Umurnya genap 60 tahun pada 15 April lalu. Pada usia sebanyak itu, Benjamin Obadiah Iqbal Zephaniah merasa tiba waktunya menulis tentang dirinya sendiri. Sebelumnya ia lebih banyak menulis puisi dan novel.

Maka penyair kulit hitam kelahiran Birmingham, Inggris itu menulis otobiografi. Pada 3 Mei lalu, otobiografi berjudul The Life and Rhymes of Benjamin Zephaniah, diluncurkan. Buku tersebut diterbitkan oleh Simon and Schuster. Ia akan berkunjung ke 19 kota di Inggris untuk mempromosikannya.

Siapa BZ?

Reputasinya sebagai penyair sangat diakui khususnya di Inggris. Pada tahun 2008, harian terkemuka negara itu, The Times, memasukkannya dalam Daftar 50 Penulis Inggris Pasca Perang.

Ia aktif dalam berbagai gerakan. Mulai dari gerakan vegetarian dan pencinta hewan, hingga gerakan anti apartheid dan anti penjajahan. Ia terlibat mendukung kemerdekaan Afrika Selatan, Palestina, Timor Timur dan Papua. Ia juga dekat dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Bapak Bangsa Afrika Selatan, Nelson Mandela.

BZ Lahir dan besar di distrik Handsworth, Birmingham, Inggris. Kota ini ia sebut sebagai ibukota Jamaika di Eropa. Ia membenci ayahnya, seorang tukang pos, yang mendidiknya dengan kejam di masa kecilnya.  Ibunya, yang bekerja sebagai perawat, sebaliknya, sangat ia kagumi dan cintai.

Masa kecil dan remajanya ia lalui dengan banyak sisi murung. Karena menderita disleksia ia berhenti sekolah pada usia 13 tahun.

Di masa remaja, ia terlibat pada berbagai tindakan kriminal. Menurutnya, kenakalan itu diinspirasi oleh semangat untuk bertindak seperti Robin Hood, melakukan redistribusi kekayaan dari kalangan berpunya kepada orang miskin. Dalam wawancara dengan Observer, ia mengatakan keterlibatannya dalam geng kriminal masa itu lebih banyak karena dipengaruhi teman-temannya. Menurutnya, ada tekanan dari teman sebaya untuk melakukan kejahatan. Mereka, misalnya, terlibat pencurian mobil. Mereka juga sering memukuli orang yang mereka nilai berperilaku aneh.

Hidup yang keras di sekelilingnya, sebagaimana ia katakan dalam otobiografinya, ia simpan dalam ingatan. Dan, semuanya berujung pada puisi-puisinya.

"Saya telah menyaksikan kehidupan preman, kehidupan germo, kehidupan perang jalanan, karena saya berada di tengah-tengahnya, tetapi saya selalu menjadi pengamat. Saya selalu memperhatikan orang dan berpikir, seseorang itu adalah karakter....Ada hal-hal yang saya lakukan bahkan ketika saya masih anak-anak, seperti melarikan diri dari sekolah, di mana saya berpikir, (semua) ini akan berakhir di salah satu buku atau puisi saya. Saya mencatat semuanya dalam ingatan saya," kata dia.

Sejak masih kecil ia sudah tertarik dengan puisi. Dalam wawancara dengan Eric Doumerc dari University of Wollongong, Australia, ia mengatakan  tertarik pada puisi sebelum ia tahu apa itu puisi.

Kecintaannya pada puisi diinspirasi oleh ibunya yang rajin membawanya ke gereja. Di sana ia mendengar pendeta karismatik berkhotbah layaknya membaca puisi.

Puisi ketika itu dalam pandangan dia adalah kata-kata yang berirama sama dan yang memiliki makna tertentu. "Kemudian saya memahami perbedaan kata-kata yang mengandung amarah dengan kata-kata yang mengandung cinta. Saya tidak secara khusus tahu artinya, tetapi, saya memahami emosi yang coba dieskpresikan oleh kata tersebut, dan ya, saya menyukai rima," kata BZ.

BZ mengatakan karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh tradisi Jamaika. Di sisi lain ia juga menyebut diri penyair Rastafarian, meskipun tidak berarti ia menyetujui semua hal tentang Rastarafian.

"Artinya, saya melihat Tuhan melalui Rastafari," kata dia. Menurut dia, tradisi Rastafari membawa dia pada bentuk puisi pertunjukan yang ia geluti. Dia sendiri tidak marah disebut sebagai penyair pertunjukan. 

Menurut Wikipedia, Rasfatari adalah sebuah gerakan agama baru yang berawal di Jamaika. Gerakan ini mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan. Ia dipandang sebagai Singa Yehuda.

Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar.  Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani. Kemunculannya diperkirakan pada awal tahun 1930-an. Mereka menafsirkan nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, Marcus Garbey.  Mereka memiliki visi dunia yang baru. 

Gerakan Rastafari telah menyebar di berbagai tempat di dunia, terutama melalui imigran. Selanjutnya penyebarannya juga diperkuat oleh musik Nyahbinghi dan reggae. Khususnya musik Bob Marley, yang dibaptiskan dengan nama Berhane Selassie (Cahaya Tritunggal) oleh Gereja Ortodoks Ethiopia sebelum ia meninggal.

Sekitar 5-10 persen penduduk Jamaika mengidentifikasi diri sebagai Rastafari. Pada tahun 2000 diperkirakan ada lebih dari satu juta Rastafari di seluruh dunia.  Mereka vegetarian atau hanya memakan jenis-jenis daging tertentu.

Hidupkan Puisi dari Kebekuan Akademis

Sebagai ‘penyair,’ penampilan pertama BZ adalah di gereja ketika dia berumur 11 tahun. Pada usia 15 tahun, puisinya mulai dikenal di kalangan komunitas Handsworth.

Bosan dengan keterbatasan sebagai seorang penyair hitam yang berkomunikasi hanya dengan orang kulit hitam, ia kemudian memutuskan untuk memperluas pendengarnya. Pada usia 22 tahun ia hijrah ke London.  Dia aktif terlibat dalam koperasi pekerja di Stratford, London. Di sini lahirlah buku puisinya yang pertama, Pen Rhythm (Page One Books, 1980).

Zephaniah mengatakan misinya sebagai penyair adalah untuk melawan puisi yang mati di dunia akademis. Ia ingin membawa puisi kemana-mana, menjangkau orang-orang yang tidak membaca buku. Maka pembacaan puisi melalui pertunjukan konser pun ia lakukan.

Bukunya yang kedua, The Dread Affair: Collected Poems (1985), berisi sejumlah puisi yang menyerang sistem hukum Inggris. Bukunya yang lain, Rasta Time in Palestine (1990), merupakan buku tentang laporan kunjungan ke wilayah Palestina. Buku ini berisi puisi dan perjalanan.

Album Rasta 1982, yang menampilkan rekaman pertama The Wailers sejak kematian Bob Marley serta penghormatan kepada Nelson Mandela, membuatnya meraih prestise internasional. Album ini menduduki puncak tangga lagu Yugoslavia. Rekaman ini pula yang membawa dia berkenalan dengan tahanan politik dan kandidat presiden Afrika Selatan (kala itu), Nelson Mandela.

BZ juga menulis buku puisi untuk anak-anak yang berjudul Talking Turkeys. Buku ini laris-manis dan dicetak ulang setelah enam minggu.  Pada 1999 dia menulis novel untuk remaja, Face, novel yang pertama dari empat novel hingga saat ini.

Ingin Membebaskan Dunia

BZ adalah penyeru penegakan hak asasi manusia (HAM). Ia aktif menyuarakan hak rakyat yang ia nilai masih tertindas. Ia mendukung perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan rezim apartheid. Ia juga sangat vokal menyerukan kemerdekaan Palestina. Ia turut mendukung kemerdekaan Timor Leste. Hal yang sama ia lakukan untuk aspirasi menentukan nasib sendiri rakyat Papua.

Dalam sebuah pertunjukannya pada WOMAD Festival di Inggris, yang dihadiri ribuan penonton, BZ mengangkat bendera Bintang Kejora. Bendera itu ia peroleh dari aktivis Papua Merdeka yang hadir di konser tersebut.

Dari atas panggung di hadapan ribuan penonton, ia menjelaskan apa yang ia nilai sebagai 'pendudukan' atas Tanah Papua. Ia menyerukan fansnya untuk mempelajari lebih jauh masalah Papua. Walau ia mengakui tidak paham soal politik, ia meminta hadirin mendukung perjuangan rakyat Papua. Ia mengimbau mereka untuk turut menandatangani petisi global tentang Papua.

Pada akun Twitternya 4 Desember 2016, ia menulis, "West Papua will be free one day. I done the maths. The more people R oppressed & occupied, the harder they fight 4 freedom. So get on board."

Pencapaian Tertinggi

Dalam otobiografinya, BZ menjawab pertanyaan tentang apa yang dianggapnya sebagai pencapaiannya yang tertinggi. Ia mengatakan sangat ingin membebaskan dunia. Namun pada saat yang sama, ia sadari bahwa kekuatannya tidak seberapa. Bahkan di negara tempat ia lahir, Inggris, ia saksikan sendiri beragam ketidakadilan masih terjadi.

"Di usia seperti saat ini, orang-orang bertanya kepada saya apa yang saya pikirkan sebagai pencapaian terbesar saya, dan saya merasa sangat sulit untuk memilih atau bahkan membuat peringkat dalam urutan menurut ukuran apa pun," kata BZ.

Berbalik dari kejahatan, kata BZ, mungkin saja merupakan salah satu hal terhebat yang pernah ia lakukan. Meskipun demikian, kata dia, berhasil mencapai usia 30 tahun tanpa tertembak pun, termasuk yang ia syukuri.

Lalu ia menyinggung soal keterlibatannya dalam mendukung upaya kemerdekaan sejumlah bangsa. "Setiap kali saya mengunjungi Afrika Selatan, saya dipenuhi dengan rasa bangga. Bagian saya sangat kecil tetapi terlibat dalam gerakan anti apartheid membuat saya berpikir bahwa saya berperan dalam mengubah negara itu menjadi lebih baik," kata BZ.

"Namun kebanggaan saya juga diwarnai kecemasan. Tidak akan pernah ada lagi sosok seperti Mandela, dan saya khawatir bahwa ANC dan kepemimpinannya tidak terfokus pada menyatukan negara dan memerangi korupsi seperti Mandela," lanjut BZ.

Keikut sertaannya dalam gerakan kemerdekaan Timor Leste ia singgung dalam buku otobiografinya.

"Saya sangat terlibat dalam upaya meningkatkan kesadaran tentang penderitaan rakyat Timor Timur, dan sekali lagi saya sangat bangga telah memainkan peran kecil saya dalam pembebasan negara kecil itu," kata BZ.

Hal kebalikannya ia rasakan mengenai Palestina. "Saya pikir kita gagal di Palestina. Ini adalah negara yang selama puluhan tahun telah menderita pendudukan brutal - Anda dapat membaca di berita online dan melihat orang Palestina terbunuh setiap hari - tetapi orang-orang Inggris tampaknya tidak menyadari penderitaan mereka karena sangat sedikit tentang penindasan mereka yang tercakup dalam media arus utama."

Keengganan media arus utama terhadap isu-isu pelanggaran HAM ia lihat juga dalam perlakuan Inggris atas masyarakat Kepulauan Chagos. Masalah yang dihadapi rakyat kepulauan ini, menurut dia, tidak diketahui oleh rakyat di negaranya. Dan pemerintah  memang ingin membiarkannya tetap demikian. Sebab, kata BZ, rakyat Inggris pasti akan marah ketika mengetahui bahwa ada suatu bangsa yang dipindahkan dari tanah mereka untuk membuat pangkalan militer sekutu.

Bagaimana dengan dukungannya pada aspirasi merdeka Papua?

Dalam otobiografinya, ia hanya menyinggungnya sedikit. Meskipun demikian, tertangkap ada nada sentimentil di sana. Dukungannya kepada Papua, menurutnya, sangat bersifat pribadi. Dan ia menyesal, menyadari bahwa mimpinya tentang Papua belum terwujud juga.

"Lalu ada Papua. Saya tahu Papua akan bebas pada suatu hari," kata BZ.

"Saya dulu ingin membantu membebaskan mereka sebelum saya berusia 50 tahun, sekarang saya hampir enam puluh tahun dan mereka masih belum bebas. Jadi ini adalah kegagalan saya yang lain. Ya, bagi saya ini bersifat pribadi," kata BZ.

"Saya benar-benar ingin membebaskan dunia, tetapi di dalam negeri, ketika saya menulis (buku) ini, saya pikir salah satu ketidakadilan terbesar di negara kelahiran saya adalah jumlah orang yang meninggal dalam tahanan. Di kantor polisi, di penjara, di pusat imigrasi dan unit psikiatris, para korban sedang sekarat. Banyak yang mengakhiri hidup sebagai akibat dari depresi dan masalah kesehatan mental lainnya, tetapi banyak juga dari mereka yang melakukannya sebagai akibat dari kebrutalan yang mereka alami di tangan orang-orang yang seharusnya menjaga mereka."

Kalau Jatuh, Cepatlah Bangkit

Di bagian lain otobiografinya, BZ mengajarkan tentang sikap untuk pantang menyerah. Sebagai seorang putra keluarga imigran, BZ menyadari kesempatan adalah hal penting untuk meraih keberhasilan. Kesempatan harus diambil, tidak boleh disia-siakan.

Meskipun demikian, menunggu kesempatan saja, tak akan membawa seseorang kemana-mana. Harus dibarengi dengan kerja keras.

BZ tidak percaya pada motto yang banyak bertebaran di media sosial, bahwa dengan mengikuti mimpi (passion), seseorang pasti berhasil. Menurut BZ, jika bakat dan harapan seseorang cocok, memang motto mengikuti mimpi tersebut dapat berhasil. Tetapi mungkin juga tidak.

Menurut dia, harus ada kesadaran bahwa bisa saja muncul hambatan, termasuk hambatan budaya. Dan bila menemukan kegagalan karenanya, kata dia, perlu kesadaran dalam diri untuk bangkit dan kembali mencoba lagi.

“Jika Anda tidak berhasil, Anda memerlukan kekuatan dalam diri Anda untuk bangkit kembali."

Referensi

  • Eric Doumerc, An interview with Benjamin Zephaniah, Kunapipi, Vol.26 Issue I, 2004, University of Wollongong, Australia.
  • Benjamin Zephaniah, The Rhyme Life of Benjamin Zephaniah, Poet Lyricist, Writer, Activist, the Autobiography, Simon & Schuster, 2018