Saya ingin mengatakan satu hal yang amat penting tentang pandemi covid-19 yang akhir-akhir ini sudah mencapai klimaksnya untuk tidak disebut sebagai penyakit yang ‘biasa biasa saja’.

Katakanlah, satu hal yang saya maksud tentang pandemi itu adalah bahwa ia bukanlah sekadar penyakit yang hanya dapat disembuhkan oleh sebuah pil, tablet atau sirup yang sekali tenggak.

Ia adalah penyakit sekaligus sebagai musibah berkepanjangan yang tak kenal waktu, hanya mengenali kekebalan atau imun dalam tubuh manusia. Saya mengatakan hal ini dengan istilah extraordinary calamity yang dapat mengubah suatu kehidupan yang berbeda.

Beberapa waktu ke belakang, saya menikmati esai yang ditulis oleh Arundhati Roy (seorang esais asal India) dengan judul “Pandemi Adalah Sebuah Pintu Gerbang”.

Tulisan itu memang saya baca dalam buku yang diterbitkan oleh media ‘Antinomi’ (sebuah media online yang memuat tulisan-tulisan sains, filsafat dan agama). Buku itu berjudul “Wabah Sains dan Politik”, buku yang berisi kumpulan esai dari tokoh pemikir dan penulis ternama.

Arundhati Roy mengawali tulisan itu dengan melontarkan berbagai pertanyaan yang begitu filosofis. Pertanyaan itu cenderung mewakili orang orang yang skeptis dan penuh kecurigaan terhadap datangnya virus ini, namun juga seolah-olah penulis menantang siapa yang dapat menjawab pertanyaan itu dengan valid.

Seperti misalnya: “Siapa yang bisa melihat apa pun gagang pintu, sebuah kardus, sekeranjang sayur tanpa membayangkannya dipenuhi oleh tumpukan sesuatu yang tak terlihat, tak mati, juga tak hidup, yang memiliki alat pengisap yang menunggu untuk melekatkan dirinya pada paru paru kita?”

“Ilmuwan atau dokter mana yang tidak berdoa memohon sebuah keajaiban secara diam diam? Kiai atau pendeta mana yang setidaknya secara diam diam tidak patuh pada sains?”

Pandemi yang sedang dibicarakan adalah virus corona yang bukan hanya mendobrak ruang ruang kesehatan (sains), akan tetapi virus tersebut bebas melakukan door to doo ke ruang ruang agama, ekonomi, politik dan sebagainya.

Mau tidak mau, virus memaksa kita untuk bersikeras mengupayakan semaksimal mungkin kondisi yang merosot jauh menjadi stabil, kondisi yang tak diinginkan oleh semua orang menjadi kondisi yang tak penuh dengan ketegangan dan kecemasan.

Masalahnya, virus tersebut datang secara tiba-tiba tanpa ada tanda yang nyata dengan tingkat bahaya yang begitu tinggi.

Tanpa adanya persiapan, masyarakat termasuk juga pemerintah menyiasati bagaimana caranya pandemi ini segera mereda. Misalnya, dalam esai itu bahwa Perdana Menteri India yakni Narendra Mondi secara tiba-tiba mengumumkan kebijakan pemerintah tentang “karantina wilayah” (lockdown) melalui siaran televisi India.

Padahal sebelumnya, hiruk pikuk negara itu sedang membahas mengenai demo ratusan warga yang memprotes Undang Undang Kewarganegaraan Anti Muslim yang sangat diskriminatif yang baru saja disahkan di parlemen.

Selain daripada itu, negara mereka sedang hangat-hangatnya membahas konflik politik mengenai upaya menjatuhkan pemerintahan Partai Kongres Nasional India untuk menerapkan pemerintahan dari Partai Bharatiya Janata. Konflik tersebut dipicu atas kekalahan dalam pemilihan Majelis Legislatif.

Masyarakat tentu saja belum siap menghadapi tantangan ini, kedatangan virus yang membuat semua panik, termasuk pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya yang menghasilkan kecemasan.

Karena sesuatu yang cemas akan menghasilkan kecemasan, kebijakan yang dikeluarkan dalam keadaan darurat hasilnya akan jauh dari kata sempurna.

Bukan hanya di India, di Indonesia pun sama halnya. Kebijakan new normal misalnya. Kebijakan ini tampak terburu-buru karena tujuannya untuk melanggengkan dunia ekonomi dengan sosial masyarakat, juga melanggengkan antara sains, agama dan politik yang kurang harmonis karena pandemi.

Pidato Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo (Jokowi), pada rapat kabinet paripurna di Istana pada Juni lalu mengundang sorotan publik. Yang disoroti oleh publik adalah ekspresi Jokowi ketika memarahi menteri-menterinya yang tak becus dalam menangani permasalahan pandemi ini.

Semoga ini bukan gimmick melainkan keseriusan pemerintah untuk benar-benar mencari solusi atas virus yang hari demi hari makin meresahkan semua masyarakat.

Kemarahan Jokowi terutama ditujukan kepada Menteri kesehatan, sosial dan ekonomi dalam rapat tersebut. Tentu kemarahan ini berasal dari tidak becus dan leha-lehanya pemerintah dalam bertugas khususnya menangani pandemi.

Di bidang kesehatan misalnya, anggaran yang dikeluarkan sekitar Rp75 triliun untuk mengatasi situasi yang luar biasa karena pandemi, namun yang dikeluarkan baru 1,53 persen.

Di bidang sosial, bantuan sosial (bansos) untuk rakyat terdampak covid-19 masih terbilang normal untuk disalurkan. Stimulus ekonomi tentunya pada bidang ekonomi. Ini untuk usaha kecil, menengah dan besar tidak berjalan.

Sebab fakta yang terjadi di lapangan mengenai fokus ekonomi yang tidak berjalan maka membuat Jokowi mengambil langkah untuk mengatakan (dengan ekspresi kejengkelannya) “Jangan biarkan mereka mati, baru kita bantu. Tidak ada artinya!”

Hal ini adalah salah satu upaya untuk melanggengkan politik dengan sosial masyarakat atas resesi ekonomi yang dialami karena pandemi.

Tentu jika pemerintah tidak becus dalam menangani pandemi ini, oleh masyarakat akan dicap sebagai pemerintah yang buruk. Pastinya eksistensi partai politik yang membawa orang per orang sampai mereka menjabat di dalam pemerintah sekarang akan dicap jelek juga.

Selain itu, dunia sains pun tak kalah penting untuk dibicarakan. Sains memang akhir-akhir ini menjadi garda terdepan untuk menumpas pandemi yang membuat semuanya jengkel, dan bertanya-tanya “kapan berakhirnya pandemi?” dan “kapan ditemukannya vaksin covid-19 ini?”.

Semua mengharapkan ini, begitu juga dengan agama. Tentang sains dan agama untuk melawan pandemi ini sedang hangat-hangatnya didiskusikan khususnya dari kalangan cendekiawan.

Media sosial penuh dengan percakapan saling balas-membalas esai antara Goenawan Muhamad, AS Laksana, Gus Ulil Abshar, Taufiqurrahman, Budi Hardiman dan lain lain mengenai siapa yang lebih berhak dan lebih mampu untuk menangani pandemi ini. Apakah sains, agama atau filsafat?

Diskusi ini memang berawal dari tulisan AS Laksana yang memberi sebuah catatan untuk Goenawan Muhamad atas permasalahannya dalam seminar yang diadakan oleh Ikatan Dokter Indonesia dengan tema “Berkhidmat pada Sains” Goenawan Muhamad salah satu pembicara pada seminar itu tampaknya tidak setuju atas tema yang tercantum.

Ia lebih setuju berkhidmat pada Hegel dan Heidegger dan para filsuf romantik Jerman lainnya. Tampaknya tulisan dari AS Laksana itu dibalas oleh Goenawan Muhamad, sampai dengan tokoh-tokoh lain ikut serta dalam menanggapi tulisan tersebut.

Diskusi tersebut melibatkan tokoh tokoh sains, agama dan filsafat ternama. Salah satunya tokoh sains modern, Richard Dawkins.

Di saat pandemi ini, kita harus tunduk dan patuh serta percaya pada sains dan bukan agama. Dawkins membuat suatu gerakan baru yang bernama new atheism. Hal tersebut banyak faktor yang membuat Dawkins melakukan terobosan seperti itu. Tentu saja dari gerakan itu didiskusikan juga oleh tokoh intelektual Indonesia.  

Saya katakan sekali lagi bahwa kebijakan new normal hanya untuk melanggengkan yang sudah disebutkan di atas. Melalui pembuktian riil di lapangan dengan syarat mematuhi protokol kesehatan.

Normal baru sebenarnya adalah aktivitas masa lalu yang hanya konotasinya berubah dalam kondisi yang luar biasa ini.

Pandemi membuat semua tampak berbeda. Satu terobosan baru untuk mengubah sedikitnya tentang peradaban. Pandemi dapat menjadi portal untuk membuka portal portal lain menuju suatu dunia yang baru: Menuju dunia yang sungguh berbeda.

Pertanyaannya adalah, “apakah kita siap menyambutnya? Menyambut dunia baru, menyambut normal baru paska pasca-pandemi?”