Kurma

Siapa yang tidak mengenal kurma? Buah yang digemari oleh berbagai kalangan masyarakat baik yang tua maupun yang muda  ini cukup mudah ditemui di negara kita. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, permintaan buah kurma di Tanah Air melonjak pesat pada bulan Ramadhan dengan rata-rata kenaikan sebesar 30% hingga 100%. Meskipun demikian, dewasa ini, masyarakat mulai banyak mengonsumsi kurma di luar bulan istimewa tersebut. Semakin berjalannya waktu, masyarakat mulai lebih aware dengan kesehatan tubuh mereka. Beberapa masyarakat kini sudah menjadikan kurma layaknya suplemen harian, baik dengan mengonsumsinya secara langsung ataupun dalam bentuk cair seperti produk sari kurma, mengingat kurma ternyata masuk dalam kategori superfood karena kaya akan kandungan vitamin dan mineral.

Meskipun sudah mulai dibudidayakan, budidaya kurma di Indonesia masih  terbilang baru bila dibandingkan dengan Thailand yang sudah memulainya sejak 20 tahun lalu. Selain itu, kurma yang ditanam di Indonesia hanya berupa jenis kurma yang mampu bertahan pada iklim tropis. Hal ini dikarenakan mayoritas jenis kurma tidak dapat dibudidayakan di Nusantara karena memiliki habitat asli di daerah yang kering seperti kebanyakan negara di Timur Tengah. Kurma yang ditanam di Indonesia juga masih dalam tahap pengembangan dari kurma hasil semaian negara lain, sehingga kurma yang kita jumpai di toko-toko kebanyakan merupakan kurma impor.

Permintaan kurma yang cukup banyak membuat impor buah kurma semakin meningkat. Hal ini juga mempengaruhi jumlah limbah biji kurma yang kurang dimanfaatkan dengan baik. Sebagian besar masyarakat hanya memanfaatkan daging buah kurma saja, sedangkan bijinya berakhir menjadi limbah, padahal bila melihat dari nilai gizi yang terkandung didalamnya, bagian dari kurma satu ini memiliki banyak manfaat. Salah satunya ialah dapat dimanfaatkan sebagai Edible Oil.

Manfaat Edibel Oil Berbahan Dasar Biji Kurma

Edible oil merupakan olahan minyak layak konsumsi yang berasal dari ekstraksi hewani ataupun nabati. Beberapa contoh edible oil nabati yang dapat kita temui di lapangan antara lain olive oil, coconut oil, sunflower oil, dan soybean oil. Sedangkan minyak dari hewani yang biasa kita jumpai adalah minyak dari ikan sarden, ikan paus, dan ikan cod.

Minyak biji kurma merupakan salah satu contoh edible oil berbahan dasar nabati. Ha? Minyak biji kurma? Yap! Minyak ini mengandung antioksidan yang sangat tinggi sehingga bisa menangkal radikal bebas yang menjadi salah satu penyebab hadirnya penyakit. Minyak seperti inilah yang saat ini dibutuhkan oleh manusia untuk menghindari resiko terkena penyakit kanker, serangan jantung, gagal ginjal, usus buntu dan berbagai penyakit pencernaan lain.

Buah kurma mengandung minyak, tetapi bijinya memiliki kandungan yang lebih besar. Minyak yang diekstraksi dari biji kurma memiliki komposisi vitamin, nutrisi, dan asam lemak esensial yang mengesankan, termasuk oleat, linoleat, laurat, palmitat, dan asam lemak stearat. Biji kurma tidak hanya mengandung nutrisi utama seperti potasium, magnesium, kalsium, dan fosfor, tetapi juga mengandung asam lemak esensial yang bermanfaat bagi tubuh.

Selain itu minyak biji kurma sangat baik untuk merawat kesehatan rambut. Kandungan minyak biji kurma menyehatkan folikel rambut dan menjaga rambut dengan optimal. Helai rambut dapat menjadi lebih kuat dan sehat, demikian juga bagian kulit kepala yang menjadi semakin lembab dan sehat.

BAGAIMANA CARA MEMBUAT MINYAK BIJI KURMA?

Minyak biji kurma didapatkan melalui proses ekstraksi. Ekstraksi dilangsungkan dalam alat bernama sokhlet. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu biji kurma sebagai bahan baku utama, dan etil asetat (C4H8O2) sebagai pelarut pada proses ekstraksi. Peralatan utama yang digunakan adalah alat sokhlet berupa labu distilasi, thimble, refluks kondensor, serta alat distilasi yaitu pendingin leibig, pipa bengkok, dan hot plate.  Caranya adalah dengan mengeringkan biji kurma yang akan dipakai dengan oven pada suhu 900C. Setelah kering kemudian di giling menggunakan blender dan ball mill untuk medapatkan bubuk biji kurma. Bubuk biji kurma tersebut kemudian dimasukkan kedalam thimble yang ada pada sokhlet.

Tahap berikutnya adalah pelarutan menggunakan etil asetat dengan perbandingan 2:1. Proses ektraksi ini memakan waktu 2 jam. Esktrak minyak yang diperoleh kemudian disaring dengan kertas saring whatman untuk menghindari partikel yang tidak diinginkan masuk. Terakhir, ekstrak minyak biji kurma yang didapatkan dimurnikan dengan karbon aktif sebanyak 5% dari berat minyak yang didapatkan.   

Bila dilihat dari proses nya, pembuatan  minyak biji kurma memang terlihat sedikit rumit. Tetapi tenang saja, meskipun terbilang cukup langka, beberapa marketplace sudah mulai menjual edible oil dari biji kurma ini.  Keadaan tersebut bahkan  bisa menjadi suatu peluang bisnis mengingat manfaat dari biji kurma yang begitu banyak, dibanding jika hanya dibuang begitu saja. Langkah yang kita harus lakukan berikutnya, tentunya ialah semakin meluaskan edukasi kepada masyarakat tentang khasiat dari minyak biji kurma ini.


REFERENSI :

Agung, M. R. (2016). Ekstraksi minyak dari biji kurma (Phoenix dactylifera L.) dengan metode soxhlet extraction dengan menggunakan etil asetat. Jurnal Teknik Kimia USU, 5(2), 55-60.

Syed Riaz Ahmed, A. S. (2021). Chapter 7 - Edible oil (Green Sustainable Process for Chemical and Environmental Engineering and Science). Pakistan: Department of Bioinformatics and Biotechnology, Government College University, Faisalabad, Pakistan.