Sudah lama Ahmad Dhani bertanya pada kita semua melalui lirik lagunya :

“Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau bersujud kepada-Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada
Masihkah kau menyebut nama-Nya?

Apakah kita semua
Benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya?
Ataukah mungkin kita hanya
Takut pada neraka
Dan hanya inginkan surga?”

  • (Ahmad Dhani Band)


Apa yang Ahmad Dhani dkk coba sampaikan pada kita semua adalah suatu pertanyaan menohok mengenai “daleman” manusia. Apakah manusia melakukan sesuatu hanya apabila ada “iming-iming” hadiah atau hukuman? Bahkan untuk relasi dengan level “tertinggi” yang dimiliki manusia? 

Benarkah manusia belajar dengan cara-cara seperti tikus atau gajah sirkus yang dilatih oleh pawangnya? Di sudut hati kita yang terdalam, sebenarnya kita hanya akan berbuat baik jika diberi “hadiah” surga, dan menghindari perbuatan buruk karena diancam “hukuman” neraka? Benarkah kita punya sisi dangkal seperti itu, yang mau menyembah Pencipta-Nya hanya apabila ada konsekuensi dalam setiap perilakunya?

Belakangan ini, pertanyaan tersebut tampil dalam pengamatan saya pada dunia yang kita sebut dengan dunia online. Mungkin sudah terjadi sejak dulu, namun belakangan menjadi lebih intens karena sejak pandemi dunia kita lebih dari setengahnya berubah wujud menjadi dunia online. 

Dunia online yang saya maksud adalah terkait dengan berbagai ekspresi status facebook, whatsapp, konten instagram, tiktok, bahkan juga dalam perilaku-perilaku seperti mengikuti rapat, webinar, maupun pembelajaran melalui platform online.

Ketika sedang webinar misalnya, saya mendengar cerita dari seorang rekan yang lupa menekan "mute" di platform online. Rekan saya panik karena sedang membicarakan hal personal mengenai narasumber tersebut. Mungkin kita semua pernah mengalami hal itu. 

Apa sebenarnya yang kita takutkan saat itu terjadi? Ya, kita takut karena biasanya kita lebih suka membicarakan orang di belakang. Tidak apa-apa membicarakan orang asal jangan ketahuan orangnya, kurang lebih begitu prinsip dunia "ghibah". Tombol mute yang lupa kita matikan itu menakutkan karena berpotensi membuat ‘image’ kita menjadi buruk di mata orang lain. Padahal tak terhitung berapa kali kita membicarakan orang lain yang tidak ketahuan. Asalkan tidak ketahuan orang, tidak ada konsekuensi nyata berarti masih aman.  

Lalu, mari mengenang kebahagiaan disaat postingan konten Instagram kita di-likes puluhan orang dan dibanjiri oleh pujian-pujian yang membuat “nagih” untuk bikin konten lagi. Atau sebaliknya, disaat postingan kita hanya dilirik dan di-likes oleh segelintir teman dekat, teman “nggak enakan”, atau teman yang punya keharusan nge-likes semua post orang yang kebetulan lewat di lamannya. Pastilah kita merasa bahwa konten kita tidak disukai. Lalu malas bikin konten lagi. 

Ya, jumlah tombol likes itu adalah penentu apakah kita akan tetap melakukan sesuatu atau berhenti di tempat sambil misuh-misuh. Likes, save, share apapun itu yang dijadikan instagram sebagai tolak ukur konten bagus kita adopsi menjadi tolak ukur penerimaan dan penghargaan dari orang lain untuk diri kita.

Permasalahan apa yang ada di tiktok? Tiktok yang menarik diperhatikan adalah tiktok muncul dalam akun “per-ghibah-an” nasional, yang isinya tentang derita diri. 

Aku dimarahi mertua"

"Aku ditinggal pacar setelah pacaran 20 tahun" 

"Aku diselingkuhi”. 

Apa konsekuensi yang didapat dari konten-konten model begini? Banyaknya adalah simpati. Makin banyak yang respon, makin memberikan ilham pada orang lain untuk membuat konten tipe “buka aib” sendiri yang serupa. Yang penting dapat “perhatian”, entah itu perhatian buruk atau baik.

Sekarang kita lihat kasus pembelajaran online ibu dan anak yang menjadi favorit saya karena saya pun berjibaku dengan itu. Misalnya ketika anak diminta oleh bapak atau ibu gurunya untuk menyapu dan jangan lupa difoto ya bunda-bunda. Apa yang terjadi? Anak disuruh diam dan tidak menyapu. Yang penting foto. Hahaha, ayo ngaku ibu-ibu yang lain pasti suka juga begini.

Di kesempatan lain dimana webinar gratis ada dimana-mana, jujur saja tidak semua webinar saya ikuti dengan sungguh-sungguh. Ada kalanya saya ketiduran. Ada kalanya saya sambil mengerjakan tugas ini itu. Kadang juga sambil nonton TV. 

Nggak masalah lah, kan nggak kelihatan dan nggak kedengeran ini sama pembicara. Entah kenapa itu yang jadi fokus saya. Pastilah begitu juga kelakuan-kelakuan mahasiswa yang tidak menyalakan kamera. Yang penting saya join room, abis itu saya tidur, main, makan, toh dosennya tidak tahu.

Mungkin itulah sebabnya banyak yang bilang kalau dunia online banyak mengandung “kepalsuan”. Karena apa? Karena dalam dunia online kita hanya fokus pada apa yang tampak. Karena yang penting untuk kita adalah yang penting kelihatan baik. Bukan benar-benar baik. 

Yang penting kelihatan pintar, bukan benar-benar pintar. Yang penting kelihatan mengangguk dan menyahut, padahal nggak benar-benar fokus memperhatikan. Kita menikmati kelegaan psikologis dari topeng yang kita pasang.  

Tampak baik di dalam webinar sudah cukup untuk mendapatkan konsekuensi diterima oleh orang lain. Benar-benar baik, cuma urusan kita dan pencipta kita. Tampak bahagia dan keren di konten instagram sudah cukup untuk mendapatkan likes dan pujian dari orang lain. Urusan benar-benar bahagia dan bermanfaat, ah nanti-nanti saja dipikirkan. 

Tampak menyedihkan dan menjadi korban sudah cukup mengundang simpati yang kita butuhkan, tanpa perlu repot-repot mereka bertanya apa kebenaran sesungguhnya dari cerita kita. Menyetor hasil foto seolah anak menyelesaikan tugas lebih penting daripada pembelajaran mengenai kebersihan dari menyapu itu sendiri.  

Tampak rajin belajar juga sudah cukup untuk mengisi absensi dan dapat nilai. Benar-benar memahami isi materi dan belajar dari hal tersebut belum jadi hal yang penting untuk kita.

Kita sibuk memikirkan "bungkus" diri kita. Hanya peduli pada apa yang kita tampakkan pada dunia, asalkan memperoleh konsekuensi yang menyenangkan, aman, dan menguntungkan. Namun, jarang bertanya pada diri kita tentang esensi tujuan kita melakukan sesuatu. Sesuatu yang datangnya dari dalam diri ini. Mengejar makna hidup, keindahan spiritual, dan kebermanfaatan diri. 

Kita mulai kehilangan makna pada hal-hal yang tidak tampak. Merasa puas hanya dengan bungkus cantik tak "bernyawa". Kembali lagi pada lagu Ahmad Dhani di awal cerita ini tadi, silakan tanyakan pada diri kita semua; “Apakah kita manusia ini benar-benar bisa tulus?”