Staf Pengajar
2 bulan lalu · 284 view · 3 min baca · Media 53955_93648.jpg
Blood Vein Texture, Art by Cassi Josh.

Dungu Garis Keras

Berlomba-lomba dalam menyebarkan berita bohong adalah salah satu ciri penyakit fanatisme dalam berdemokrasi.

Suatu doktrin yang terus digencarkan di media sosial bahwa yang paling banyak suara kebenciannya di media sosial maka dialah yang harus memenangkan demokrasi. Fanatik dan tak terbuka pada kenyataan itu adalah salah satu biang dari ricuhnya kegaduhan di negeri ini. 

Kita tak bisa lagi tenggelam dalam kedengkian, iri hati, serta merasa susah melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain. Karena tak akan ada gunanya bila hidup dipenuhi kebencian, sementara waktu berbuat kebaikan tiada. Semakin kita merasa memendam kebencian maka akan semakin susah hidup yang akan kita jalani ke depannya.

Pada masa yang tengah kita hadapi saat ini, orang-orang lebih memilih untuk fokus memperbaiki diri sendiri daripada sibuk membicarakan keburukan orang lain.

Lakukanlah apa yang bisa dikerjakan tanpa harus memperbanyak masalah adalah prinsip hidup yang harus dilakukan. Kebiasaan suka menggosip adalah hal yang harus dihindari, yaitu suatu penyakit yang entah kenapa harus dan terus ada di negeri ini.

Hoaks tidak bisa dibiarkan saja karena akan banyak menguras waktu. Dunia ini begitu luas, dan begitu banyak hal yang harus kita kerjakan sebagai manusia untuk menjadi lebih manusiawi. 

Kita tak punya waktu untuk berselancar sesuka hati di media sosial hingga berjam-jam sibuk perang kebencian bagaimana agar menjadi viral. Sosial media janganlah dijadikan sebagai Tuhan di mana kita lebih banyak menghabiskan waktu main gadget sambil ngecas padahal pikiran dan jiwa kita butuh pengetahuan berbasis alam. 

Alam ini begitu indah dan besar potensi yang dimiliki, kenapa tak harus menjadi bagian dari aktivis lingkungan daripada cyber kebencian? Merasa paling benar tanpa pernah introspeksi adalah kesalahan dalam bersikap.

Filsuf Yunani kuno Epictetus mengatakan "Menyalahkan orang lain adalah pertanda kurangnya pengajaran, menyalahkan diri sendiri pertanda pengajaran telah dimulai, tidak menyalahkan diri sendiri maupun orang lain pertanda bahwa pengajaran telah selesai."


Media sosial adalah tempat dimana kita berbagi pengetahuan, dan media sosial adalah tempat dimana kita berbagi pemikiran serta gagasan untuk menjalin tali silaturahmi yang baik. 

Media sosial jangan dijadikan sebagai pabrik kebencian, dimana segala macam fitnah dan prasangka buruk selalu salah ditempatkan ke media sosial. 

Hendaknya lah kita bijak dalam bermedsos menanggapi media sosial ini agar tidak mudah terpengaruh pada hoax yang begitu cepatnya viral.

Satu kali kita terjebak pada hoax dan menganggap hoax adalah hiburan maka bersiaplah UU ITE menanti. Jangan menganggap bahwa menulis ujaran Kebencian adalah kesenangan, karena masih ada banyak juga orang yang merasa senang membagikan berita bohong yang padahal ia tahu bohong. 

Penyakit senang untuk berada pada kedunguan tersebutlah yang harus ditinggalkan, kita adalah kaum terpelajar yang tanpa harus dikasi tahu mana yang baik dan buruk sudah ngerti karena sudah ada kesadaran di dalam diri masing-masing bahwa hoax serta ujaran kebencian sangat berbahaya, maka janganlah biarkan diri berada pada kedunguan garis keras yaitu sibuk menunjuk kebencian di media sosial.

Mengutip pemikiran Novian Widiadharma dalam tulisannya mengenai Believe VS Knowledge, ia mengatakan bahwa sumber dari maraknya hoax ada pada perbedaan mendasar antara Kepercayaaan dan Pengetahuan. 

Kepercayaaan bersifat subjektif, sejauh subjek percaya pada sesuatu hal, ia merupakan suatu kepercayaan. Benar atau salahnya suatu kepercayaan tidak membatalkan statusnya sebagai kepercayaan.

Sementara pengetahuan adalah suatu kepercayaan dengan syarat tertentu. Syarat pengetahuan adalah bahwa ia harus benar. Jadi pengetahuan adalah suatu bentuk kepercayaan yang benar. 

Namun ini saja belum cukup, ia juga harus dapat dijustifikasikan, mengapa sesuatu itu benar. Kalau tidak, ia hanya baru merupakan kepercayaan yang benar saja, belum merupakan pengetahuan.

Ini merupakan definisi klasik mengenai pengetahuan. Jadi "tahu" itu lebih dari sekedar "percaya". Sekarang kita berada di masa ketika informasi demikian berlimpah. Karena berlimpah ini, kita jarang memproses lebih lanjut dan berhenti pada posisi "percaya" atau "tidak percaya" saja. 

Kita berhenti pada beliefs (kepercayaan) bukannya berusaha melangkah lanjut ke knowledge (pengetahuan) apalagi sampai wisdom (kebijaksanaan).


Masyarakat kita saat ini butuh pengetahuan agar tidak terjebak pada dungunisasi yaitu asal ngibul tanpa ada makna yang jelas, sehingga yang terjadi adalah bahwa tanpa adanya basis pertahanan berupa kebijaksanaan dalam bermedsos maka seseorang mudah terjerumus pada hoax dan ujaran kebencian. 

Maraknya ulama palsu serta beragam politisi medsos abal-abal menjadi penyakit dan melangkit kepada emak-emak yang ada di daerah-daerah.

Maka daripada itu dibutuhkan suatu ilmu yang harus diterapkan kepada masyarakat sebagai solusi agar timbulnya kesadaran untuk memberantas hoax, dan ilmu itu adalah filsafat. 

Apa itu filsafat? Kalau kita rangkum secara sederhana filsafat adalah merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan atau kearifan. 

Kearifan merupakan buah pikiran yang dihasilkan filsafat dari usaha mencari saling hubungan antara pengetahuan-pengetahuan, dan menemukan implikasinya, baik yang terpusat maupun yang tersirat. 

Filsafat berusaha merangkum dan membuat garis besar dari masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang pelik dari pengalaman umat manusia. Dengan kata lain, filsafat sampai kepada sinopsis (merangkum) tentang pokok yang di telaahnya.

Artikel Terkait