Di antara negara-negara di ASEAN, Indonesia memiliki nilai indeks ketimpangan gender yang tertinggi ke-4 setelah Kamboja (Badan Pusat Statistik, 2018). Sudah banyak sekali kekeliruan pandangan yang terjadi di masyarakat. Sehingga, tidak asing lagi untuk kita mendengar bahwa perempuan memiliki peran di kehidupan sebagai pelayan di rumah.

Contoh parafrase yang umum adalah “sayang belajar tinggi-tinggi, akhirnya tetap saja akan kembali ke dapur”. Namun faktanya, tidak ada hal yang dilakukan dengan sia-sia, karena setiap orang memiliki hak untuk memilih melanjutkan menuntut ilmu sampai batasan yg ia mau. 

Pandangan seperti ini bisa terlihat sepele, namun dampaknya dapat membuat orang menanamkan pandangan yg salah dalam melihat kesetaraan gender.

Kesalahpahaman Umum

Kasus marginalisasi atau proses peminggiran kerap terjadi di masyarakat (Aghnia Azkia, 2018). Contoh kasusnya, yaitu seorang buruh perempuan yang bekerja di pabrik es krim asal Singapura. Ia mengatakan untuk dipindahkan dari devisinya dengan alasan punya riwayat penyakit yang tidak bisa mengangkat beban berat.

Ini bukan kali pertama kasus seperti ini terjadi. Sarinah, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR), yang mewakili serikat buruh perusahaan tersebut, menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga sekarang sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tidak bernyawa dialami oleh buruh perempuan perusahaan tersebut.

Di Indonesia, stereotip dalam kasus pelecehan seksual mengarah pada korban yang memancing pelaku dengan menggunakan pakaian minim. Sebelumnya, redaksi Tirto pernah menulis tentang catcalling atau pelecehan verbal yang bisa terjadi terhadap siapa pun. Artinya, argumen “karena mengenakan pakaian minim” tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan terjadinya pelecehan seksual.

Karena, alasan yang sebenarnya datang bukan dari pakaian minim yang dikenakan wanita. Melainkan dari cara pandang laki-laki tersebut yang melihat perempuan sebagai objek untuk pelecehan. Lalu, apa segitu kurangnyakah edukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sampai penampilan perempuan pun dijadikan alasan untuk perbuatan keji?

Dalam 30 tahun terakhir hingga Desember 2017, menurut data Kementerian Kesehatan, lebih dari 14 ribu ibu rumah tangga terinfeksi HIV/AIDS. Hal ini sering kali mendapatkan stigma dari masyarakat. Stigma bahwa perempuan yang mengidap HIV/AIDS sering dikaitkan dengan pekerja seks komersil dan homoseksual, yang mengarah untuk menyalahkan pihak perempuan.

Padahal, berdasarkan hasil riset Lim Halitusa’diyah tercatat bahwa 81% di antara perempuan yang diwawancarainya terinfeksi HIV/AIDS karena suami atau pasangan tunggal mereka. Masyarakat terlalu sibuk pada stigma negatif yaitu perempuan nakal, tanpa mengetahui kebenarannya.

Faktor Penyebab

Ada apa dengan cara berpikir masyarakat kita sampai segala kesalahan itu jatuh kepada perempuan? Pandangan ini sudah seperti budaya di masyarakat, menomorduakan perempuan. 

Untuk membenarkan kekeliruan ini, cukup membutuhkan usaha yang ekstra, karena umumnya yang berpikir seperti ini adalah orang tua. Anak muda cenderung dianggap kurang pengetahuan dan orang tua menganggap dirinya lebih tahu.

Dalam Jurnal studi yang ditulis oleh Khusnul Khotimah, tercatat bahwa Laki-laki mendominasi industri hulu yang produktivitasnya lebih tinggi, sementara perempuan terlibat dalam industru hilir, yang menangani proses akhir dari sebuah produk (finishing), yang upah produktivitasnya lebih rendah.

Budaya di masyarakat yang selalu menempatkan laki-laki di atas ini sangat krisis. Melihat laki-laki sebagai yang paling dominan, paling bisa segala hal, dan patut menjadi nomor satu adalah kekeliruan yang harus segera diatasi

Edukasi Anak Solusinya

Dengan itu, perlu adanya edukasi terhadap anak-anak di sekolah untuk menanamkan pemahaman kesetaraan gender yang benar. Karena, gender dianggap sebagai pemisah kodrat dan peran-peran antar perempuan dan laki-laki sesuai dengan sifatnya, yang seringkali dianggap sebagai patokan profesi. Sedangkan, sifat dapat dipertukarkan dan berubah dari waktu ke waktu.

Edukasi tentang kesetaraan gender bisa berbentuk sebagai sosialisasi. Guru memberikan pemahaman tentang kesetaraan gender dan hal-hal apa saja yang menyimpang agar murid mudah mengerti dan mengatasi masalah ini. Kemudian, penerapan di sekolah seperti: menyalonkan perempuan sebagai ketua kelas, pemimpin upacara, belajar futsal, dan hal-hal yang biasa diperuntukkan pada laki-laki.

Tidak cukup di lingkungan sekolah saja, orang tua harus ikut serta dalam memberikan pemahaman ini, karena sumber ilmu pertama anak adalah orang tua. Ide dan hal-hal yang dipercaya orang tua sangat berpengaruh dengan cara berpikir anak. Mereka sering mengaggap apa pun yang diucapkan orang tuanya selalu benar, dan akhirnya secara tidak langsung menanamkan pemahaman yang sama dengan orang tuanya.

Bagaimana jika orang tuanya memiliki pandangan keliru tentang hal ini? Yang akan terjadi adalah kesalahpahaman yang berlanjut. Maka dari itu, tidak cukup hanya satu lembaga yang memberikan edukasi tentang ini, karena anak-anak harus dibiarkan berpikir dan membandingkan mana yang benar dan mana yang tidak logis.

Anak-anak harus berhenti mengonsumsi pengetahuan keliru yang dianggap sebagai budaya di masyarakat. Di era sekarang, anak muda dan remaja mulai kritis dalam menilai mana yang benar dan yang menyimpang tentang peranan gender. Ada baiknya apabila anak muda membuat komunitas tentang membudayakan kesetaraan gender kemudian menyebarkan pandangan mereka ke sekolah-sekolah.

Dengan itu, anak-anak usia dini bisa membandingkan dan mengonsumsi hal-hal dari pandangannya sendiri, tanpa harus menanamkan budaya turun-temurun yang menyimpang dari keluarganya. Karena, keterbatasan sumber pengetahuan juga bisa menjadi salah satu alasan banyak orang menanamkan budaya yang menyimpang.