Waktu saya kecil dulu kertas adalah barang multifungsi. Melalui sebuah kertas, permaianan apa saja bisa diciptakan, selain menghemat uang jajan pada waktu itu, tapi juga sebagai sarana mengisi waktu luang istirahat atau hari libur. Saya masih ingat betul, permainan seperti membuat origami kapal lantas diceburkan ke dalam sungai, saat itu serasa menjadi nahkoda kapal yang balapan dengan kapal-kapal lainnya buatan teman. Membuat wayang-wayangan dari kertas, lalu bercerita bersama teman-teman. Membuat topeng pahlawan pembela bumi, lalu bermain adegan perang-perangan. Atau membuat seluruh isi buku dilipat-lipat lantas menyebutnya bunga yang indah.

Sungguh indah jika mengingat masa kecil dulu. Kita bisa menjadi apa saja hanya dengan kertas. Menjadi aktor, dalang, pembalap, maupun penjual bunga. Sayang seribu sayang, kini saya sulit menemukan kegiatan yang menjadi kenangan indah saya di waktu kecil. Adik saya yang masih bersekolah dasar atau tetangga saya yang seumuran dengan adik saya tidak tahu apa itu wayang-wayangan, balapan kapal atau permainan lainnya yang berhubungan dengan kertas. Gadget adalah benda yang pertama kali dicari adik saya sepulang sekolah. Di hari libur pun sama, seolah-olah gadget itu teman asyiknya. Bahkan ketika bermain ke rumah temannya pun sama, bukannya mengobrol atau bermain di halaman, mereka malah asyik bermain game di gadget sama-sama atau memamerkan akun media sosial yang baru dibuatnya.

Ada benarnya, prediksi seorang pakar informasi, Frederick Lancester, bahwa suatu saat masyarakat akan meninggalkan kertas. Frederick Lancester menyebutnya dengan istilah paperless society. Prediksi tersebut bisa dilihat dari generasi penerus kita yang saat ini masih kanak-kanak yang tidak bisa terlepas dari gadget dan televisi. Kids Zaman Now, sebutan gaul bagi generasi penerus kita, atau biasa disebut juga generasi micin. Sebenarnya mereka tidak salah. Tentu, jika masa kanak-kanak kita adalah sekarang ini maka kitapun bakal sama dengan mereka yang tidak mengenal apa itu wayang-wayangan dari kertas, apa itu topeng pahlawan, atau permainan lainnya dari kertas.

Padahal kertas menyimpan berjuta imajinasi di dalamnya salah satunya seni origami. Seni origami yang dikenalkan Jepang sebenarnya memiliki dampak positif yang jauh lebih besar dari pada gadget. Menurut Sumantri, psikolog anak, seni origami mampu melatih konsentrasi mata, daya gerak otot-otot tangan, konsentrasi, perkembangan motorik dan tentu meningkatkan kreatifitas anak. Beruntungnya masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang mengajarkan seni origami meskipun hanya sebatas formalitas di sekolah karena sepulang sekolah anak-anak tetap memilih gadget. Namun tak sedikit pula orangtua yang melarang sang anak bermain gadget agar terhindar dari kecanduan yang akut.

Kertas adalah salah satu sumber terpenting dalam membangun imajinasi anak. Menurut Johnson, psikolog dari negeri Paman Sam, menyatakan setiap anak memiliki kapasitas imajinasi dan pikiran untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Apabila kapasitas tersebut tidak diasah dan dikembangkan maka anak tidak akan memiliki kreatifitas yang tinggi. Gadget perlahan-lahan membuat anak-anak kehilangan daya imajinasinya karena hanya menuntun anak untuk menjadi penonton bukan eksekutor.  

Kreatifitas anak-anak zaman dulu terbukti sampai sekarang melalui inovasi dan karya yang dibuatnya, karena anak-anak zaman dulu dituntun untuk menjadi eksekutor, hingga menjadikan seni origami bukan satu-satunya permainan dari kertas. Seperti yang saya katakan di atas bahwa kertas melahirkan imajinasi-imajinasi baru. Berikut adalah permainan yang menjadi saksi masa kecil bahagia saya:

Pertama, permainanan ABC lima dasar, siapa yang tidak mengenal permainan ini. Permainan ini dimainkan oleh dua orang atau lebih. Cukup dengan bermodal kertas dan pena. Cara mainnya pun sederhana, kita disuruh untuk membuat empat tabel atau lebih dengan empat sampai lima tema sesuai kesepakatan bersama, misal nama buah, nama hewan, nama iklan di TV, nama pemain sepak bola, dan nama negara. Setelah itu semua orang yang main meletakkan jumlah jari sesuai yang diinginkan, lantas mengurutkan huruf sejumlah jari di atas meja dan munculah huruf sebagai clue. Siapa yang mampu menjawab empat tabel tabel atau lebih sesuai huruf maka akan mendapatkan poin, namun jika salah satu jawaban ada yang sama atau tidak menjawabnya berarti dinilai nol.

Kedua, permainan SOS, mungkin anak-anak zaman sekarang mengira permainan meminta bantuan sebagaimana arti SOS. Padahal permainan SOS ini cukup sederhana sebagaimana permainan ABC lima dasar, cukup kertas dan pena. Kita hanya perlu membuat tabel lalu merangkai kata SOS, bergantian dengan lawan main. Permainannya cukup mudah namun membutuhkan strategi agar bisa menang. Ternyata permainan SOS ini dibuat ke dalam versi game android dengan nama SOS Masters. Mungkin pembuatnya merasa rindu dengan masa kecilnya akan permainan SOS ini.

permainan SOS

Ketiga, balapan. Berbeda dengan balapan kapal origami. Balapan di sini dimainkan di atas kertas kosong. Cara mainnya dengan membuat start dan finis. Lalu buat titik di garis start, tekan pena, lepaskan miring ke bawah lalu teruskan hingga mencapai garis finis, tidak diperbolehkan keluar dari garis lap yang sudah dibuat dan disepakati bersama. Bentuk lapnya bisa berbelok-belok, atau kalau mau mudah bentuk lapnya lurus. Semakin berbelok-belok, semakin susah pula permainannya.

Keempat, membuat gambar dari angka. Permainan ini membutuhkan tingkat kreatifitas yang tinggi. Kita dituntut untuk membuat gambar dari angka yang ditulis lawan main. Permainan ini cocok untuk mengisi waktu kosong di kelas. Dan tentu saja, permainan ini hanya bermodal kertas dan pena saja.

Kelima, sepak bola. Permainan sepak bola di sini dilakukan di dalam ruangan tidak seperti permainan sepak bola pada umumnya. Permainannya pun cukup unik. Sama dengan permainan kertas di atas, permainan ini hanya bermodal kertas dan pena, bedanya kertas yang digunakan dalam permainan ini harus lebih panjang. Selain itu jumlah pemainnya pun harus dua orang tidak boleh kurang atau lebih. Hal pertama yang dilakukan dalam permainan ini adalah dengan menggambar orang lalu membentuk formasi layaknya sepak bola sungguhan. Jumlah orang yang digambar pun harus sesuai dengan jumlah pemain sepak bola sungguhan. Cara mainnya dengan melipat kertas jadi dua, coret hingga membentuk bulatan kecil dengan pena sampai tintanya menembus sisi lain dari kertas. Apabila coretan bulatan kecil tersebut mengenai pemain lawan, maka pemain tersebut dianggap berkurang satu atau hilang. Pemenang ditentukan dari siapa yang lebih cepat menghabiskan jumlah pemain lawan, bukan dengan gol sebagaimana sepak bola sungguhan.

Selain permainan sederhana dengan kertas hasil imajinasi leluhur kita, zaman dulu juga banyak tersedia permainan dengan kertas yang diproduksi secara masal contohnya ular tangga, monopoli, ludo dan orang-orangan. Bahkan permainan-permainan tersebut sudah banyak tersedia dalam versi game androidnya. Meskipun permainan tersebut bukan asli dari Indonesia namun permainan tersebut juga membuat pemainnya berimajinasi.

Selain imajinasi, permainan kertas membuat anak-anak belajar berinteraksi dengan teman-teman sebayanya, dari sini timbulah sebuah kepedulian anak terhadap temannya. Anak-anak yang pendiam dan sulit berkomunikasi diajak bermain bersama sehingga obrolan-obrolan khas anak mulai tercipta.

Maka di era digital ini, jangan jadikan anak-anak sebagai penerus bangsa melupakan benda bernama kertas. Kertas adalah media murah dan efisien yang bisa anak-anak gunakan. Melalui permainan kertas, anak-anak memiliki imajinasi tinggi hingga beberapa puluh tahun ke depan, anak-anak yg bermain kertas tersebut berhasil menciptakan inovasi baru bagi manusia. Tidak perlu merogoh kocek jutaan rupiah untuk membelikan permainan anak bernama gadget. Gadget boleh digunakan anak namun baiknya tetap dalam pengawasan orangtua.