Setelah membasuh wajahnya, dengan terburu-buru Joko berjalan menuju rekan kerjanya, si roda empat. Sambil berusaha mengingat apa saja yang wajib dikantongi, meraba-raba tiap jengkal dari saku celana jeans kusamnya. Ya, ingatannya sedikit berantakan, kesadarannya belum sepenuhnya pulih.

Tampaknya mimpi yang mendatangi tidur Joko cukup menarik, hingga dunia nyata pun rasanya ingin dicaci maki saja. Ingin saya ceritakan mimpinya, tapi saya khawatir ada pembaca yang masih di bawah umur. Heuheu.. 

"HP ada, kunci mobil ada, rokok... oh.. ada."

"Wahai rekan kerjaku, mari kita jemput uang kita," ujar Joko pada transportasi modern yang sudah dianggap bagai saudara kandung olehnya. Yap, kita hidup di dunia di mana uang adalah prioritas, silaturahim adalah bumbu, dan agama serta kalimat motivasi adalah obat agar tetap waras. 

Singkat cerita, satu kilometer perjalanan kemudian, Joko bagai menerima wahyu. Ia segera memutar haluan, kembali ke garis start.

Sebenarnya dia ragu jika dompetnya ketinggalan di rumah. Mungkin jatuh di pekarangan, atau jatuh di jalanan. Mengingat hampir seharian ini dia tidak memegang dompet. Juga pagi harinya dia cukup lama menghabiskan waktu di bengkel seorang teman, yang sudah dianggap saudara sendiri juga. Jadi langkah pertama untuk memastikan, ya ke rumah dulu. 

Kita semua setuju, atau mungkin beberapa punya pendapat lain, soal uang itu masalah nomor dua, yang utama itu ya kartu ATM sampai ke aneka kartu identitas, mulai dari kartu tanda penduduk, kartu keanggotaan komunitas rental sekabupaten, dan kartu tanda-tanda lainnya. 

Proses pembuatannya yang membosankan, ditambah dengan tingkah para pelayannya yang kejat, membuat orang yang sensitif seperti Joko berjanji pada diri sendiri agar tidak akan kembali untuk yang kedua kalinya ke sana. 

Para karyawan yang bertugas melayani, dengan sikap sedemikian rupa, mungkin lelah juga sebenarnya. Beruntung banyak akun Instagram yang rajin membagikan quote motivasi, juga ada mas kawin yang menuntut bayar, menjadi alasan kuat untuk terus jadi mesin pelayan rakyat yang banyak maunya. 

Di lain tempat, Tono, seorang buruh pabrik yang baru mengakhiri liburannya sedang menunggu datangnya jemputan. Yap, dia penumpangnya. Menunggu di teras rumahnya, sambil membayangkan alasan yang tepat mengapa si sopir terlambat. Begitulah kira-kira cara sebagian besar orang menenangkan dirinya.

Sama halnya ketika kamu sedang nongkrong sendirian di teras rumahmu, lalu tiba-tiba dikagetkan dengan bunyi yang tidak wajar. Langkah pertama yang akan kamu lakukan adalah membayangkan apa penyebabnya, memberi kepastian walau nyatanya belum pasti adanya, sangat manusiawi.

Tidak semudah itu. Joko yang belum juga datang bukan satu-satunya masalah. Pikirannya masih menari di tengah ladang dinamika kehidupan. Tanggung jawab dalam pekerjaan, aneka biaya hidup, sampai ke konflik antarrekan kerja, dan masih banyak lagi. 

Oh ya, jangan heran kenapa Tono lebih memilih rental mobil daripada bus atau kereta. Joko ini teman lama Tono, jadi ada nilai silaturahimnya juga. Ini juga cara manusiawi untuk tetap waras di tengah-tengah tuntutan-tuntutan yang menghiasi hidup Tono. 

Tuntutan lingkungan misalnya. Lingkungan kerja, lingkungan publik, lingkungan keluarga, semuanya secara tidak langsung memengaruhi kejiwaan Tono. Waktu yang sebagian besar dihabiskan di lingkungan kerja kadang membuat dia lupa kalau dia juga manusia. Maka lingkungan keluarga dan pergaulan ibarat oase, agar tetap waras di tengah-tengah gurun modern ini.

Semua memiliki caranya masing-masing untuk tetap waras, sebagai pelarian, atau tempat untuk menemukan kembali jati dirinya. Pranata modern ciptaan manusia sendiri tampaknya membuat manusia terasingkan di dunianya sendiri. Ironis, bukan? 

Sistem yang awalnya diperjuangkan demi membebaskan diri di masa lalu kini membunuh generasi penerusnya. 

Tapi tampaknya tak masalah. Walaupun hati Tono sedikit memberontak ketika menyadari kenyataan itu, siraman rohani di rumah peribadatan selalu menenangkan hatinya, agar terus bersyukur walau kenyataan itu pahit. Ya, itu juga salah satu cara agar tetap waras, sebuah narkoba yang legal atas nama Ilahi. 

Beberapa saat kemudian..... 

Tono dan Joko sedang bercengkerama di tengah perjalanan. Tawa dan kenangan masa lalu yang datang kembali sedikit menyuburkan ladang dinamika kehidupan yang gersang di kepala mereka. Humor adalah cara terbaik jika ingin membangun minat untuk terus mengobrol.

Obrolan mereka kemudian mengarah ke pelarian lainnya. Solusi alternatif untuk dompet tipis dan waktu luang yang sempit; judi. Menceritakan pengalaman terkait kegiatan semacam ini adalah langkah kedua setelah stok humor masing-masing makin menipis. 

Walaupun sejak kecil hal semacam ini sangat dijauhi, pengaruh isi dompet dan sekali lagi, pelarian, bagaikan mi instan di tengah kelaparan yang melanda. Norma adalah sesuatu yang sakral tentunya, hingga kenyataan bahwa norma itu hanya omong kosong tak berani dilontarkan secara langsung.

Tapi tidak ada yang salah. Nyatanya norma tak mampu menopang kehidupan Tono dan Joko. Biarlah norma itu tetap pada tempatnya, sebagai hiasan yang abadi. Lagi pula, yang dilakukan mereka berdua hanya bentuk kecil dari penyimpangan sosial di lingkungan mereka. 

Di kampung Tono ada Dudung yang cukup terkenal. Dia dulunya bisa dibilang wakil rakyat setempat. Sempat tersandung kasus penyalahgunaan narkotika, tapi beberapa bulan kemudian bebas lagi. 

Sementara Fidela, tetangganya, menanam ganja demi mengobati istrinya yang sakit parah masih dipenjara hingga kini. Oh ya, istrinya sudah meninggal sekarang. 

Ekonomi yang buruk juga memaksa Indri untuk mengambil risiko. Menjual jasanya pada penyalur tenaga kerja ilegal ke negeri Jiran. Tidak seperti yang diharapkan, ia malah menjadi pemuas nafsu pria hidung belang. Ia berhasil kabur berkat bantuan seseorang, yang ternyata hanya menitipkan dia pada tempat penitipan "barang antik".

Singkat cerita, ia berhasil mengumpulkan uang untuk pulang ke kampungnya. Namun melihat keluarganya yang melarat, ia terpaksa kembali menjadi barang antik. Sakit hati dan kantong kering memang kombinasi yang tepat untuk terjun ke dunia gelap. 

Suasananya tidak seramai sebelumnya. Kehabisan topik mungkin, atau bisa juga kehabisan tenaga, mengingat beban pikiran itu menguras cukup banyak tenaga, apalagi ditambah dengan usaha untuk menahan diri. Menahan diri untuk tidak membicarakan betapa menyebalkan hidup ini. 

Joko yang sedang fokus ke jalanan pun tampaknya merasakan hal yang sama. Terjebak dalam realitas yang didambakannya ketika masih dalam angan-angan. Terlebih lagi jika realitas tersebut sudah membuahkan bayi. Suka atau tidak, realitas tetaplah realitas. 

Akhir cerita, hidup terus berjalan dan tidak ada yang menarik. Lagi pula, ini bukan sinetron dengan akhir bahagia. Maaf, untuk 4 menit yang terbuang sia-sia, lain kali belajarlah memanfaatkan waktu. Terima kasih.