Politisi
5 bulan lalu · 2845 view · 3 min baca · Politik 61585_13912.jpg
Debat Capres Putaran II

Dukung Capres yang Tak Paham Masalah?

Saya sih ogah. Dukung capres yang tak paham masalah adalah bukti kebodohan. Dan itu sangat fatal, terutama bagi masa depan negara.

Di sesi debat calon presiden putaran kedua, terlihat jelas bagaimana Prabowo Subianto tak paham masalah. Saat Jokowi punya kesempatan bertanya soal infrastruktur untuk unicorn, misalnya, bukannya menjawab, capres penantangnya malah tanya balik.

“Infrastruktur apa yang akan bapak (Prabowo) bangun untuk mendukung perkembangan unicorn Indonesia?” tanya Jokowi.

“Maksudnya? Yang online-online gitu?” balas Prabowo.


Prabowo tidak memberi solusi apa-apa. Yang selalu digembar-gemborkan ke publik hanyalah argumen-argumen mengawang, seperti “kami akan ciptakan harga sembako murah”, “kami akan buat semua orang bisa punya akses,” atau “kami akan makmurkan seluruh rakyat Indonesia”.

Sialnya lagi, saat giliran ia diberi waktu untuk menjelaskan, lagi-lagi tidak ada yang Prabowo bisa tuntaskan. Ia hanya mampu mengatakan, “Oh, mari kita dukung.” Kedodoran sekali, bukan?

Maka jangan salahkan warganet jika meme-meme tentangnya mereka sebar. Sebab kemampuan debat kubu oposisi memang kerap mencipta suasana penuh tawa: gugup, asal jawab, yang akhirnya hanya jadi bahan hiburan.

Terbuktinya ketidakpahaman Prabowo terkait unicorn Indonesia membuat kita jadi tahu bahwa Prabowo dan tim ternyata tidak secara serius mengikuti perkembangan ekonomi mutakhir. Isu Revolusi Industri 4.0 terkesan hanya dipahami sekilas. Padahal ini adalah masa depan ekonomi dunia.

Bayangkan, dari tujuh unicorn di Asia, empat di antaranya ada di Indonesia: Tokopedia, Bukalapak, Traveloka, dan Gojek. Ini menunjukkan pertumbuhan e-commerce sama sekali tidak boleh dianggap enteng. Ini benar-benar menjanjikan bagi kaum muda Indonesia yang kreatif.

Celakanya, Prabowo dan tim mengabaikannya begitu saja. Perkembangan menjanjikan masa depan itu tidak mereka respons seserius mungkin. Maka jadilah mereka bahan dagelan.

Setengah Matang

Pertanyaan kemudian muncul: kenapa BPN seolah tidak menyiapkan jagoannya sematang mungkin? Jika berdebat saja sudah tidak becus, bagaimana nanti jika jadi pemimpin?

Di debat apa pun, apalagi yang mempertemukan sekelas capres, ditonton ratusan hingga mungkin jutaan orang, persiapan matang tentu sangat perlu. Terlebih tahu bahwa acara tersebut juga jadi penentu kemenangannya di 17 April.

Tetapi yang terlihat, utamanya Prabowo, tidak dipersiapkan matang. Tampak darinya tidak menguasai data tentang apa yang jadi pertanyaan para panelis.


Ketika Jokowi menjelaskan data versi dirinya, misalnya, Prabowo malah tidak mampu mematahkan penjelasan Jokowi.

“Sudah cukup, saya setuju, saya rasa tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.” Balasan seperti ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak siap, bahkan untuk sekadar mengomentari pernyataan lawan bicaranya.

Sebagai contoh, pernyataan Jokowi tentang keberhasilan pemerintah mengatasi soal kebakaran hutan sebenarnya sangat bisa dikomentari dengan data pembanding bahwa kebakaran masih terjadi sampai tahun lalu. Tetapi kenapa Prabowo bisa sampai tidak tahu? Mungkinkah timnya tidak menyiapkan data?

Contoh lain, buat apa Prabowo bicara tentang penguasaan lahan oleh segelintir orang kalau ternyata dia sendiri sebenarnya menguasai ratusan hektar tanah di Kalimantan dan Aceh? Mengeluarkan pernyataan itu seperti memang menyediakan diri untuk dihantam telak!

Mimik dan gerak tubuh Prabowo juga menunjukkan betapa dia menderita. Wajahnya terlihat pucat, masam, tidak yakin, menyeka wajah, dan beberapa kali melap kacamata. Hilang semua kewibawaan Sang Jenderal.

Pilih yang Optimis

Fakta-fakta seputar debat putaran kedua kemarin sedikit-banyak memberi alasan kenapa saya dan teman-teman lainnya di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) harus dan wajib dukung Jokowi. Ya, untuk 1 kali periode lagi.

Bagi kami di PSI, Jokowi mewakili Indonesia yang optimis. Ia selalu menatap dan berjalan ke depan. Sementara lawannya, Prabowo, serba-pesimis. Kalau tidak jalan di tempat, maka selalu mengarahkan kita untuk mundur jauh ke belakang. Khasnya begitu.

Sekadar perbandingan lagi. Ketika Jokowi bicara soal kelahiran startup di seluruh Indonesia, ia selalu berusaha untuk menjawab bagaimana itu akan menjadi kekuatan ekonomi bangsa di masa depan. Sementara Prabowo, yang dilontarkan melulu kekhawatiran, takut akan dikuasai asing.

Ketika Jokowi bicara soal bantuan dana dan fasilitas bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah), petani, dan nelayan, Prabowo malah meragukan kemampuan mereka untuk mengelola perekonomian di lapisan bawah. Jokowi menekankan pentingnya para petani dan nelayan masuk ke ekonomi digital, Prabowo mengkhawatirkannya.


Jokowi bicara tentang alokasi kepemilikan tanah bagi rakyat kecil, Prabowo bicara tentang bagaimana tanah yang dikuasai segelintir orang di masa lalu itu bisa dikuasai negara—joke terbesarnya, tentu saja, Prabowo ternyata adalah tuan tanah di Kalimantan dan Aceh.

Intinya, Jokowi serba-optimis, sementara Prabowo serba-pesimis. Jokowi percaya pada kemampuan rakyat kecil, Prabowo meragukan dan ingin mengelolanya sendiri. Itulah kenapa kami di PSI sangat mendorong khalayak publik menempatkan Jokowi kembali sebagai pemimpin bangsa.

Artikel Terkait