4 Juli bukan lagi perayaan hari kemerdekaan AS saja, namun juga menjadi hari 'lahirnya' kembali kekuasaan Vladimir Vladimirovich Putin sebagai Presiden Republik Rusia. Tidak tanggung-tanggung, Putin masih berkuasa di Kremlin hingga 2036. Setelah 21 tahun Putin menjadi Perdana Menteri dan Presiden, kekuasaannya di negara Beruang Putih itu masih berlanjut selama 15 tahun lagi.

Kekuasaan Putin ini hanya bisa disandingkan dengan Presiden China Xi Jinping. Walau dinyatakan berlanjut 6 tahun lagi, masih kuatnya cengkeraman Jinping di China masih membuka kemungkinan kekuasaannya berlanjut. 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga masih berpotensi terpilih lagi hingga 2025. Dari ketiga penguasa negara besar itu, Putin tentu saja yang paling berpeluang menorehkan pengaruh kekuasaannya pada tatanan dunia lebih lama. 

Semua itu bermula dari hasil referendum 1 Juli 2020 yang lalu. Rakyat Rusia memutuskan memberikan kekuasaan kepada Putin sebagai Presiden di Rusia. Dukungan lebih dari 76 persen menandai soliditas dukungan politik dari rakyat Rusia kepadanya dalam mengatur negara.

Stabilitas Domestik

Referendum itu menunjukkan stabilitas kekuasaan horisontal Putin di masyarakat Rusia telah memastikan kontinuitas sistem politik domestik. Sementara itu, genggaman Putin atas kekuasaan pertahanan vertikal di Rusia telah menyediakan mekanisme jaminan untuk mewujudkan kemauan politiknya hingga 2036.

Menurut saya, kemenangan Putin dalam referendum itu sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ada dua peristiwa penting sebelum referendum ini yang sebenarnya memberi indikasi itu. Pertama adalah kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Putin secara berani menunjuk Walikota Moskow dan gubernur regional sebagai pelaksana utama penanggulangan pandemi Covid-19 di Rusia.

Peristiwa kedua adalah peringatan 75 tahun kemenangan Rusia (Uni Soviet pada saat itu) melalui parade militer. Melalui peringatan itu, Putin hendak memamerkan cengkeraman kekuasaannya di lembaga-lembaga militer-pertahanan dan intelijen negara. Walaupun masih menghadapi tingginya kasus positif Covid-19, Putin bersikukuh bahwa kekuatan militer bisa digunakan setiap saat untuk mendukung 'perang' melawan Covid-19.

Kesuksesan Putin dalam kedua peristiwa semakin memuluskan kekuasaan abadinya melalui referendum.

Dalam pengamatan saya, kenyataan politik domestik di Rusia menunjukkan tidak atau belum ada individu atau institusi yang mampu menjadi pesaing politik Putin hingga kini. Walaupun muncul protes masyarakat protes atas pemilihan walikota Moskow, kritik dari akademisi dan politisi, namun belum mampu memberikan pengaruh signifikan pada stabilitas kekuasaan Putin.

Melihat ke Timur

Yang juga menarik diperhatikan dengan kontinuitas kekuasaan Putin di Kremlin adalah bagaimana pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri Rusia?

Pada permulaan abad ke-21 Rusia secara efektif mengklaim kembali dirinya sebagai negara yang memiliki kekuatan besar. Ada beberapa faktor penting di balik klaim itu. Pertama, Rusia adalah negara yang mampu mengambil kebijakan luar negeri independen dan mempertahankan diri tanpa bantuan pihak luar. Kedua, Rusia selalu mencari keseimbangan dalam hubungan internasional yang cepat berubah.

Moskow tidak lagi berorientasi pada satu kekuatan tertentu, misalnya Eropa, AS atau China. Sebaliknya, Moskow telah mengembangkan keseimbangan hubungan dengan berbagai negara.

Salah satu kebijakan luar negari Rusia yang strategis, pada hemat saya, adalah kebijakan ‘Melihat ke Timur’. Bagi Putin, kebijakan ini memiliki arti dan status khusus. Putin menjadikan negara-negara di Timur sejajar dengan di Barat yang selama ini secara tradisional dominan.

Di satu sisi, meningkatnya minat Rusia ke Timur adalah konsekuensi dari kebangkitan Asia sebagai pusat global ekonomi dan politik dunia. Di sisi lain, Moskow mengakui kelemahan dan kerentanan posisi geopolitik dan geoekonomi di Timur negara itu.

Kedua hal itu mendorong Putin mengembangkan hubungan kemitraan dengan Beijing. Bahkan China mendorong Putin membangun hubungan strategis dengan India; dengan Jepang dan Korea Selatan sebagai pusat teknologi dan investasi; dengan negara-negara ASEAN sebagai pasar yang besar dan berkembang.

KTT Rusia dan ASEAN pada pertengahan Juni 2020 lalu menjadi forum strategis bagi peningkatan potensi kerjasama di masa depan. Rusia memperoleh momentum penting lewat inisiatif kerjasama mengenai vaksin Covid-19 di KTT itu. Padahal selama ini Rusia hanya bergantung pada Vietnam untuk akses ke ASEAN.

Tantangan 

Sejauh yang saya bisa lihat, Putin telah berhasil mencapai dua tujuan utama, yaitu menjaga persatuan Rusia dan mengembalikan statusnya sebagai kekuatan besar di arena global. Dua capaian itu menjadi modal dasar strategis bagi kesinambungan kekuasaan domestik Putin dan kebijakan luar negerinya. 

Aktivisme Rusia dalam hubungan internasional telah menempatkan Moskow pada tantangan berat. Sebagai kelanjutan dari upaya membangun keseimbangan geopolitik dan geoekonomi global, salah satu tantangan Putin adalah obsesi mengubah tatanan global yang ada.

Akibatnya, Rusia selalu merasa tertantang untuk menghilangkan hegemoni global AS. Posisi ini terlalu berbahaya bagi kepentingan Rusia. Alih-alih memperkuat posisi global Rusia, inisiatif mendukung musuh Washington semata-mata karena mereka menentang hegemoni global AS justru berpotensi menciptakan persoalan baru bagi kepentingan Rusia. Dukungan Rusia pada pihak-pihak yang berkonflik di Laut China Selatan, misalnya.

Dalam konteks ini, Putin perlu mempertimbangkan posisi Rusia dalam tatanan global pada saat ini, termasuk di masa setelah pandemi Covid-19. Persoalan besarnya adalah Rusia tetap selalu menjadi penyeimbang kekuatan global AS atau akan mencari posisi alternatif yang lebih mendukung partisipasi aktif dalam hubungan internasional pada saat ini. 

Saya yakin jawaban atas persoalan itu dan kontinuitas kekuasaan domestik Putin tidak akan banyak menimbulkan kejutan-kejutan baru dalam menampilkan posisi global Rusia.