Hanya dengan kitab Ajaibul Makhluqot wa Gharaibul Mawjudat karya Qazwini yang mampu menjawab pertanyaan sinting: apa hukumnya makan daging ular naga? Alamak!

Pun, film Hollywood yang berjudul Doctor Strange mungkin saja tak laku di mata Qazwini. Kata-kata yang berbau strange (aneh) dan marvelous (ajaib), yang sangat dijunjung tinggi oleh rumah produksi Marvel Studios dengan makhluk rekaannya, tetiba tiada daya di alam tradisi sastra mirabilia Qazwini. Kenapa sampai segitunya?

Sepertinya tidak ada kata “supranatural” dalam karya sastra Qazwini. Gagasan-gagasan di luar nalar dengan mudahnya dilibas, hingga menjadi sesuatu yang sangat terang benderang untuk dilihat dan dinikmati.

Keberanian Qazwini dalam mengungkap hal-hal di luar nalar patut diacungkan jempol. Ia mampu membobol dinding tebal yang bernama tabu. 

Banyak faktor yang melatarbelakangi keberanian sastra gaya Qazwini. Salah satunya, kedekatannya dengan tuhannya. Di samping itu, adanya kebebasan dan keberanian untuk bermanuver dan berekspresi pada wilayah-wilayah tabu. 

Namun, ini bukan keberanian yang ngawur, Qazwini bertindak sangat terukur dan teratur. Ia merupakan salah satu sastrawan yang ahli dalam hal religi, histori, medis, puisi, etnografi, zoologi, kosmologi, filsafat, politik, botani, geografi, astronomi, mineralogi, dan etnografi. Semuanya digabung, hingga terkumpul dalam satu kitab spektakuler tersebut.

Kita juga telah paham bahwa film-film Marvel Cinematic Universe  (MCU) itu penuh dengan adegan dramatis dari seri kepahlawanan super duper Amerika. Bukan hal yang tak mungkin, imajinasi yang telah dibangun berdasarkan karakter publikasi komik Marvel-nya berasal dari imajinasi yang dibangun oleh kitab ini. 

Sastra Rabanik (Yahudi) dan sastra hermeneutik Kristiani juga belum tentu mampu bersekuler dan berspektakuler seperti halnya sastra mirabilia milik Qazwini. 

Karya sastra mirabilia Qazwini banyak memberikan gambaran visual yang sangat fenomenal. Anda dapat menikmatinya pada kitab Ajaibul Makhluqot wal ghoroibul maujudat (Makhluk Ajaib dan Wujud Penciptaan Aneh) atau dalam versi Inggrisnya, The Wonders of Creation and the Curiosities of Existence. Kitab ini sangat langka. Harganya jutaan di sebuah perdagangan daring.

Sastra mirabilia klasik ala Qazwini lebih suka berbicara tentang hal yang berbau marvelous ataupun strange. Tempat-tempat aneh, flora atau fauna yang aneh, kosmologi aneh. Aneh bagi khalayak umum, namun biasa saja bagi Qazwini.

Adapun peran dari sastra mirabilia Qazwini yang klasik ini, menurut saya, telah berhasil menggabungkan Hadarah al-ilm (budaya ilmu), yaitu ilmu-ilmu empiris seperti sains, teknologi, dan ilmu-ilmu yang terkait dengan realitas dengan hadarah al-falsafah (budaya falsafah). Qazwini mampu memperhatikan etika atas kehadiran emansipatoris yang beragam.

Begitu juga sebaliknya, hadarah al-falsafah (budaya filsafat) akan terasa kering dan gersang jika tidak terkait dengan isu-isu keagamaan yang termuat dalam budaya teks dan lebih-lebih jika menjauh dari problem-problem yang ditimbulkan dan dihadapi oleh hadarah al-ilm. Di sinilah peran Qazwini yang tak akan pernah tergantikan oleh ilmuwan lainnya. 

Kekuatan sastra mirabilia Qazwini menjadi jalan tengah antara pengalaman ilmiah dengan kontemplasi religius mengenai kebaikan dan kekuasaan Tuhan. 

Sastra ini ditandai dengan penekanan pada pemikiran yang masuk akal. Pada waktu itu, masyarakat percaya bahwa mereka dapat menemukan kebenaran tentang dunia dan kehidupan manusia melalui pengamatan ilmiah dalam proses penalaran. Maka, Qazwini menawarkan jawaban tantangan tersebut dalam karya-karya sastra miribilia yang penuh dengan tema-tema ilmiah.

Qazwini sangat menampung nafsu mereka tentang proses akal. Qazwini memahami, bahwa mereka memiliki sifat yang optimis tentang masa sekarang dan yang akan datang. Ketertarikan yang mendalam tentang ilmu pengetahuan merupakan sebuah keinginan untuk memelihara budaya dan tradisi sekaligus.

Ketidaktahuan yang membuat orang zaman kuno menciptakan dewa sebagai tuan atas setiap aspek kehidupan (Hawking).

Jika kita bandingkan antara Qazwini dan Hawking, terutama mengenai ilmu pengetahuan, tampaknya tidak ada perbedaan yang signifikan. Namun, Hawking menyerah untuk bab ketuhanan. Sedang Qazwini sangat berani menggambarkan secara jelas unsur-unsur gaib yang dianggap tabu untuk dibedah. 

Hawking menganggap bahwa segala sesuatu di balik kekuatan tuhan atau dewa sebenarnya berasal dari alam, dan akan lebih tepat jika manusia itu wajib memahami dunia serta alam semesta dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Hal ini, bagi Qazwini, tentunya bukan sebuah masalah. Anda dapat menikmati perhitungan rumit matematis dalam karya-karya Qazwini berdampingan dengan hal-hal di luar perhitungan (supranatural).

Qazwini mampu menghubungkan dengan fasih antara tuhan dan gejala alam. Bagi mereka yang analisisnya hanya berhenti pada gejala alam saja, maka yang akan didapat hanyalah pernyatan-pernyatan rasional dengan pendekatan ilmiah saja. Beda dengan Qazwini, keduanya mampu didapat.

Qazwini juga mampu dengan gamblang menunjukkan hubungan tuhan dengan alam, dalam sebuah penciptaan-penciptaan yang beragam, termasuk hal yang berbau anomali. Qazwini mampu menyajikan makhluk-makhluk aneh yang tak mampu ditampilkan ilmu taksonomi modern. 

Bagi Qazwini, agama adalah alternatif terbaik untuk sebuah realitas sejati. Dari dua alur pemikiran ini, Qazwini mampu menjawab pernyataan yang falsafi banget: apakah hakikat final dari alam kosmos; materi, akal atau ruh?

Apakah alam kosmos produk dari proses kerja materi? Ataukah alam kosmos merupakan ciptaan dari kekuatan non-materi? Qazwini menjawabnya dengan deretan penjabaran kosmologi yang ciamik. Lengkap dengan visualnya, sangat enteng dinikmati mata telanjang. 

Qazwini tidak membuat sebuah perbedaan tugas antara seorang peneliti dalam bidang sejarah ilmiah dan tugas seorang peneliti dalam ilmu pengetahuan alam. Keduanya dapat ia lakukan sekaligus, tanpa adanya kesulitan yang berarti.

Oleh karena itu, baginya, seluruh penyelidikan, analisis, dan hasilnya semaksimal mungkin dapat dilihat oleh mata telanjang. Inilah tujuan utama sastra mirabilia Qazwini. Jangan kaget jika dalam kitabnya banyak sekali gambar-gambat yang seharusnya tabu untuk divisualkan.

Qazwini mampu menjawab problem klasik sejarawan: bahan kajian penelitian seorang sejarawan ada di masa lampau dan tidak ada di masa sekarang. Kesulitan tersebut dengan enteng dapat diselesaikan oleh Qazwini dalam karya kitab spektakulernya, Ajaibul Makhluqot wal ghoroibul maujudat.