Fenomena merebaknya Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di masa pandemi ini semakin jelas terlihat. Di sepanjang jalan sering kita jumpai ODGJ yang masih sedikit waras atau bahkan sama sekali tidak ingat malu (tanpa busana).  Laporan masyarakat yang masuk ke Dinas Sosial didominasi oleh klien ODGJ terlantar tanpa keluarga, mengamuk dan meresahkan warga.

ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan/atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam
menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Sebagaimana Kementerian (Kemenkes) pun telah mencatat selama pandemi covid-19, hingga Juni 2020, ada sebanyak 277 ribu kasus kesehatan jiwa di Indonesia. Jumlah kasus kesehatan jiwa itu mengalami peningkatan dibandingkan 2019 yang hanya 197 ribu orang.

Efek pandemi pun menambah daftar kasus ODGJ, entah karena imbas isoman, ketakutan yang berlebihan atau juga efek sosial ekonomi terjadinya pengangguran akibat PHK. Kompleksitas masalah akibat pandemi sungguh membuat mumet, hampir di seluruh lapisan masyarakat menengah ke bawah terimbas. Sebagaimana cerita yang saya jumpai belum lama ini.

Seorang ibu melapor ke Dinas Sosial bahwa anaknya yang ODGJ membutuhkan bantuan. Anaknya sampai sekarang belum pernah mendapatkan bantuan apapun termasuk bantuan sosial bagi warga terdampak covid. Anak ibu ini sudah ber-KTP Sleman sejak 2017, berumur sekitar 42 tahun.

Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) atau orang/pihak-pihak yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan sosial, kami sebut sebagai klien. Klien yang saya sebut di atas tadi adalah warga asli Purworejo, akan tetapi sudah pindah KTP ke Sleman. Dia tidak mempunyai rumah dan tinggal di kotrakan bersama ibunya. Karakternya banyak bicara dan berhalusinasi namun cenderung menutup diri terhadap lingkungan sosial. Ketika diajak berkomunkasi, klien merasa tidak percaya diri. Ia pun tidak mau diberi bantuan finansial, bukan pula pelatihan, tetapi minta pekerjaan.

Lingkungan tempat tinggal kontrakan klien baik, dan dia hidup dengan sistem kekeluargaan. Masyarakat sekitar mengenal dan mengetahui keberadaan kilen dan ibunya. Masyarakat juga mengetahui kondisi kejiwaan klien serta tidak mengucilkannya, meskipun klien dan ibunya jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Meski demikian, apabila klien dan ibunya menjalin hubungan baik dengan warga, otomatis perangkat desa pun siap membantu terutama dalam penanganan klien ODGJ.  Melalui kader desa, pemerintah siap melakukan pendampingan agar keluarga pun bisa mendampingi.

Ada ODGJ yang belum mendapatkan bantuan sosial karena belum masuk dalam DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dan belum masuk dalam penjaminan kesehatan pemerintah pusat (Kemensos) maupun APBD. Terkait permasalahan ini, keluarga klien bisa menghubungi Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) setempat untuk meminta bantuan. Jika belum tahu/ kenal bisa menghubungi dukuh dulu, kemudian ke desa, dalam hal untuk kepentingan anaknya.

ODGJ dan keluarga cenderung kurang paham dalam mengakses layanan sosial dari pemerintah. Syarat utama agar klien bisa mengakses program kegiatan di Dinas Sosial, beliau masuk dalam DTKS. Pengobatan klien dan ibunya harus tetap berjalan. Oleh karena itu, klien sementara menunggu proses usulan MPM (Mekanisme Pemutakhiran Mandiri) DTKS yang dilakukan desa, ia bisa mengakses program Jaring Pengaman Sosial (JPS. Hal yang lazim jika masyarakat bisa mengakses ke BAZNAS di tingkat kabupaten, bisa melalui rekomendasi Dinas Sosial.

Di kalurahan sudah ada kegiatan pendampingan bagi ODGJ dan keluarganya, akan tetapi keluarga ini belum bisa mengakses. Melalui hasil home visit ini diharapkan desa bisa mengkomunikasikan dengan kelurga klien agar bisa ikut kegiatan yang sudah berjalan. Ibu klien sudah lansia dan sakit. Kondisi ini jmenghambat ibu klien untuk bisa membawa klien ke kegiatan di balai desa. Alangkah baiknya kalau ada penjemputan klien-klien yang tidak potensial misal yang miskin tidak ada kendaraan. Penjemputan dibuat seperti rute bus sekolah, antar jemput klien ODGJ tetapi di masa bukan pandemi.

Selama pandemi, kegiatan dialihkan pada pemberian tambahan pemenuhan gizi bagi ODGJ yang diantar ke rumah-rumah. Bisa juga disisipkan brosur tentang materi pendampingan ODGJ oleh keluarga, misal pendampingan tetap memberikan obat agar klien stabil emosinya.

Pendampingan dari desa/pendamping/kader sangat dibutuhkan karena keluarga satu-satunya yang mengampu yaitu ibunya juga dalam keadaan sakit. Dukungan pendampingan desa sangat membantu kelancaran klien mengakses dana JPS juga agar mau ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan di desa untuk memberikan dukungan kepada klien.

Harapan selanjutnya, bahwa ODGJ ini nantinya bisa mencapai apa yang disebut dengan sehat jiwa. Sebagaimana disebutkan dalam UU No 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Istilah dalam pekerjaan sosial, klien bisa kembali mendapatkan fungsi sosialnya di masyarakat. Hidup bermartabat.

Kasus klien ODGJ lainnya bernama Pero, terlahir dalam kondisi normal. Sejak kecil ibunya sudah meninggal dan bapaknya menikah lagi.  Hidup dengan ibu tiri dan sekarang juga sudah meninggal. Sejak kecil klien kurang mendapat perhatian dari orang tuanya.

Pernikahan pertama bercerai dan rencana menikah yang kedua gagal juga. Semenjak saat itu jiwanya mengalami ganguan. Ia tidak mau bekerja. Pernah tinggal dengan kakaknya kemudian pergi. Klien menumpang di sana-sini, bangunan kosong dan akhirnya menggelandang.

Dukungan kakak klien sangat besar, akan tetapi klien sendiri yang memilih pergi. Klien sering berteriak-teriak dengan kata-kata kotor, mencuri apa yang dilihat untuk bertahan hidup, meminta minta dengan paksaan dsb.

Masyarakat sekitar, dukuh hingga perangkat kalurahan mempunyai empati yang besar dan siap membantu. Perangkat desa bekerja sama dengan Babinsa dan Babinkamtibmas membawa klien ke RSJ. Dinas Sosial membantu dalam pembiayaan dan juga mencarikan balai rehabilitasi pasca klien dirawat dari RSJ. Masyarakat siap membantu kakak klien dalam memantau perkembangan klien.

Dukungan keluarga dan masyarakat yang memperhatikan perawatan klien sangat membantu dalam memberikan dukungan kepada klien agar bisa kembali pulih. Klien ODGJ bisa pulih apabila mendapatkan perawatan yang tepat dan konsumsi obat secara teratur.

Pendampingan keluarga dan masyarakat melalui kader kesehatan sangat diharapkan dalam hal ini. Jika terjadi pembiaran terhadap ODGJ, ia akan terlantar di jalanan tanpa pengobatan dan tak akan pernah pulih.  Disinilah pentingnya dukungan lingkungan terdekat ODGJ terhadap pemulihan kesehatannya terutama di masa pandemi.