Harta itu banyak macamnya, salah satunya adalah uang. Uang juga banyak godaannya, salah satunya bisa membuat seseorang jadi kehilangan kesadaran sehingga melupakan dirinya bahwa dia adalah makhluk yang berakal. Akibatnya, perilaku menyimpang tak sungkan-sungkan ia lakukan.

Penampakan yang seperti itu nampak sangat jelas pada diri para koruptor (pelaku korupsi). Betapa mereka benar-benar rela menjual rasionalitas mereka dengan uang, sesuatu yang sama sekali tidak pantas untuk mereka pilih lalu mengabaikan apa yang diinginkan akal sehat mereka.

Mereka terlalu terobsesi dengan uang yang kemudian menjadikan mereka jadi kehilangan kesadaran. Mereka terlalu memprioritaskan uang yang pada akhirnya mengantarkan mereka ke derajat yang paling rendah dari binatang.

Tentu saja saya tidak mengada-ada. Bahwa memang tidak sedikit dari para pejabat kita yang berlaku seperti demikian. Sebagaimana mba Nana (panggilan akrab bagi Najwa Shihab) yang pastinya juga tidak asal bicara saat mengatakan "Pejabat publik tutup mata, uang haram tak lagi berdosa. Sekeras itu hukum dibuat, sepandai itu pula praktek muslihat."

Kasus korupsi di negara tercinta kita ini seakan sudah menjadi agenda tahunan tersendiri. Hampir setiap tahunnya kita bisa mendengar dan menyaksikan, entah itu di layar kaca televisi ataupun melalui telepon pintar kita, banyak media yang disibukkan dengan kasus miris yang seperti itu, yang hingga saat ini belum ditemukan juga penanganan efektifnya.

Para koruptor itu seakan memiliki segudang strategi jitu dalam setiap aksi-aksi yang mereka lancarkan. Mereka selalu saja berhasil untuk meraih tujuan "mulia" mereka sekalipun pada akhirnya tertangkap basah juga oleh pihak yang berwajib.

Padahal KPK, sebagai lembaga pemberantas korupsi, sudah berulang-ulang kali menegaskan agar tidak ada lagi calon-calon koruptor lainnya. Tapi apa mau dikata, demikianlah manusia yang acap kali rela menempuh segala cara demi meraih apapun yang diinginkan oleh nafsunya. 

Mereka bahkan tidak peduli dengan keadaan yang sedang terjadi. Selama ada kesempatan dan ada sesuatu yang bisa dikorupsi dengan segera mereka akan melakukannya. Mereka tak peduli seperih bagaimanpun hati rakyat, bahkan dalam kondisi sepelik apapun. 

Seperti yang belum lama ini dicontohkan oleh kedua menteri terhormat kita. Yakni tersangka EP sebagai menteri kelautan dan perikanan dan JB yang menjabat sebagai menteri sosial juga menjadi tersangka. Kedua menteri itu sama-sama dicap KPK sebagai pelaku tindak pidana korupsi. 

Tersangka EP ditangkap KPK setelah kedapatan berbuat curang terkait ekspor benih telur lobster. Sementara JB lebih miris lagi, ia diciduk KPK sebagai tersangka kasus korupsi dana bansos (bantuan sosial) Corona. Bantuan yang seharusnya jatuh ke tangan rakyat itu justru malah dimakan sendiri olehnya. Benar-benar sangat rakus!

Di saat rakyat banyak yang sedang dalam keadaan terhimpit masalah ekonomi akibat pandemi Corona yang hingga saat ini masih sangat ganas-ganasnya, mereka justru malah mengambil kesempatan untuk bersenang-senang ria. Lebih tepatnya, mereka tertawa di atas penderitaan rakyat.

Mereka serupa hewan buas yang selalu siap untuk menerkam segala hal yang bisa memuaskan keinginan nafsunya. Bagi mereka uang dan kekuasaan adalah segalanya. Bahkan mereka menganggap uang merupakan sumber dari kebahagiaan.

Mereka tentu saja menyadari bahwa tindakan korupsi, sebagaimana yang mereka perbuat itu melanggar hukum dan HAM, juga pastinya mereka bisa merasakan bahwa akal mereka sama sekali tidak pernah menghendaki untuk melakukan perbuatan bejat seperti korupsi. Tapi, apa boleh buat, demikianlah jika uang sudah berkuasa maka di saat itu pula lah kebenaran akan kehilangan maknanya.

"Kebenaran dan kepastian mengapung, di antara uang dan kuasa yang mengepung." Najwa Shihab

Maka, yang sebenarnya dibutuhkan para koruptor itu tiada lain selain pengajaran dan hikmah. Sebagaimana kebijaksanaan disimbolkan dengan cahaya, maka sungguh di dalam diri mereka tidak ada sedikitpun cahaya yang hadir.

Jika apa yang disebut dengan terpelajar kita hanya maknai sebagai jabatan yang tinggi dan dengan gelar yang berderet, maka sungguh mereka lah orangnya. Sebab kurang mewah apa lagi gelar dan jabatan yang mereka miliki. Semuanya sudah ada pada diri mereka.

Namun, ditilik dari apa yang mereka lakukan justru dengan sendirinya membuktikan bahwa jabatan dan sederet gelar yang mereka punya ternyata tidak ada apa-apanya. Alih-alih membuat mereka jadi manusia dalam makna yang sebenarnya, justru mereka malah lebih layak disejajarkan dengan binatang.

Hikmah itu datang dari negeri nun jauh di sana, tempat di mana seorang pemikir terkemuka dilahirkan. Pemikir itu bernama Plato yang lahir di Athena, Yunani sekitar tahun 427 SM.

Plato selain dikenal sebagai seorang matematikawan, ia juga merupakan sebagai seorang filsuf besar. Dan, sebagaimana seorang filsuf, pemikiran-pemikiran yang mencerahkan akan selamanya memancar melalui kepribadiannya yang bijak.

Dan salah satu buah pemikirannya yang hingga saat ini masih tetap relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah teorinya tentang dunia bawah dan dunia atas

Dunia bawah menurut Plato adalah dunia yang selalu berubah, jamak, serta tidak sempurna. Dunia yang dimaksud Plato itu adalah dunia yang saat ini kita tempati. Dunia yang di dalamnya dipenuhi dengan kekurangan-kekurangan.

Sementara dunia atas adalah dunia yang bagi Plato tempat di mana segala kebaikan hadir. Dunia yang tidak mengalami perubahan, sempurna dan kekal. Sebuah tempat yang ia sebut dengan dunia ide. 

Dan untuk mencapai dunia ide, kata Plato, seseorang hanya bisa melakukannya dengan cara berbuat kebajikan yang dibantu oleh pengetahuan yang dimilikinya. 

Melalui teorinya tersebut Plato sejatinya ingin menegaskan kepada kita bahwa dunia ini (dunia bawah) beserta dengan segala isinya tidak lebih dari sekadar tipuan belaka. Semua hal yang dianggap indah dan mewah di dunia ini, seperti rumah besar, mobil mahal, motor mewah, uang yang banyak, dan sebagainya hanyalah palsu semata.

Mengutip pernyataan yang pernah disampaikan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra yang menyebutkan bahwa dunia ini tidak akan bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan apapun bagi mereka yang mengejarnya. Sebagaimana air laut yang diminum sebanyak apapun tetap saja tidak akan mampu menghilangkan rasa dahaga.

Sayangnya, hal yang demikianlah yang tidak diketahui para pejabat kita yang gemar memakan uang rakyat. Andai saja mereka memiliki kesadaran sebagaimana yang dirasakan Plato, yang menyadari bahwa dunia ini (dunia bawah) merupakan tempat yang penuh dengan kekurangan, barangkali mereka akan berpikir berkali-kali lipat terlebih dahulu sebelum melancarkan aksi "busuk" mereka.

Barangkali mereka tidak akan lancang lagi mencabik-cabik hati rakyat,mereka akan lebih mengutamakan kepentingan rakyat, rasa empati mereka juga akan semakin besar terhadap rakyat.

Mereka juga tidak akan tergila-gila lagi kepada uang dan jabatan. Karena keduanya di mata mereka tidak lebih dari sekadar tipuan belaka, sebagaimana yang dianggap Plato. 

Mereka bahkan akan semakin banyak berbuat kebajikan. Mereka akan lebih senang bergaul dengan rakyat. Hati mereka akan ikut perih di saat ada rakyat yang kelaparan. Dan jika ada bencana yang terjadi di suatu tempat, maka mereka akan langsung mendatanginya. Bahkan separuh dari harta mereka diberikan kepada para korban bencana.

Semuanya mereka lakukan karena meyakini keberadaan dunia ide (dunia yang dipenuhi kebaikan) yang hanya bisa dicapai dengan pengetahuan dan kebajikan.