Sastrawan
3 tahun lalu · 5364 view · 15 min baca menit baca · Seni eco.jpg
Blaues Sofa/Flickr

Eco dan Iman

Umberto Eco meninggal 19 Februari yang lalu – tapi saya tak yakin ia pergi selama-lamanya. Namanya tak mudah terhapus dari ingatan. Ia hadir di mana saja orang berbicara tentang semiotika, filsafat, telaah bahasa, media, sejarah Eropa Abad Tengah, dan tentu saja novel.

Tentu saja: Eco adalah pabrik kata dan ide dan percakapan. Ia menulis 7 buah novel, sekitar 30 jilid non-fiksi, termasuk karya akademik yang pelik, (salah satunya dengan judul: “Dari Pohon sampai Labirin: Telaah Sejarah tentang Tanda dan Tafsirnya”). Dan itu belum semuanya: ada buku untuk anak-anak. Ia menulis kolom untuk surat kabar – juga Twitter.

Kalimat terakhir di akun Twitter-nya, (22 November 2015): “...surat kabar tak akan lenyap, setidaknya di tahun-tahun aku masih diizinkan hidup” – "il giornale non sparirà almeno per gli anni che mi è consentito di vivere."

Ia orang tua, sudah di atas 80 tahun waktu ia menulis itu, yang memang setia kepada medium pra-digital. Ia mencintai buku (di kedua perpustakaaanya ada 50 ribu jilid) ketika buku, dalam bentuknya sekarang, diperkirakan akan ditinggalkan; ketika toko besar macam Borders tutup dagang dan orang banyak membaca melalui Kindle atau iPad. Eco yakin, E-books atau bukan, buku akan tetap ada, sebagaimana “gunting, palu, dan roda”.

Ia akrab dengan bacaan sejak kecil. Kakeknya, yang berpengaruh besar kepada dirinya, yang meninggal ketika Umberto enam tahun, punya koleksi buku yang berkesan pada si cucu. Neneknya tiap pekan membawa pulang dua atau tiga jilid yang dipinjamnya dari perpustakaan, buat cucunya.

Ayahnya, seorang akuntan, di masa mudanya yang miskin tetap gemar membaca tanpa harus beli buku: dengan cara datang ke beberapa toko buku untuk menikmati sebuah novel sampai selesai.

Dengan buku dalam hidupnya, novel-novel Eco mengagumkan, atau sebaliknya, meletihkan. Hampir tiap bagian seakan-akan sebuah pameran erudisi, hampir tiap bab mengandung bobot pengetahuan yang ditimba dari buku yang lain.

Atau ia menggelitik kita buat menebak-nebak “intertekstualitas” pustaka di belakangnya. Tokoh utama Il nome della rosa (versi Inggris: The Name of the Rose), William Baskerville, misalnya – yang memerankan “detektif” Abad Tengah – mengingatkan kita akan karya Sherlock Holmes oleh Arthur Conan Doyle, The Hound of Baskerville

Tokoh Jorge de Burgos, kepala perpusatakaan biara yang buta: kita ingat sastrawan tunanetra yang tenar, Jorge Luis Borges, yang juga direktur Perpustakaan Nasional di Bueno Aires. Nama Braggadocchio dalam Numero Uno berasal dari tokoh pembual dalam syair Edmund Spenser Faerie Queene yang terbit di tahun 1590. Dalam Il Cimitero di Praga (Pekuburan Praha), muncul pengarang Le Comte de Monte Cristo, Alexander Dumas.

“Buku selalu bicara tentang buku lain,” kata Eco, “dan tiap cerita membawakan kisah yang sudah diceritakan.”

Tapi di sini Eco adalah orang zaman ini, ketika hierarki dan dinding pembatas genre (dan “mutu”) tiap hari tumbang. Itu sebabnya ia menelaah semiotika; baginya, semua hal ihwal dapat dijadikan sasaran analisis kebudayaan.

Pakar tentang dunia Abad Pertengahan Eropa dan kolektor buku langka ini tak membeda-bedakan karya yang dianggap “abadi”, misalnya Hamlet Shakespeare, dengan karya “hiburan” yang gampang lewat, katakanlah Casino Royal Ian Fleming.

Seri James Bond lazimnya dipinggirkan dari telaah sastra, tapi tidak buat Eco. “Manifestasi kebudayaan yang di pinggiran tak boleh diabaikan,” katanya dalam wawancara dengan "Paris Review." Siapa tahu, kata Eco pula, dua abad mendatang iklan Coca Cola akan dianggap lebih bagus ketimbang karya Picasso.

Ia sendiri menganggap serius cerita detektif.

***

Novel detektif, menurut Eco, punya persamaan dengan filsafat. Keduanya bertolak dari pertanyaan sentral: siapa-yang-melakukan-itu?


Saya tak yakin apakah memang demikian. Tapi jika kita pahami alam pikiran Eco, saya kira ada tiga faktor lain yang membuatnya akrab dengan cerita detektif.

Pertama, genre ini membawakan rasa ingin tahu yang tangguh. Eco punya satu istilah dalam bahasa Inggris: stubborn curiosity. Kata itu, dalam konteks yang agak beda, menunjukkan pencarian jawab yang tak gampang menyerah. Dan dengan itulah suspens cerita detektif terbentuk.

Demikianlah Hercule Poirot diciptakan Agatha Christie untuk mempersonifikasikan rasa ingin tahu: siapa sang pembunuh di antara penumpang kereta api Orient Express malam itu? Pertanyaan dan tilikannya intensif, mengerucut, sampai rahasia tersingkap.

Kedua, cerita detektif mengandung yang dalam semiotika disebut ”abduksi”. Abduction, satu pengertian Charles Sanders Peirce (pelopor semiotika, pemikir yang dikagumi Eco), adalah proses menyimpulkan: ada fakta, ada hipotesis tentang fakta itu, ada kemungkinan bahwa hipotesis itu benar, dan akhirnya ada pembuktian.

Ketiga, cerita detektif lahir karena teka-teki yang dibentuk dusta – dan dusta, seperti akan saya uraikan di ujung tulisan ini, punya fungsinya sendiri.

Tak mengherankan bila Il nome della rosa, novel pertamanya, (yang merupakan karya fiksi Eco yang paling kaya dalam tafsir dan paling memikat bila dibaca), adalah sebuah titisan kisah Sherlock Holmes dan Hercule Poirot – meskipun tak hanya itu.

Di dalam novel ini, dengan piawai Eco menampilkan manusia dalam kapasitasnya yang unik. Jika kita menemukan “humanisme” di dalamnya, maka itu ketika diperlihatkan keistimewaan manusia: bukan cuma sebagai hewan yang mandiri dalam berpikir, seperti dalam humanisme Pencerahan menurut Kant, tapi juga hewan yang bisa berbohong dan bisa ketawa.

Di situ pula makhluk ini berhadapan dengan sisi lain dari dirinya: hewan yang beriman.

Dan dalam Il nome della rosa, Eco memanggungkan konfrontasi antara iman dengan tiga kemampuan manusia itu: dalam nalar, dalam humor, dalam dusta.

Novel ini mengadopsi model cerita Abad Tengah, dengan pembagian bab berdasarkan waktu ibadah dalam biara – tapi kisah yang terbentuk menampilkan kompleksitas sebuah karya modern – dengan akhir yang membawakan perspektif, katakanlah, “pasca-modern”. Dengan cara bercerita yang memikat.

Syahdan, di tahun 1327, serangkaian pembunuhan terjadi di sebuah biara yang terisolir di Italia Utara. Waktu itu datang ke sana seorang pastur dari Ordo Fransiskan, orang Inggris, William Baskerville, untuk mengikuti sebuah perdebatan teologis. Ia disertai seorang rahib muda, anak Jerman, Adso.

Kepala biara pun meminta William menyelidiki apa yang menyebabkan sejumlah biarawan berturut-turut mati secara misterius. Dan sang padri Fransiskan pun jadi detektif.

Ia berhasil. Akhirnya terbukti para biarawan itu terkena racun. Akhirnya diketahui bahwa mereka mati karema berani masuk ke ruang perpustakaan tempat sebuah buku karya Aristoteles tentang humor tersimpan.

Buku itu dijauhkan dari siapa saja. Jorge, pustakawan utama, seorang biarawan tua yang buta dan fanatik, telah menyembunyikannya. Ia melindungi karya Aristoteles itu secara istimewa: lembar-lembarnya dilapisi racun yang ganas; siapa yang membuka-bukanya akan terkena, dan pasti mati.

Pada akhirnya, setelah menghimpun data dan menyusun hipotesis, William menemukan motif kematian atau pembunuhan itu. Di situ ia tampak sebagai seorang padri Abad Tengah yang tak lazim: ia menampik kepercayaan bahwa rangkaian kematian misterius itu hasil perbuatan Iblis.

Dengan metode abduksi, ia bisa memecahkan sebuah teka-teki yang pelik. Ia mengingatkan kita kepada Sherlock Holmes yang mengamalkan apa yang disebutnya sendiri sebagai the science of deduction: mengamati fakta-fakta kecil, yang mungkin bisa jadi dasar kesimpulan-kesimpulan yang besar, dan kemudian mem-verifikasi-kannya.

William mungkin akan tampak anakronistis, sebab umumnya Abad Tengah Eropa diceritakan sebagai abad yang gelap, diliputi taklid dan takhayul, zaman ketika agama menguasai pemikiran dan ilmu-ilmu masih kerdil. Tapi Eco justru menunjukkan bahwa Abad Tengah bukan sepenuhnya kegelapan.

Masa itu, katanya dalam sebuah wawancara, justru merupakan “tanah subur dari mana akan terbit zaman Renaissance”. Abad Tengah adalah sebuah masa peralihan dengan segala gejolak dan kegugupannya: transisi dari suasana jahiliah ke dalam the Age of Reason, zaman yang berpegang nalar atau akal budi.

Dan William adalah manusia di masa transisi itu: seorang yang beriman, pengikut Ordo Fransiskan, tapi tak berpikir dari doktrin agama. Baginya, kebenaran yang mutlak dan dianggap final justru menakutkan.

Kebenaran, bagi William, orang Inggris ini, bukan ditentukan konsep-konsep, melainkan  pengalaman empiris: dunia yang dicerap pancaindra, dunia benda-benda yang “dekat”, partikular, konkret, berubah-ubah.

Seperti disebutkan Aldo, si narator dalam Il nome della rosa, William menunjukkan “sikap skeptis tentang ide-ide universal” tetapi ”hormat terhadap hal-hal individual”. Eco menekankan sifat ini dengan memberinya latar belakang Inggris – negeri para filosof empiris: John Locke, David Hume, John Stuart Mill. Seakan-akan William Baskerville bagian dari mereka.

***

Hubungan empirisme dengan penelaahan ilmu cukup dikenal. Dari segi ini, William berada dalam kubu pemikiran ilmiah, sebuah kontras bagi kehidupan di biara Italia abad ke-14 itu, di mana iman adalah segala-galanya.

Ia belajar di Oxford, murid Roger Bacon, padri Fransiskan di pertengahan abad ke-13 yang memelopori studi tentang alam secara empiris.

Bacon memperkenalkan pelbagai gagasan teknologi baru, antara lain, tentang mesiu, mesin terbang, dan terutama optik, yang ditakiknya dari karya Alhazen (Hasan Ibn al-Haytham), ilmuwan Arab abad ke-10 yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Alhazen, Al Kindi… Beberapa kali William menyebut sumber-sumber Islam dalam pengetahuannya – dan saya merasa Eco sedang hendak menegaskan sebuah perbandingan: dunia Kristen yang terkekang dogma dan kecemasan akan dosa, begitu tertinggal dibandingkan dengan dunia Islam yang, (setidaknya di abad ke-9 dan ke-10, 400 tahun sebelumnya – bukan dunia Islam hari ini), penuh percaya diri, berani menjelajah ilmu pengetahuan ke sudut yang sejauh-jauhnya.

Di dalam proses itu, “kekuatan magis,” magia, mendapatkan makna lain. Agama, menurut William, harus memuliakan magia santa, di mana "pengetahuan Tuhan dimanifestasikan melalui pengetahuan manusia, untuk mengubah alam, dan salah satu tujuannya adalah memperpanjang hidup”.

Tapi itulah yang tak ditemukan di biara itu. Pada akhirnya tempat ibadat itu pun jadi sebuah alegori kehidupan iman yang ketakutan, yang menyembunyikan konflik dalam dirinya, dan tertutup.

Tak mengherankan bila agama dalam novel ini adalah sebuah gua yang muram.

Gereja digambarkan menumpuk kekayaan duniawi dengan tanpa risih, sementara di sekitarnya menjalar kemiskinan. Ada rohaniawan-rohaniawan yang melawan keadaan itu. Mereka menjadi kritik yang merisaukan para wali penjaga ajaran: mereka memilih jalan kemiskinan, membentuk aliran yang mengharamkan hak milik, dan menggerakkan pembangkangan terhadap Paus – mungkin cara Eco mengingatkan pembacanya akan para padri Katolik Amerika Latin yang bekerja sama dengan gerakan komunis dalam “teologi pembebasan.” Tapi akhirnya mereka jadi sempalan yang dikejar-kejar dan dihabisi.

Di tengah-tengah kehidupan beragama itu, ada kekuasaan Inkuisitor, yang atas nama Tuhan merasa berhak mengusut keimanan seseorang dan membakar hidup-hidup orang yang dianggap ingkar dari ajaran. Salah satu bagian yang mencekam dalam Il nome della rosa adalah ketika seorang yang tak berdaya diadili, diusut kelurusan imannya, dan disiksa, dan seorang gadis dusun yang miskin dan tak bersalah dicadangkan dibunuh dengan nyala api.

Dalam suasana yang penuh ketegangan itu, hadir Jorge. Sosok antagonis ini dengan tegar menegakkan satu tiang iman: “rasa takut” – persisnya, “rasa takut kepada Tuhan”.

Tanpa rasa takut, kata biarawan tua itu, tak akan ada iman. Hukum, katanya pula, berjalan karena rasa takut. “Apa akan jadinya kita, makhluk yang berdosa ini, tanpa rasa takut?”. Baginya, rasa takut adalah “anugerah Tuhan yang paling berpandangan jauh, paling kasih-sayang”.

Agaknya karena itulah iman dalam konsep Jorge adalah iman yang cemas. Biarawan buta ini mengharamkan gambar dan karya visual, terutama bila melukiskan mahluk dan adegan yang ganjil, kocak, dan menarik.

Ia cemas bila seorang rahib merasa lebih senang “mengagumi karya manusia ketimbang merenungkan hukum Tuhan”. Jorge cemas: imajinasi, nalar, bahasa, dan tubuh manusia adalah kemampuan yang bisa liar. 


Dalam khotbahnya menjelang akhir novel, padri tua ini mengingatkan bahwa kebanggaan biaranya terletak dalam tugas "merawat pengetahuan". "Merawat", katanya, bukan "mencari". Sebab pengetahuan, sebagai milik yang datang dari Tuhan, "sudah didefinisikan sejak semula".

Maka semua kemampuan manusia harus dikendalikan. Jorge menganggap, yang dikehendaki Yesus dari manusia adalah “ya” atau “tidak”, itu saja. Jika bergeser, Iblis akan menyeret kita ke jalannya.

Sehubungan dengan itu, metafor atau kiasan tak diperbolehkan. Makna kata harus transparan, pasti, dan harfiah. “Untuk mengatakan ‘ikan’ cukup dengan menyebut ‘ikan’,” katanya, “tanpa menyembunyikan makna di bawah bunyi kata itu.”

Sejalan dengan itu pula, iman yang antimetafor ini mengharamkan humor dan menjauhkan manusia dari ketawa. Bagi Jorge, humor membuat manusia mudah menyeleweng dari jalan lurus. “Ketawa menghasut orang untuk ragu,” katanya. “Ketawa mematikan rasa takut,” dan, seperti sudah disebut di atas, bagi Jorge, “tanpa rasa takut tak akan ada iman.”

Maka pustakawan tua ini menandaskan bahwa manusia tak sepatutnya jenaka, tak pantas ketawa, sebab Kristus tak pernah ketawa. Buku tentang humor tak boleh dibaca, apalagi diikuti.

Terutama karya Aristoteles, “sang Filosof”.

Jorge agaknya lebih mengamini Plato yang mengutamakan ide yang kekal dan menganggap tubuh sebagai sesuatu yang rendah. Yang pasti ia anti-Aristotelian. “Tiap buku dari tangan orang ini,”  kata Jorge, “telah meruntuhkan sebagian dari pengetahuan yang selama berabad-abad dihimpun agama Kristen.” 

Kitab Kejadian, misalnya, telah menunjukkan komposisi dari kosmos, tapi Aristoteles didatangkan, dan filosof ini memperkenalkan alam semesta hanya sebagai “zat yang budeg, dongok, dan berlendir”, materia sorda e viscida.

Bersama itu, “orang Arab yang bernama Averoes itu,” – yang membawa pemikiran Aristoteles ke kalangan umat Kristen – nyaris meyakinkan semua orang bahwa dunia ini kekal.

Kata Jorge, kesal: "Sebelumnya kita melihat ke atas, ke langit, kini kita menatap ke bawah, ke bumi. Kita memercayai yang di langit berdasarkan kesaksian apa yang di bumi.”

Sang Filosof pula yang mengangkat martabat humor. Aristoteles menjadikan ketawa bagian dari seni, jadi telaah filsafat dan “teologi yang munafik”. Jorge cemas bila kelak “bahasa keyakinan” digantikan oleh “bahasa olok-olok”.

Ia cemas karena ketawa adalah kesukaan orang ramai, rakyat banyak yang seharusnya dibimbing para “penggembala rohani” agar selamat dari godaan perut, alat kelamin, makanan, dan “hasrat mereka yang jorok”.

Pendeknya, pengetahuan yang dibawa Aristoteles adalah ajaran sesat. Dan Jorge mengingatkan, buku sang Filosof, yang semula tak dikenal dunia Kristen, “sampai kepada kita melalui orang Islam, orang kafir”.

William adalah lawan yang telak bagi anggapan seperti itu. Baginya, ilmu tak mengenal kafir atau tak kafir. Di atas sudah disebut bagaimana ia menghormati khasanah ilmu dari para pemikir Islam.

Di bagian lain novel ini, William, ketika berada di tengah perpustakaan biara yang berisi buku-buku yang tak lazim, menemukan sebuah kitab yang langka: telaah Ayyub al-Ruhawi tentang “gejala hidrofobia pada anjing.” Lihatlah, katanya, ada ”karya-karya ilmiah dari mana orang Kristen harus banyak belajar”.

William juga mengoreksi Adso yang mengangap Quran – yang kebetulan ada di ruangan itu – sebagai kitab yang “menyimpang”. Bukan, Adso, kata sang pastur dari Inggris itu, Quran “adalah sebuah buku yang mengandung kearifan yang berbeda dari ajaran kita”.

Berbeda – dan itu tak berarti salah dan sesat. Dan apakah salah atau sesat ketika yang disebut “kebenaran” tak bisa dirumuskan secara pasti? William, yang juga seorang pragmatis, tak menawarkan satu rumusan. Bahkan ia, menurut Adso, “sama sekali tak tertarik kepada kebenaran”; ia lebih asyik menelaah kemungkinan-kemungkinan.

“Sebab itu Tuan tak punya satu jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan Tuan?”

“Adso, seandainya aku punya itu, aku sudah akan jadi pengajar teologi di Paris.”

Dengan posisi itulah ia melihat bagaimana humor dan ketawa dalam kehidupan manusia amat penting – dan bagaimana “kebenaran”, yang dianggap hanya ada satu oleh teologi, bisa menakutkan. Kutipan yang terkenal, kata-kata Baskerville:

Mungkin tugas mereka yang mencintai umat manusia adalah membuat orang menertawakan kebenaran, membuat kebenaran tertawa, sebab satu-satunya kebenaran terletak dalam belajar membebaskan diri kita dari gairah yang tergila-gila kepada kebenaran.

“Gairah yang tergila-gila kepada kebenaran”, la morbosa passione per la verità itulah yang membuat orang siap membinasakan mereka yang diangap “tidak-benar”. Di saat itu, di Abad Tengah itu, William seakan-akan sedang memandang ke semesta sejarah, ke masa lalu dan masa depan, ke saat-saat ketika ideologi dan ajaran agama – yang mengeklaim sebagai pembawa Kebenaran – berkali-kali jadi penindas. Atau membuat manusia saling membunuh.

Eco mengutarakan hal ini lagi dalam kata-kata Simonini, tokoh utama Il cimitero di Praga: ”Orang tak pernah begitu keji, secara penuh dan antusias, seperti ketika ia bertindak berdasarkan keyakinan agama.” Agama, bagi Simonini, bukan candu, melainkan “kokain”, narkoba yang membuat orang beringas dan bergairah.

Dan gairah itu, gairah kepada kebenaran itu, bisa bertaut dengan sikap takabur.

Maka William mencerca Jorge, rohaniawan yang merasa paling suci dan benar itu. “Kamu Iblis,” katanya dengan sengit. Iblis bukanlah kekuasaan yang memenangkan materi, il principe della materia. Iblis adalah keangkuhan rohani, l’arroganza dello spirito – “iman yang tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dijangkiti ragu.”

Dengan “keangkuhan" juga manusia merasa mampu mengetahui dunia sampai mendasar – dan akhirnya menjadikan dunia hanya sebungkah obyek untuk ditelaah dan diolah.

Saya kira tema itu juga yang dikemukakan Eco dalam novelnya yang kedua, Il pendolo di Foucault. Di sini tokoh Casaubon mengajukan satu perspektif lain:

"Saya sampai pada keyakinan bahwa bumi seutuhnya adalah sebuah enigma, sebuah enigma yang tak berbahaya, yang justru jadi mengerikan karena usaha kita untuk menafsirkannya, seakan-akan ia menyimpan kebenaran di dasarnya."

Buat menangkal ilusi bahwa ada “kebenaran” di dasar dunia itulah kita perlu mengakui: ketidak-benaran punya fungsinya sendiri. Kita ingat yang dikatakan Eco: manusia adalah makhluk yang bisa berdusta; anjing tidak. Bahasa memungkinkan itu. “Manusia dapat mengisahkan dongeng peri, membuat gambaran dunia baru, berbuat salah – dan kita bisa berbohong,” katanya dalam salah satu wawancaranya.

Dan kebohongan, seperti dalam cerita detektif, seperti dalam Il nome della rosa, bisa mengganggu manusia, mendorongnya untuk membongkarnya. Tapi kebohongan juga membuat kita sadar bahwa kita bisa terkecoh, kita bisa salah. Seperti yang ditulis Eco dalam “The Force of Falsity”, salah satu esei dalam Serendipities: Language and Lunacy:


“…mengakui bahwa sejarah kita digerakkan oleh banyak cerita yang kini kita ketahui sebagai cerita bohong, seharusnya membuat kita waspada untuk selalu siap menginterogasi cerita-cerita yang kita yakini sebagai benar. Ukuran kearifan komunitas kemanusiaan kita didasarkan kepada kesadaran yang terus menerus akan kemungkinan bahwa yang kita ketahui, yang kita pelajari, bisa salah."

Saya kira itu sebabnya, ketika Il nome della rosa berakhir, tak ada perayaan kemenangan seperti yang biasa kita temukan dalam kisah seorang detektif yang dengan the science of deduction berhasil memecahkan misteri dan mengungkapkan kebenaran.

Novel Eco ditulis dan dibaca di masa yang berbeda dari zaman ketika kisah-kisah Sherlock Holmes dielu-elukan: akhir abad ke-19 Eropa. Tokoh cerita detektif Inggris itu hidup ketika positivisme berkibar, filsafat yang yakin bahwa logika dan rasionalitas selalu sanggup menjaga tertib pikiran dan memastikan kebenaran. 

Tapi zaman Eco, zaman kita, sebaliknya: kini para pemikir menyadari bahwa rasionalitas bisa menyesatkan dan kebenaran tak stabil.

Di titik klimaks novel ini, Jorge tewas, tapi perpustakaan biara yang menyimpan koleksi ilmu itu terbakar habis – sebuah alegori pasca-modern tentang gagalnya dunia modern. Dunia modern, juga agama-agama yang hidup di dalamnya, gagal meyakinkan bahwa selalu ada satu sumber yang tunggal, atau fondasi yang kekal, untuk kebenaran.

Padahal yang didapat hanya serpihan.

Seakan-akan mengukuhkan hal itu, Adso yang salih itu akhirnya hanya bisa mengumpulkan serpihan bekas buku dari puing-puing perpustakaan yang telah hangus.

Tapi ia tak menampiknya. Ia merawatnya sampai di hari tuanya. Baginya, itu satu bentuk perpustakaan tersendiri: “fragmen, kutipan, kalimat yang tak selesai, ujung buku-buku yang terpotong”– yang  makin ia baca berulang kali, makin jelas bahwa semua hadir acak-acakan, tak mengandung pesan apa pun.

Di akhir cerita William Baskerville juga mengakui: ia tak cukup arif untuk melihat bahwa sebenarnya tak ada tata yang tertib di alam semesta. Dunia sehari-hari selalu acak-acakan. Tata yang tertib hanya ada dalam pikiran manusia, berfungsi sebagai tangga untuk meraih ilmu pengetahuan, menggapai kebenaran. “Tapi setelah itu, tangga itu harus dibuang,” kata William.

Itu berarti, jalan ke kebenaran selalu baru.

Jakarta, 4 Maret 2016

Artikel Terkait