Sejak mulai serius di dunia menulis, saya merasa bahwa profesi seorang editor adalah sebuah pekerjaan yang sangat keren. Editor itu bisa tahu duluan isi buku sebelum terbit, bisa membantu memperbaiki isi tulisan, macem-macemlah pokoknya.

Dan yang lebih kerennya lagi, editor itu adalah pekerja di belakang layar, yang tak perlu terlihat tapi keberadaannya sangatlah esensial.

Sampai akhirnya sekitar awal 2019, saya memberanikan diri mencoba profesi sebagai editor ini. Di situlah saya tahu bahwa editor adalah pekerjaan yang sangat berat. Susah-susah gampang. Iya, susahnya dua kali disebut karena memang dobel.

Saat itu yang saya tahu editor dibagi menjadi dua definisi, yaitu editor bahasa dan editor cerita. Editor bahasa biasanya hanya menyunting penulisan bahasa juga penggunaan tanda baca dan ejaan yang baik dan benar. Sedangkan editor cerita akan membantu si penulis dari segi keseluruhan isi cerita, mulai dari pemilihan judul, plot, penokohan, juga tarik ulur konflik dan penyelesaian cerita.

Di penerbit mayor, pada umumnya yang disebut editor adalah yang melakukan dua definisi di atas sekaligus. Menemani penulis sejak draft awal sampai akhirnya naik cetak.

Tapi tidak seperti itu yang terjadi di beberapa penerbitan indie. Sebagai editor freelance, seringnya saya sudah menerima naskah yang sudah jadi. Yang paling sering diminta oleh beberapa penerbit tersebut juga hanyalah editing seputar bahasa dan tanda baca. Jarang sekali ada yang meminta saya untuk menyunting keseluruhan ceritanya.

Karena butuh duit, tentu saja saya fine-fine saja dengan hal itu. Saya kerjakan, kelar ya saya setorkan kembali ke penerbitnya. Cairlah fee saya.

Tapi lama-kelamaan, masalah ini mengusik saya. Jiwa (sok) idealis saya bergejolak. Apalagi makin banyak pula penerbit indie yang membatasi interaksi antara editor dengan penulisnya langsung. Semua hal harus lewat pihak penerbit, padahal ini jadinya membatasi ruang gerak kami para editor.

Saya sempat mengikuti kelas menulis tentang editorial yang diempu oleh Mas Irwan Bajang. Di situ beliau menyatakan bahwa editor seharusnyalah menjadi sahabat baik yang mendampingi penulis dalam proses menulisnya. Lha kalau tidak bisa berinteraksi dengan penulisnya, lalu bagaimana?

Saya menyimpulkan beberapa hal yang bisa digaris-bawahi tentang hubungan cinta segitiga antara penulis, penerbit, dan editor freelance ini.

Pertama, menjamurnya penerbit indie berarti membuka peluang lahirnya juga banyak penulis baru. Hal ini tentu membuka lahan pekerjaan baru pula bagi para editor freelance.

Bittersweet. Di satu sisi, kans untuk mendapatkan naskah editing makin banyak. Di sisi lain, kans untuk makin banyak menenggak obat sakit kepala juga bertambah.

Penulis baru yang ada sekarang kebanyakan adalah para manusia arogan yang terkadang merasa tulisannya tidak butuh dijamah oleh editor. Padahal tulisan mereka babak belur. Kesalahan tanda baca, pilihan kata yang kurang pas, salah ketik.

Mereka seperti tidak rela tulisannya diperbaiki. Bila editor memaksa untuk memperbaiki pun ujung-ujungnya mereka tidak terima dan menyalahkan editor. Di sinilah sebenarnya kenapa interaksi antara penulis dan editor perlu dibangun.

Kedua, banyak penerbit yang mendewakan para penulis. Memang, merekalah sumber dari segala ide yang bisa dikomersialkan. Sehingga kesannya fungsi editor tidaklah terlalu penting selain sebagai tukang beberes tulisan.

Bila ada penulis yang tidak terima naskahnya diperbaiki, maka penerbit cenderung membela penulis dan membiarkan naskah tersebut tidak dipoles. Hasilnya? Bacaan yang kurang layak. Padahal ini berpengaruh juga pada supremasi sebuah penerbit. Bagaimana pembaca akan percaya bila sebuah penerbit melahirkan buku yang tatanannya acakadut?

Ketiga, fee seorang editor freelance memang tidak seberapa. Apalagi bila menggarap naskah dari penerbit indie yang juga baru menetas.

Saya sebenarnya tidak enak mengangkat masalah ini ke permukaan. Tapi yakinlah bila naskah yang masuk amat sangat kurang layak, maka fee para editor itu hanya akan habis untuk membeli obat nyeri dan obat sakit kepala.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Saya bukanlah seorang editor profesional dengan jam tayang yang sudah tinggi, tapi mungkin saya bisa menyarankan satu atau dua hal biar sama-sama nyaman ke depannya.

Bagi para penulis, yang harus dipahami dari menulis, selain menuangkan ide dengan eksekusi yang indah, adalah memahami kaidah penulisan. Pemakaian tanda baca, huruf kapital, dialog tag, dan masih banyak lagi. Sebisa mungkin, setelah selesai ditulis, lakukan editing pribadi semampu kalian. Ini sangat penting.

Ribet? Ya namanya belajar, mana ada yang enak di depan?

Editor itu tugasnya menemani perjalanan tulisan kalian. Sebisa mungkin lakukanlah pengeditan pribadi sebelum menyerahkan pada editor atau memublikasikan tulisan kalian.

Editor itu bukan tukang bedah rumah. Editor membantu kalian, menunjukkan mana yang harus diperbaiki, dicat ulang, ditambahi semen mungkin. Bukan kalian suruh ngerombak satu rumah.

Lho, tapi kan editor dibayar?

Gaes, bayaran editor—kalau tulisan yang kalian kirim acak-acakan—hanya akan habis untuk beli obat migren. Percayalah!

Dan yang akan menjadi makin pintar bukan kalian sebagai penulisnya, melainkan editornya. Editornya akan makin terlatih, sedangkan kalian yang bisanya cuma setor dan lempar tulisan akan stuck di situ-situ saja.

Bagi para penerbit, usahakan ada komunikasi terbuka antara tiga pihak; penulis, penerbit, dan juga editornya. Efeknya akan baik-baik saja kok. Tidak akan ada saling tikung-menikung.

Dengan begitu, pekerjaan editorial ini akan jadi jauh lebih menyenangkan. Kami akan melakukannya dengan riang gembira. Bukankah di setiap lahirnya sebuah buku memang harus diiringi dengan senyuman puas dari semua pihak yang terkait?

Tertanda,
Mbak-mbak editor sambat.