Selain dikenal sebagai makhluk sosial, manusia juga dikenal sebagai makhluk tertawa, atau biasa disebut Homo Ridens. Tawa terjadi karena ada hal yang lucu atau sebuah candaan. Selain hiburan, bercanda juga merupakan salah satu bentuk komunikasi manusia membangun keakraban.

Tak jarang di lorong-lorong kamar santri baru, saya sering mendengar teman-teman santri berkumpul dan bercanda sampai cekikikan begitu kerasnya. Bahkan, kadang-kadang mereka tidak tidur hanya untuk duduk bercanda dan cekikikan tidak jelas. Meskipun berkali-kali diingatkan, tawa itu hanya akan hilang sejenak, dan akan kembali besoknya lagi.

Padahal, mereka baru kenal dan datang dari berbagai daerah paginya, tapi malam hari sudah bisa begitu akrab dan lupa akan tangisnya saat ditinggal orang tuanya.

Di tempat umum pun tak jarang kita akan selalu menemukan suara gelak tawa candaan bapak-bapak saat ronda malam, ibu-ibu arisan, tongkrongan anak muda, anak-anak saat bermain atau perkumpulan lainnya.

Bahkan, saya memiliki teman dua emak-emak yang hobinya guyonan di medsos. Tak perlulah saya menyebutkan namanya. Nanti juga mereka akan membaca tulisan saya ini. Hahahaha

Guyonan mereka pun amat receh. Mulai dari guyonan masalah hobi makan yang aneh, sampai guyonan yang begitu intim hingga kadang saya pun tak paham apa yang mereka tertawakan. Mereka begitu akrab, padahal sekali pun mereka belum pernah bertemu. Mereka bisa saling kenal dan begitu akrab hanya karena sama-sama mengikuti komunitas menulis di medsos.

Begitulah sebuah canda tawa atau guyonan membangun keakraban semua kalangan. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua. Tak hanya antarwarga, guyonan juga bisa menghancurkan sekat antara rakyat dan pemimpin.

Gus Dur adalah contoh nyata, dengan senjata tawanya bisa menghancurkan sekat antara rakyat dan pemerintah. Tak hanya itu, bahkan beliau bisa membangun keakraban antarpemimpin negara.

Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, Raja Fahd Arab Saudi, Presiden Kuba Fidel Castro bisa tertawa berderai karena mendengar lelucon dari Gus Dur. Hanya dengan sebuah candaan, Gus Dur bisa menghancurkan ketegangan dan membuat pemimpin-pemimpin dunia itu bisa bersantai di tempat duduknya sampai lupa waktu.

Selain bisa membangun keakraban, secara medis bercanda dan tertawa juga menyehatkan, karena mampu membuat bahagia, senang, terbebas dari beban pikiran sehingga dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Namun, makin hari bercanda dan tertawa menjadi hal yang tabu. Tawa dianggap sebuah ekspresi penghinaan terhadap sesuatu. Mulai dari kasus Pak Said Aqil Siraj yang bercanda masalah jenggot, Pak Ismail yang mengutip guyonan Gus Dur, sampai guyonan Tengku Zulkarnaen yang dianggap rasis adalah contoh kasus-kasus hilangnya humor dalam bermasyarakat dan bernegara.

Sedikit-sedikit orang bercanda dan berkomentar di medsos dikenakan hukum pidana atas dasar pencemaran nama baik dalam UU ITE. Kurangnya kebijakan berpikir dengan tenang membuat orang mudah tersinggung dan terburu-buru mengambil keputusan membawa ke ranah hukum. Seolah-olah, penyelesaian masalah hanya dengan hukum, hukum, dan hukum.

Saya jadi teringat saat tahun pertama saya bersekolah di sebuah pesantren di Bantul. Meskipun saya terbilang cukup fasih berbahasa Jawa, di kampung halaman saya di Lampung, sekali pun saya belum pernah melihat aksara Jawa. Maklum, karena saya adalah Pujakesuma, Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Ibu dan bapak saya lahir dan besar di Jawa, tapi saya sendiri lahir di Sumatra.

Saat melihat teman saya menulis aksara Jawa, saya tertawa karena bentuknya yang begitu aneh bagi saya yang belum pernah melihatnya. Waktu itu saya berkelakar, bahwa aksara yang ia tulis tak ubahnya seperti cacing kepanasan. 

Kemudian saya menulis dan menunjukkan bahwa aksara Lampung lebih bagus dan lebih keren dari aksara Jawa. Namun ternyata sama saja, teman saya malah tertawa terbahak-bahak melihat tulisan saya dan mengatakan bahwa aksara yang saya tulis tak ubahnya seperti ceker ayam.

Dari situ kami bisa begitu akrab dan belajar mengenal budaya masing-masing daerah. Begitulah sebuah gurauan. Terkadang dalam gurauan satu sama lain saling mengejek, namun tak ada benci dan tak ada dendam di hati kami. Karena kami semua tahu, semua hanya gurauan; tak ada niat merendahkan.

Kata dalang edan Sujiwo Tejo, saat menanggapi kasus gurauan Tengku Zulkarnaen begini, "Jika sedikit-sedikit lapor polisi, hubungan antarsuku jadi tanpa bercanda dan ledek-ledekan. Akibatnya, kehidupan jadi garing tanpa tawa. Hidup tanpa tawa jadi hampa!"

Memang benar. Kelak, jika manusia begitu serius dengan sebuah candaan, sepuluh tahun yang akan datang, bukan tidak menutup kemungkinan manusia akan kehilangan tawa mereka. Mereka akan lupa bagaimana cara tertawa.

Dan  bercanda adalah sebuah hal yang menakutkan karena harus berurusan dengan hukum. Tak ada lagi emak-emak bergembira ria di medsos. Tak akan ada lagi  keakraban antara sesama manusia. Dan yang ada hanyalah perkara serius. Hingga hidup menjadi begitu kaku dan hampa.

Padahal, dalam kitab suci Alquran,  Allah SWT mengumpamakan kehidupan dunia, tak lain dan tak bukan adalah permainan dan senda gurau saja. Lantas kenapa serius amat masalah candaan?

Untuk itu, mari kita rawat sikap humoris kita. Karena bercanda adalah hal yang paling sederhana dan paling murah yang bisa membuat kita bahagia.