Kondisi pandemi saat ini telah  mempengaruhi banyak aktifitas masyarakat, termasuk pendidikan dipaksa untuk sementara waktu beralih ke virtual. Menurut data publikasi riset dari Nielsen di ahir 2020 lalu, kondisi tersebut berpengaruh pada meningkatnya aktifitas penggunaan teknologi informasi baik melalui televisi, gadget maupun media sosial lainnya. 

Hal ini bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa, akan tetapi juga bahkan oleh anak-anak sekalipun. Teknologi informasi, media massa dan sejenisnya, memiliki peranan yang vital dalam penyebar luasan informasi melalui berbagai produk siaran yang dimunculkan. 

Produk siaran baik berupa film, iklan, sinetron, berita, atau konten medsos lainnya cepat atau lambat akan mempengaruhi pola pikir, tindakan dan perilaku masyarakat, tidak terkecuali oleh anak-anak yang rentan literasi dan mudah meniru apa yang sering ditonton dan dilihat. 

Kita sering mendengar adagium yang mengatakan bahwa “Dunia anak adalah dunia meniru”. Adagium ini sejalan dengan Teori Pembelajaran Sosial dari Bandura yang mengungkapkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya datang dari pengalaman secara langsung. Namun juga bisa datang dari peniruan atau peneladanan atas apa yang dilihat.

Berbagai penelitian lain, seperti yang dilakukan oleh Kylie Rymanowicz dari North Carolina University dan Carrie Shrier juga  menemukan bahwa Televisi dengan berbagai program siaran yang tayang dapat menjadi media visual pembelajaran yang efektif bagi anak-anak.

 Dalam konteks yang lebih luas, bukan hanya televisi tetapi juga youtube dan medsos. George Gebner dan Lorry Gross (1976) juga pernah mengingatkan, melalui teori kultivasi yang dikembangkan. Dari teori ini, mereka mengingatkan bahwa apa yang ditayangkan di televisi, media massa, dibuat sedemikian rupa untuk merepresentasikan budaya.

 Tayangan yang sering diulang dan dikonsumsi ini selanjutnya akan membangun satu keyakinan tentang lingkungan sebagaimana yang ditampilkan oleh media. 

Penting untuk diingat, bahwa dalam penyiaran, anak-anak harus diposisikan sebagai khalayak khusus sebagaimana diatur pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. 

Artinya, negara mendorong pemangku kepentingan agar memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dalam dunia penyiaran. Melahirkan program siaran yang ramah anak, menjadi tontonan yang memberikan teladan, bukan sekadar hiburan. 

Anak-anak memiliki hak mendapatkan program acara khusus sesuai dunia mereka yang berkualitas dan mengedukasi. Tidak disamakan dengan program tayangan untuk remaja, dewasa maupun orang tua.

 Tapi nyatanya, kita seringkali temukan tontonan yang menampilkan bullying, kekerasan, berseberangan dengan norma, pergaulan bebas, perkawinan anak dan lain sebagainya. Padahal kita ketahui bersama, anak-anak belum sepenuhnya mampu membedakan tayangan yang mereka lihat apakah nyata terjadi atau hanya rekayasa belaka.

 Tontonan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak, perlahan akan membentuk cara pandang dan perilaku anak.  UU Penyiaran juga memberikan kategorisasi program siaran menjadi 5 kategori. Kategori (P) pra-sekolah yaitu di usia 2-6 tahun, (A) anak-anak di usia 7-12 tahun, (R) remaja untuk usia 13-17 tahun, (D) dewasa untuk usia  di atas 18 tahun, dan (SU) untuk semua umur yaitu bagi usia 2 tahun ke atas.

Kategorisasi tersebut harusnya menjadi landasan bagi para penyelenggara siaran dalam membuat program tayangan, konten harus disesuaikan dengan kategorinya. Sayangnya, hari ini yang terlihat adalah anak-anak diposisikan sebagai khalayak potensial untuk  menjadi target program sinetron, film, talk show dan berbagai program lainnya.

Apa yang perlu kita lakukan ?

Mempersiapkan generasi Indonesia untuk masa depan yang lebih baik adalah tugas kita bersama seluruh masyarakat Indonesia. 

Kelembagaan negara yang memiliki tanggung jawab khusus untuk mengawal penyiaran dan dunia anak seperti KPI, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentu harus mampu secara tegas mendorong para pemilik media untuk peningkatan kuantitas program siaran anak lebih banyak sekaligus kualitas tayangan yang lebih baik. Lembaga negara juga harus lebih serius dalam merumuskan dan penegakan regulasi yang ada. 

Dalam perumusan perbaikan regulasi misalnya, perihal penguatan RUU Penyiaran yang sudah bertahun-tahun menggantung, tentu harus segera diselesaikan dan disahkan oleh legislatif, jangan sampai berlarut tak ada kejelasan. 

Sementara perubahan terus terjadi tak terhindarkan. Kelembagaan negara juga perlu dan harus tegas menegakkan aturan yang berlaku, memberikan sanksi bagi yang tidak mematuhi aturan dan perlu adanya apresiasi kepada mereka yang konsisten menghasilkan program siaran anak yang edukatif. 

Selain itu, lembaga negara lainnya juga perlu ikut bergerak. Misalnya, adanya institusi pendidikan khususnya perguruan tinggi sebagai ruang para akademisi juga harus ikut serta dalam menyelesaikan problem ini. Kontribusi gagasan, keilmuan untuk kesesuaian regulasi sangat dibutuhkan. 

Hasil kajian ilmiah bisa menjadi masukan bagi institusi negara dalam membangun infrastruktur regulasi di bidang penyiaran. Bukan hanya itu, insan akademisi juga perlu hadir di tengah masyarakat. Gerakan pengabdian masyarakat bersama para pegiat literasi media digital, dunia penyiaran dan anak perlu untuk terus dikembangkan. 

Jika rekayasa produksi tayangan yang lebih baik tidak bisa secara cepat dilakukan, paling tidak kita perlu membangun proteksi diri dan membangun kesadaran kritis masyarakat untuk bisa memilih dan memilah tayangan yang berkualitas untuk anak-anak. 

Alternatif yang bisa dilakukan adalah penguatan gerakan literasi media, literasi digital kepada masyarakat, bahkan mungkin sudah menjadi kebutuhan untuk masuk dalam kurikulum pendidikan di berbagai jenjang pendidikan formal. Bagi kita yang tidak termasuk pada dua elemen tersebut, baik pemerintahan maupun akademisi, mari bersama menyadari betapa pentingnya mengawal tumbuh kembang anak dan interaksi anak dengan tontonan. 

Jangan biarkan anak-anak di rumah mengkonsumsi tayangan yang tidak bernilai edukatif. Sediakan waktu luang untuk mendampingi anak-anak dalam menonton TV khususnya saat waktu tayang utama.

 Mari kita mulai dari keluarga kita, dari rumah kita dan dari diri kita. 

Sebab semua harus ikut bergerak menjalankan peran sesuai porsi dan posisi. Ini semua tanggung jawab kita bersama untuk Indonesia yang lebih baik dengan lahirnya generasi-generasi yang cerdas, santun, dan memiliki komitmen dalam mewujudkan cita kemerdekaan.