3 bulan lalu · 2541 view · 3 menit baca · Politik 81812_93620.jpg
Grace Natalie | Dok. PSI

Dukung PSI Tolak Perda Berbasis Agama

Adalah PSI satu-satunya partai politik negeri ini yang berani dengan lantang memunculkan kembali polemik terkait perda berbasis agama. Lewat pidatonya di HUT PSI yang ke-4, Grace Natalie yakinkan publik bahwa PSI adalah benar partai anti-intoleransi, tiada duanya.

“PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindak intoleransi di negeri ini. Partai ini tidak akan pernah mendukung Perda Injil atau Perda Syariah. Tidak boleh ada lagi penutupan rumah ibadah secara paksa!”

Cukup satu kalimat saja sebenarnya, ruang-ruang sosial kemudian disesaki oleh pemberitaan-pemberitaaan mengenai itu. Dukungan publik semarak, sesemarak dengan penolakannya. Kontroversial sekali.

Saya kira tepat jika Grace selaku Ketua Umum PSI menggaungkan polemik tentang anti-intoleransi. Selain memang merupakan salah satu spirit berdirinya, isu mengenai itu juga masih jadi PR bersama yang sampai hari ini masih jauh dari kata kelar.

Bukan rahasia lagi jika praktik intoleransi di negeri ini masih menjadi realitas yang terus-terusan membuat kita, bangsa Indonesia, tidak maju-maju. Jalan di tempat melulu, yang sering pula malah mundur jauh ke belakang.

Kalau mundur-mundur cantik seperti Syahrini sih tidak masalah. Tapi ini, mundur-mundur terus hingga jatuh ke jurang. Alih-alih maju, yang ada malah mati di antara bebatuan karena bonyok. Bagaimana bisa cantik kalau begitu?

Coba bandingkan diri dengan bangsa-bangsa lain. Hampir di segala aspek kita jauh tertinggal. Di sana, mereka sibuk bicara tentang luar angkasa. Mereka sibuk memikirkan bagaimana mencari suaka alternatif bagi manusia di saat bumi sudah tak layak huni lagi. Mereka bicara masalah-masalah masa depan, kemungkinan, dan cara meresponsnya.

Sementara di sini, kita terus-terusan sibuk dan bertengkar untuk sesuatu yang tidak jelas asal-usul sumbernya. Kita masih berkutat di wilayah yang tidak produktif sama sekali, seperti sibuk bikin agenda unjuk rasa. Iya kalau tuntutannya jelas. Apa pun isunya, ujungnya kerap kali #2019GantiPresiden. Kapan majunya?

Tidak masalah jika kita mempertahankan idealisme, mengecap ini haram dan itu halal. Tetapi, jika masalah itu masuk ke ranah yang lebih luas, dilembagakan melalui kebijakan publik, Perda Injil atau Perda Syariah misalnya, maka di titik itulah penting bagi kita mendukung sikap PSI.

Sayang, pernyataan sekaligus kritik yang sangat konstruktif itu malah dimaknai yang bukan-bukan. Oleh siapa? Oleh mereka yang minim kemampuan literasinya, didukung penuh oleh mereka yang punya kebencian akut kepada PSI.

Saya rasa kelompok terakhir itulah (yang punya kebencian akut terhadap PSI) yang paling bertanggung jawab. Mereka sebar fitnah, memelintir fakta seolah PSI anti-agama, yang kemudian diterima oleh mereka yang minim kemampuan literasi. Maka meledaklah polemik, digoreng habis-habisan, sampai gosong bila perlu.

Simak, misalnya, pernyataan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Suhud Aliyudin, ini di Jawa Pos (13/11): “Hanya PKI yang menolak agama; semangat menolak agama bertentangan dengan Pancasila.” Sangat terang bahwa ia berupaya mengggiring opini publik seolah penolakan PSI atas perda berbasis agama sama dengan PSI anti-agama.

Tentu, dilihat dari posisinya sebagai Direktur Pencapresan PKS, Suhud jelas tidak berkemampuan minim secara literasi, melainkan kebencian akutnya terhadap PSI-lah yang menjadikan ia melakukan pembohongan publik seperti itu. Atau mungkin karakter politikus PKS memang demikian?

Entahlah. Yang jelas, pernyataan timpang semacam itu yang kemudian mendorong kaum minim kemampuan literasi lainnya ikut memviralkan. Tak tanggung-tanggung, ada yang sampai menulis seperti ini di dinding Facebook-nya: Pantesan aja Ketua Umum PSI ini menolak Perda Syariah. Ternyata pernah juara model… (sambil membubuhkan foto-foto mirip Grace yang setengah telanjang).

Tetapi kita bisa memaklumi. Di dunia perpolitikan kita dewasa ini, isu SARA masih menempati posisi utama sebagai senjata ampuh mengalahkan lawan. Segala apa pun bisa diarahkan ke sana. Perkara benar atau tidak, soal nanti. Yang penting viral dulu. Begitu karakter kebanyakan warganet kita.

Padahal jelas-jelas Grace bicara soal bagaimana melawan praktik intoleransi di negeri ini, menghalau segala bentuk upaya diskriminatif, terutama oleh mayoritas ke minoritas. Ia ingin agar penutupan paksa rumah ibadah tidak terjadi lagi, yang kebetulan semangatnya berasal dari perda berbasis agama. Tetapi oleh mereka yang benci PSI, diplintir ke sana-kemari, seolah PSI anti-agama.

Kemampuan literasi yang minim, terlebih karena kebencian akut kepada satu kaum, memang merupakan pelecut utama kenapa ada orang yang sampai salah paham dan/atau sengaja membangun paham yang salah. Disesalkan? Tentu saja. Sebab yang salah-salah itu ditampilkan ke publik.

Kita tahu betul kalau publik kita itu gampang sekali termakan isu, apalagi yang sensitif seperti soal keyakinan atau agama/kepercayaan. Sekali itu dihembuskan, terutama oleh politisi atau pejabat publik, maka ujungnya bisa ke mana-mana, terlebih ketika ada pihak yang berhasil membelokkan. Kasus Ahok adalah contohnya.