Awal abad ke-20, awan gelap kolonialisme masih menyelubungi Asia. Bangsa pendatang yang tiba, menebarkan atmosfer penaklukan demi kepentingannya sendiri. Ada yang ingin meluaskan wilayah kekuasaan, ada yang ingin melestarikannya dengan terus mengisap keuntungan di tanah jajahan.

Akibatnya, seperti kata Sigmund Freud, api pemberontakan terpijar dari nurani kemanusiaan yang direpresif. Untungnya, letupan pemberontakan menjadi titik cahaya penunjuk arah dalam pekatnya gelap malam. Asia sedang bersiap menuju Sang Fajar.

Di Asia Timur, Sang Fajar disambut oleh kekuatan militer. Tahun 1905, armada Jepang berhasil membungkam Rusia. Peristiwa itu lantas membuka mata para penjajah Barat yang saat itu tengah menguasai dunia. Letupan pemberontakan mencapai klimaks, kala Jepang memborbardir Pearl Harbor 7 Desember 1941.

Di Asia Selatan, India menyambut Sang Fajar dengan caranya sendiri. Lewat gerakan aktivisnya, Mahatma Gandhi menyatukan rakyat India. Spiritualitas dipilih oleh Gandhi sebagai jalan menyatukan rakyat agar lepas dari jeratan Inggris. Kesederhanaan menjadi senjata bagi Gandhi untuk mengawal India merengkuh kemerdekaan.

Di tanah air, Sang Fajar pun disambut dengan caranya sendiri. Setelah satu abad sebelumnya, perjuangan menyongsong fajar kemerdekaan ditempuh lewat pertempuran lokal dan fisik. Memasuki abad ke-20, trend itu berubah. Perjuangan dinamika intelektualitas dan politik yang holistik mengambil alih panggung sejarah. Aktor utama kini diperankan oleh pemuda sebagai motor gerakan. Di atas panggung sejarah kemerdekaan itu, para pemuda bersumpah:

Bertumpah darah satu, tanah Indonesia
Berbangsa satu, bangsa Indonesia
Berbahasa satu, bahasa Indonesia

Saat tanah air tengah porak-poranda dan terpecah belah, gejolak pemuda membuka arus baru untuk lahirnya sebuah identitas. Sebuah identitas yang pada akhirnya menjadi awal perekat keberagaman. Identitas yang menjadi cahaya pembimbing menuju persatuan. Identitas yang diimpikan pejuang-pejuang abad sebelumnya. Ya, tanpa pemuda, identitas dan persatuan, Indonesia merdeka adalah hal mustahil.

Sumpah Pemuda

Sumpah pemuda adalah sebuah prototipe. Ia adalah sel pertama yang berperan besar menciptakan organisasi besar bernama NKRI kita hari ini. Sebuah kebanggaan kolektif, bahwa tanah air memiliki sebuah ‘naskah sejarah’ seperti Sumpah Pemuda. Jiwa asli dan otentik pemuda tanah air terpotret dalam peristiwa pada 28 Oktober 1928 itu.

Mengapa asli dan otentik?. Ada pepatah mengatakan bahwa kekuatan manusia paling hakiki muncul pada saat terjepit. Kala itu, Indonesia lumpuh di segala bidang baik ekonomi, budaya dan politik. Bahkan, identitas pun kita tak punya.

Makin pahit lagi, ketika kita masih diduduki oleh para penjajah. Kita masih hampa dan melayang-layang di semesta peradaban. Situasi itulah yang dihadapi para anak muda kala itu. Uniknya, dalam kegelapan dan kehampaan itu pijaran-pijaran cahaya justru meletup dan benderang.

Ki Hajar Dewantara, dr. Sutomo, dr. Wahidin Sudirohusodo dkk. saat itu paham betul bahwa pemuda dan kebudayaan adalah pintu pertama menuju cahaya pembebasan. Kebudayaan itu dibangun di atas basis pendidikan. Tahun 1908, didirikanlah organisasi Budi Utomo, kemudian disusul oleh Jong Java untuk merealisasikan mimpi kebudayaan itu.

Walaupun masih bersifat lokal dan jawa sentris, namun lambat laun kedua organisasi itu menjadi inspirator lahirnya Jong Sumatera, Pemuda Indonesia, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Betawi dan yang lainnya. Kekuatan pemuda mulai menjamur. Sampai pada akhirnya, mereka bersatu dan mengikrarkan Sumpah Pemuda.

Bisa dibilang, dalam arti sempit, Sumpah Pemuda adalah pemantik pertama bagi sebuah gerakan perjuangan untuk terbebas dari jeratan kolonialisme. Dalam arti luas, Ia semacam naskah sejarah dan bukan hanya sekadar peristiwa. Ia ingin terus diinterpretasikan.

Identitas merupakan tema sentral naskah yang ingin diperjuangkan. Bagaimana meraih identitas itu? Mereka menjawabnya dengan persatuan dan pendidikan. Kedua hal itulah yang bagi saya merupakan esensi terdalam tentang naskah Sumpah Pemuda. Dengan kata lain, Sumpah Pemuda merupakan sebuah semangat kebudayaan.

Perlahan tapi pasti, naskah itu menuntun bangsa ini menuju fajar kemerdekaan. Sampai peristiwa penculikkan Bung Karno dan Bung Hatta, pemuda pun memainkan peranan krusial. Entah apa jadinya jika saat itu para pemuda hanya mengikuti keinginan golongan tua dalam memproklamirkan kemerdekaan.

Di tengah situasi global yang bergejolak, pemuda menjadi katalis bagi bangsa untuk menyongsong Sang Fajar kebebasan. Mereka seolah berkata, “Sekutu dan Jepang sedang ribut. Tunggu apalagi Bung, ini adalah kesempatan! Merdeka!”.

Sebagai sebuah naskah, Sumpah Pemuda harus selalu dibaca. Ia menggaungkan pesan bahwa pendidikan dan persatuan adalah jembatan menuju pembebasan. Dalam konteks dahulu, pembebasan diartikan terlepas dari penjajahan dan mematrikan identitas. Hasilnya adalah semangat nasionalisme dan patriotisme.

Di masa kini, pembebasan itu adalah menjadi pemuda yang berkarakter, mandiri dan bersatu. Jika itu terealisasi maka hasilnya jauh melampaui nasionalisme, yaitu pemahaman dan kesadaran mendalam akan kehidupan yang utuh.

Namun, sepertinya kompleksitas dan modernitas zaman telah membutakan mata. Saat ini, pendidikan dan kebudayaan memang sudah berkembang. Banyak anak muda dapat mengenyam pendidikan dari bangku SD hingga universitas.

Tapi, segala perkembangan itu seperti bergerak tanpa roh, tanpa arah. Akibatnya, krisis identitas kini menjadi penyakit yang menggejala pada sebagian besar generasi muda. Singkatnya, dulu pemuda melahirkan identitas, sekarang pemuda mengalami kematian identitas.

Mati Muda

Mati muda. Sebuah metafor dari matinya identitas para pemuda. Matinya identitas bukanlah Hoax. Ia benar-benar nyata dan fakta. Dalam konteks ini, fakta itu dapat dilihat secara empiris langsung dan epistemologis.

Secara empiris, ada sebuah realitas yang saya saksikan sendiri. 28 Oktober 2016. Saya melihat segerombolan anak muda berdiri di antara kedua ruas jalan. Umur mereka kisaran 16-24 tahun. Dari kejauhan, mereka tampak sedang menenteng kardus dan meminta sumbangan. Dugaan saya, mereka sedang meminta sumbangan untuk sebuah peristiwa malang. Nyatanya tidak, di depan kardus itu malah tertulis: Sumbangan Apresiasi Sumpah Pemuda. What?!.

Makin parah lagi, ketika peristiwa itu ternyata masih terulang pada 28 Oktober 2017! Apakah begini caranya menghormati sumpah pemuda? Mengapa ini bisa terjadi? Ada apa ini? Siapa yang bertanggung jawab atas fenomena ini? Pikiran saya diterjang bermacam pertanyaan.

Memang, Sumpah Pemuda dapat dirayakan dengan berbagai cara dan kreatifitas. Tapi, saya pikir fenomena yang terjadi itu sudah melenceng dari esensi Sumpah Pemuda itu sendiri.

Bahkan, sangat mencoreng. Inilah sebuah akibat dari matinya identitas itu. Mereka tak paham sejarah dan diri mereka sendiri. Walaupun tidak semua pemuda melakukan hal yang sama, tapi fenomena itu mengisyaratkan bahwa kematian identitas dan krisis pemuda bukanlah Hoax. Ia nyata dan ada.

Bidang epistemologis pun menyuarakan tentang kematian identitas dan krisis itu. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan berpadu untuk mengungkap fenomena tersebut. Dari sudut pandang ini, tingginya angka kriminal dan kenakalan yang dilakukan remaja menjadi indikator utama. Isi kenakalan remaja itupun tak jauh-jauh dari narkoba dan seks bebas. Dan menurut Badan Pusat Statistik angka kenakalan remaja terus mengalami peningkatan.

Diakui atau tidak, begitulah faktanya sekarang: pemuda kita sedang mengalami krisis. Ya, walaupun ada juga pemuda yang progresif dan aktif. Di saat yang sama, fakta itu sekaligus mengindikasikan bahwa pemuda kita sekarang sedang terpecah.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa progresifitas pemuda itu belum merata? Apakah karena kita sekarang tidak memiliki musuh yang sama seperti dulu?. Tentu menarik untuk mengulasnya, namun tidak akan diulas lebih jauh di sini.

Aneh memang, di awal seabad lalu simbol pemuda sangatlah heroik. Bahkan namanya begitu harum hingga menjadi sebuah naskah sejarah. Mereka menciptakan sebuah identitas yang sangat penting.

Kini, awal abad ke-21, simbol pemuda terjungkal drastis. Sekarang, justru pemuda mengalami krisis multidimensional dan penuh masalah. Dulu, pemuda adalah subyek. Kini, pemuda adalah obyek. Miris.