63153_52453.jpg
Wikipedia
Sejarah · 4 menit baca

Dulu, di Udara Indonesia
Napak Tilas Dirgantara Indonesia dari Masa Hindia Belanda

Belakangan, dunia dirgantara Indonesia dirundung duka. Pesawat Lion Air PK-LQP mengalami kecelakaan di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober lalu. Tentu evaluasi tengah dilakukan oleh pihak terkait agar kejadian serupa dapat dihindari di masa yang akan datang.

Terkait kejadian tersebut, dan kebetulan saat ini kita berada dalam suasana Hari Pahlawan, penulis mengajak pembaca semua untuk menelusuri sejarah dirgantara Indonesia, mulai dari masa kolonial Hindia Belanda. Catatan itu, selain menjadi fondasi dunia penerbangan di negeri kita, juga merupakan bagian dari kisah kepahlawanan. Sekadar pengingat bahwa tidak selamanya langit kelam dalam penerbangan kita.

Sejarah dirgantara Indonesia terkait erat dengan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Bandara dan pesawat yang ada, difungsikan untuk kebutuhan militer Hindia Belanda. Namun, pada awal 1900an, penerbangan komersil mulai dirintis.

Dari Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda, perusahaan penerbangan Belanda, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) membuka rute dari Amsterdam-Batavia. Ialah Vliegveld Tjililitan atau Lapangan Terbang Cililitan yang menjadi destinasi perjalanan tersebut. Sekarang, Lapangan Terbang Cililitan dikenal dengan nama Bandara Halim Perdanakusuma, yang diambil dari nama salah seorang pahlawan nasional.

Saat itu, rute Amsterdam-Batavia tercatat sebagai rute penerbangan antarbenua terpanjang sebelum Perang Dunia II. Tentu rute itu tidak nonstop, dan tidak pula sekadar transit beberapa jam seperti sekarang. Saat itu, transit bisa memakan waktu berhari-hari. Tanggal 1 Oktober 1924, pesawat Fokker F-VII milik maskapai KLM lepas landas dari Amsterdam, dan baru mendarat di Cililitan pada 24 November 1924.

Segera setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno segera membentuk Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Komodor Suryadi Suryadarma (1912-1975) ditunjuk sebagai pimpinan. Beliau adalah mantan navigator di pesawat pengebom B-10 Glen Martin Angkatan Udara Hindia Belanda semasa Perang Dunia II.

Tidak berhenti di sana, pada bulan Oktober 1945, Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta diambil alih oleh para pejuang. Saat ini lapangan terbang tersebut dikenal dengan nama Bandara Adisutjipto. Pada saat pendudukan Maguwo, pejuang berhasil menguasai 50 pesawat latih lanjut atau Chukan Renssuki alias Churen milik Jepang. Orang Indonesia menyebutnya dengan Cureng. 

Setelah diperbaiki oleh dua orang teknisi bernama Basir Surya dan Tjamadi, satu pesawat Cureng diuji terbang pada 27 Oktober 1945 oleh Agustinus Adisutjipto (1916-1947). Penerbangan itu tercatat sebagai penerbangan militer pertama Republik Indonesia. Kira-kira satu bulan kemudian, Adisutjipto mendirikan sekolah penerbangan di Maguwo.

Pada tanggal 29 Juli 1947, Cureng diujicobakan dalam medan tempur sebenarnya. AURI menggunakan Cureng dalam serangan balasan terhadap Agresi Militer Belanda I. Serangan itu berhasil mengenai pasukan Belanda di Salatiga, Ambarawa, dan Semarang. Namun, pada saat yang sama, Belanda membalas hal tersebut. Pesawat Dakota VT-CLA yang telah menjalani misi kemanusiaan, ditembak jatuh oleh Belanda. Di sinilah Adisutjipto gugur.

Terlepas dari kebutuhan militer, Indonesia sedari awal berupaya untuk membangun industri pesawat terbang dan maskapai komersil miliknya sendiri. Pembangunan industri ini tidak lepas dari sosok bernama Wiweko Soepono, Nurtanio Pringgoadisurjo, dan J. Sumarsono. Ketiganya adalah orang-orang AURI. Mereka berhasil membuat rancangan pesawat Si Kumbang dan berhasil diterbangkan pertama kali pada 1 Agustus 1954.

Industri pesawat terus berkembang, sehingga pada 26 April 1976, Nurtanio bersama dengan Bacharuddin Habibie berhasil mendirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN). Kolaborasi itu berhasil membuat purwarupa pesawat turbo N-250 yang pertama kali diterbangkan pada 10 Agustus 1995. Namun, ketika Indonesia jatuh pada krisis moneter tahun 1997, industri tersebut terpaksa berhenti.

Kendati Indonesia berupaya membangun industri pesawat sendiri, namun pesawat Indonesia yang pertama bukanlah karya anak bangsa. Pada tahun 1948, rakyat Aceh membantu Soekarno untuk membeli pesawat pertama dari Singapura. Pesawat yang dibeli adalah tipe Dakota C. 

Untuk menghargai usaha rakyat Aceh, oleh Soekarno, pesawat itu dinamai RI-001 Seulawah Agam dan RI-002 Seulawah Inong. Kata Seulawah dalam bahasa Aceh artinya "gunung emas", merujuk kepada emas dan kekayaan yang dikumpulkan rakyat Aceh demi perjuangan Indonesia.

Ada kisah menarik tentang RI-001 Seulawah Agam terkait diplomasi Indonesia awal kemerdekaan. Pesawat itu tidak hanya menghubungkan Jawa dan Sumatera, tetapi juga Indonesia dengan Burma (sekarang Myanmar) dan India. Penerbangan pertamanya adalah tanggal 26 Januari 1949 dengan rute Kalkuta-Rangoon. Pesawat itu dioperasikan oleh maskapai Indonesian Airways, cikal bakal Garuda Indonesia sekarang.

Untung saja, pesawat itu berada di Kalkuta, India, karena tengah menjalani perawatan rutin. Sebab, ketika itu di Indonesia sedang terjadi Agresi Militer Belanda Kedua. Pesawat itu selamat dan menjadi moda transportasi penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi Burma.

Indonesian Airways dan pesawat RI-001-nya tercatat pernah membantu perjuangan Burma. Ketika itu Burma sedang mengalami gejolak politik akibat pemberontakan. Hanya pesawat Indonesia yang berani melintas di atas wilayah yang dikuasai pemberontak. Sehingga Angkatan Darat Burma memilih terbang dengan Indonesian Airways.

Banyak hal yang berubah dari dunia penerbangan. Berbagai maskapai timbul dan tenggelam. Namun, berbagai hal dilakukan untuk menyajikan penerbangan yang aman dan nyaman. Terlepas dari kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu, penerbangan komersil dunia sebetulnya berada pada tren positif.

Tahun 2017 lalu, misalnya, ditetapkan oleh Aviation Safety Network, lembaga konsultan penerbangan, sebagai tahun paling aman dalam sejarah penerbangan sipil. Sama sekali tidak tercatat kecelakaan pesawat sipil bermesin jet yang memakan korban jiwa. Kendati kecelakaan pesawat kargo dan pesawat bermesin turboprop atau baling-baling masih terjadi. Di antaranya adalah jatuhnya pesawat Cessna 208 Grand Caravan milik PT Spirit Avia Sentosa di dekat Oksibil, Papua, 12 April 2017.