yang bisa menjadi tempat mengajarkan HKSR oleh orang tua kepada anak, yaitu pada saat mandi bersama. Ayah, Ibu dan anak perlu mandi bersama sembari mengenalkan bentuk dan fungsi organ/alat reproduksi.

Menurut hemat saya, orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk bersikap terbuka dan berani berkomunikasi (asertif) agar terbiasa dengan penyebutan dan nama-nama organ/alat reproduksi sejak dini.

Kita mesti mengingat satu hal bahwa anak-anak biasanya memiliki banyak pertanyaan sekaligus membutuhkan jawaban. Oleh karenya, kita sebagai orang tua juga harus jujur, jujur dan jujur jika anak bertanya seputar organ/alat reproduksinya.

Selama mengajarkan, hendaknya para orang tua tidak perlu khawatir berlebihan terhadap pertanyaan-pertanyaan anak, karena hal itu dapat dipastikan terjadi. Alangkah baiknya, orang tua butuh meningkatkan pengetahuan HKSR. 

Orang tua juga belum perlu menjawab secara detail jika anak bertanya tentang "kenapa aku bisa di perut ibu?". Jawablah dengan bahasa yang simpel, misalnya begini; "karena di dalam perut ada rahim". Namun, jika anak tetap bertanya jawablah dengan jujur. Wallahu a'lam.