Judul di atas saya ambil dari buku yang ditulis Florent Badou berjudul Avant j’étais accro au porno: la méthode pour arrêter la pornographie (Dulu saya ketergantungan pornografi: metode untuk menghentikan pornografi). 

Badou, sebagaimana yang dikatakannya dalam bab pendahuluan, bukanlah psikolog, sosiolog, atau pakar di bidang kecanduan. Ia adalah mantan pecandu pornografi dan masturbasi.

“Saya hanyalah pria biasa, dari yang tadinya melihat materi porno dan melakukan masturbasi beberapa kali sehari menjadi tidak sama sekali,“ demikian ia memperkenalkan diri (hal 11). 

Ia menderita kecanduan pornografi selama 15 tahun. Ketika kecanduannya hampir menghancurkan perkawinannya, ia tersadar bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menyembuhkan diri. Tidak mudah, tetapi ia berhasil. 

Badou kemudian mengembangkan situs internet stopporn.fr. Dari banyaknya pengunjung situs ini yang menghubunginya, ia paham keluasan dari masalah kecanduan ini. Ia pun memutuskan untuk menulis buku ini dengan maksud menjangkau lebih banyak orang yang mengalami masalah ini. Ia yakin bahwa metode yang efektif untuk dirinya juga akan efektif untuk orang lain.

Badou mampu menuangkan dalam kata-kata penderitaan yang pernah ia rasakan dan yang dirasakan oleh mereka yang mengalami ketergantungan terhadap pornografi: ketidakberdayaan yang menyiksa, ketidakmampuan mengendalikan hasrat yang sesungguhnya tidak ia kehendaki tetapi begitu kuat menguasai dirinya. 

Ia menggambarkan keadaan dirinya ini seperti menjadi zombie. Memasang penghalang anti-zombie pun menjadi bagian penting sekaligus yang paling teknis dari rencana aksi yang ditawarkan Badou untuk mengatasi ketergantungan pornografi. 

Secara lengkapnya, Badou mengajukan lima langkah konkret, yang telah ia terapkan bagi dirinya sendiri untuk mengeluarkan diri dari jerat pornografi: (a) mengenali dan memahami apa yang dimaksud dengan pornografi; (b) memahami proses bagaimana bisa sampai mengalami ketergantungan;

(c) menerima bahwa untuk melepaskan diri dari ketergantungan, seseorang memerlukan bantuan dan dukungan orang lain; (d) memasang penghalang anti-zombie; dan (e) mengembangkan kebiasaan hidup yang sehat.

Memahami Pornografi sebagai Pulau Godaan

Langkah pertama yang disarankan Badou dalam upaya melepaskan diri dari kecanduan pornografi adalah mengenali dan memahami terlebih dahulu apa itu pornografi. Seperti Pinokio yang baru bisa menyelamatkan diri dari Pulau Kesenangan setelah menyadari seperti apa sebenarnya pulau itu dan konsekuensi yang menantinya jika ia tetap berada di sana.

Pornografi berasal dari bahasa latin, pornographos. Pornê artinya pelacuran dan grapho yang bermakna menulis, menggambar, melukis. Pornografi dapat diartikan sebagai lukisan hubungan seksual bertarif, tanpa perasaan. Seperti pelacuran, aktor atau aktris porno dibayar untuk melakukan hubungan seksual.

Saat ini kata pornografi maknanya meluas menjadi gambar tindakan seksual yang bertujuan mendatangkan kenikmatan seksual. Gambar ini membangkitkan dorongan yang menggerakkan seseorang untuk melakukan tindakan yang dapat membawa kenikmatan. Seperti prostitusi, pencapaian pornografi adalah orgasme. 

Badou menekankan perlunya membedakan erotisme dan pornografi, soft core dan hard core, pornografi eksplisit dan pornografi berdasarkan penggunaan. Erotis bukan porno, dia mengugah dengan cara halus, tanpa kebrutalan, tanpa kebinatangan. Ciuman dan belaian dapat erotik tanpa menyentuh bagian kelamin, demikian tegasnya (hal 24). 

Pornografi eksplisit memperlihatkan organ genital secara terang-terangan, mekanik, kejam, bersifat binatang, berisikan “dialog” yang hanya berupa serangkaian onamotope. Pornografi atas penggunaan adalah apa pun yang sebenarnya tidak dibuat untuk tujuan pornografi tetapi kemudian digunakan untuk tujuan ini. 

Pembedaan ini menjadi penting untuk memahami diri apakah kita sudah kecanduan pornografi. Karena bagi mereka yang mengalami ketergantungan pornografi, semua media visual yang sifatnya sekadar erotis dapat menghasilkan efek yang sama dengan pornografi. Bahkan orang-orang ini tidak dapat lagi membedakan antara benda-benda pornografik dan non-pornografik.

Lukisan telanjang, puisi erotis, foto grup volley pantai, dapat menjadi media visual yang memprovokasi masturbasi pada orang-orang ini. Demikian halnya dengan penyedot debu, wortel, bantal, yang bukan benda-benda pornografik, tetapi dapat difungsikan demikian.

Ide subjektif tentang pornografi dapat mengejutkan karena realitas-realitas ini bercampur aduk pada mereka yang telah menjadi budak pornografi. Membebaskan diri dari perbudakan pornografi menuntut seseorang untuk mampu melakukan pembedaan ini. 

Pecandu pornografi juga perlu menyadari bahwa pornografi adalah sandiwara dan kepalsuan. Dalam film-film porno, aktris-aktris didandani dan menjalani operasi pengencangan payudara dan bagian-bagian tubuh lainnya. 

Sperma dilebih-lebihkan untuk memperkuat kesan kejantanan yang diidentikkan dengan ejakulasi. Beragam resep digunakan seperti campuran putih telor dan susu kental manis atau air dan methylcellulose yang banyak digunakan dalam pembuatan cat. 

Pemeran film porno umumnya dibius secara lokal untuk menghindari rasa perih dan melebarkan dinding anus. Dalam sebuah wawancara, mantan aktris dan aktor porno menceritakan pendarahan dan robekan saluran anal yang mereka alami akibat sodomi dan pencucian anus. 

Seks virtual itu misoginis, seksis, dan machiste. Perempuan digambarkan selalu siap, berkulit mulus (tanpa bulu), sensual, dan mau melakukan apa pun untuk memuaskan partner seksnya. Padahal perempuan tidak selalu siap sedia; ia tidak selalu ingin bercinta.

Meskipun mungkin saat itu ia menginginkannya, ia juga butuh waktu untuk menikmati rangsangan, dan tidak selalu ingin didominasi dengan posisi “terjebak” di sudut. 

Film porno mengobjekkan partner seksual dengan meniadakan tahapan sebelum (foreplay) dan sesudah (afterplay). Hanya penetrasi yang ditekankan, baik secara anal, vaginal, ataupun oral. Pihak yang dipenetrasi yang akan disorot. 

Menurut Badou, karakteristik-karakteristik ini mengukuhkan sumbangan pornografi dalam terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan toleransi masyarakat terhadap tindakan ini. 

Sementara itu, laki-laki direduksi menjadi pelaku seks dengan alat kelamin berukuran sempurna dan performa optimal, yang dapat melakukan penetrasi lagi dan lagi, dan dalam berbagai posisi. Laki-laki sering digambarkan sebagai orang “jahat”, pembohong, agen industri porno, “cabul”, dan menyukai gadis-gadis belia. 

Penonton akan mengidentifikasikan diri dengan aktor, semua menjadi seperti nyata karena menyaksikan film porno akan berakhir dengan “aksi”: masturbasi dan ejakulasi. 

Badou menegaskan sekali lagi pentingnya untuk memahami bahwa pornografi tidak menggambarkan realitas. Pornografi menyajikan gambaran yang palsu mengenai relasi seksual. 

Pornografi adalah karikatur dari semua kumpulan nilai-nilai yang tidak manusiawi. Nilai-nilai sensibilitas, intelegensi, empati, dan konsep hubungan, yang seharusnya ada dalam sebuah hubungan seksual, semua ini hancur dalam pornografi.

(Bersambung)

Artikel ini saya tulis dengan mengacu kepada halaman 7 - 31 dari buku Avant j’étais accro au porno : la méthode pour arrêter la pornographie (Florent Badou, 2015).

Gambar ilustrasi di atas merupakan lukisan berjudul Enlacements Erotiques, karya André-François Breuillaud, pelukis Perancis yang sepanjang kurang lebih 60 tahun berkarya, lukisan-lukisannya berevolusi dari expressionnisme menjadi surrealisme, sambil terlebih dahulu melewati kubisme.