Arsiparis
1 bulan lalu · 122 view · 4 min baca · Cerpen 20343_52366.jpg
Foto: picryl.com

Dukun Asmara

Ia telah menjalani profesinya hampir dua puluh tahun. Saat pertama memulai, ia baru berusia tiga puluh tahun satu hari, tepat sehari setelah peringatan hari ulang tahunnya. Ini adalah profesi yang tak sengaja ia jalani. Tapi apa mau dikata, semua orang sudah terlanjur percaya padanya.

Kodir kini adalah jaminan bagi orang yang sedang kasmaran pada perempuan. Sarannya selalu terbukti cespleng dan manjur untuk menggaet perempuan yang jadi incaran para konsumen jampi jampi asmaranya. Siapapun yang diincar dijamin langsung lengket bagai permen karet jika rapalan darinya diaplikasikan beserta syarat syarat yang menyertainya..

Banyak ibu ibu, jejaka, janda, maupun duda yang antri bersamaku saat itu. Semua bertujuan sama, minta ilmu pelet. Alias ilmu pengasihan jaran goyang demi menggaet pasangan idaman.

Setiap hari jalanan menuju Rumah Kodir selalu penuh dengan mobil. Terlebih lagi jika akhir pekan gang itu menjadi sarana parkir umum para tamu. Orang kampunya menjadi dapat penghasilan tambahan karenanya.

Dari plat nomor yang tertera kelihatan kalau tamunya banyak yang berasal dari luar kota. Kota tempat Kodir tinggal berplat nomor S.

“Mobil-mobil ini berplat nomor berbeda dengan plat nomor yang ada di wilayah kita,” celetuk Darman. yang menjadi jukir dadakan di kampungnya, saat salah satu warga kagum melihat betapa  bagusnya mobil yang sedang parkir di gangnya.  

Bagi warga kampungnya Kodir dianggap warga biasa sebagaimana warga lainnya yang tak punya keahlian luar biasa. Ini menjadikan warganya banyak bertanya tanya perihal banyaknya tamu yang datang ke rumahnya.


Amin yang menjadi ketua rukun tetangga di wilayahnya sempat penasaran juga. Suatu ketika Ia memberanikan bertanya pada Kodir, “Nak Kodir ini sebenarnya kerja apa kok tamunya banyak sekali.”

“Ya bantu bantu orang lah pak, kalau ada orang minta tolong masak kita diam saja,” jawab Kodir seadanya.  

"Jangan berhenti untuk memberinya, meski perempuan yang kau incar selalu menolaknya," saran yang kuterima ketika aku berkunjung ke tempat prakteknya. Kutahu Kodir berkat saran seorang kawan yang kasihan melihatku mabuk kepayang pada  Sita anak juragan selep gabah yang parasnya bagai Dian Sastrowardoyo

Sebagaimana petunjuknya, aku rapalkan jampi jampinya tiap malam. Tak bosan dan tak lelah apalagi berputus asa semua mantra dari Kodir aku rapalkan selalu di tengah malam menjelang fajar.

Sebulan berikutnya aku kembali ke tempat Kodir ingin memberi bingkisan terima kasih. Berkat sarannya aku berhasil mendapatkan hati Sita, perempuan idamanku. Banyak wajah wajah yang sama. di ruang antrian, seperti saat pertama kalinya  aku berkunjung ke sana.

Namun kali ini mereka banyak menjinjing tas kecil entah apa isinya. Dalam hati  aku menduga duga pasti isinya adalah bingkisan terima kasih. Apa yang kuduga ternyata tidak meleset bahwa mereka dan aku  lagi lagi bermaksud sama; akan memberi bingkisan tanda terima kasih pada mbah Kodir.

Di rumah yang begitu besar itu para tamu duduk rapi. Rumah kodir berhalaman luas dan ada dua pohon asem besar yang membuat adem suasananya. Di samping gerbang masuk ada joglo kecil sebagai tempat duduk duduk perokok di sana. Untuk tamu perokok memang kebanykan duduknya di joglo itu.

Rumah besar Kodir memang tidak mengesankan sebagai rumah paranormal. Hanya rumah kayu tua dengan halaman yang luas jauh dari kesan angker karena tidak ada ornament ornament yang identik dengan paranormal, misalnya Batara Kala dan lambang magis lainnya.

Interior rumah kodir pun beraroma parfum modern, bukan aroma kemenyan sebagaimana paranormal lainnya. Di pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah tergantung lukisan tokoh wayang Dewabrata atau Bhisma. Kami para tamu merasa nyaman di rumahnya.

Biasanya Kodir akan melayani tamunya secara langsung tanpa pembantu. Saat menyuguhi tamunya pun dilakukan sendiri. Tak nampak sekalipun wajah anak anak berkeliaran atau wajah perempuan paruh baya sebagai istrinya.

Baca Juga: Sajak Asmara

Dan seringkali saat menjamu tamunya ia berpakaian sederhana tanpa asesoris di tubuhnya. Tak jarang ia hanya bersarung dan berkaos singlet warna putih lengan pendek. Saat pertama ke sini aku malah malah menduga perawakannya besar dengan gaya berpakaian laksana pendekar jawa di film film jawa lengkap dengan udengnya.

Itulah bagiku keunikan Kodir sebagai paranormal. Meski seringkali ia menolak jika dianggap sebagai paranormal atau dukun karena baginya ia hanya membantu berdoa.

"Bang Kodir memang matoh jampi jampinya, hanya  selang sehari,  saat aku ikuti sarannya, si janda incaranku langsung klepek klepek," bisik Karto, duda keren yang kini datang bersama Sum janda idamanya itu, padaku.

Memang tak salah perjuangan Karto, Sum betul betul berparas aduhai istilah sekarang sebelas dua belas dengan Eva Arnaz aktrtis laga tahun delapan puluhan. Sum yang kebetulan mendengar omongan kami hanya tersenyum tersipu malu. Mungkin di hatinya berujar bahwa ia jatuh cinta pada Karto bukan karena jampi peletnya. Semua hanya disebabkan pejuangan Karto yang tak kenal lelah.

Itulah obrolan obrolan kami saat berada di ruang tamu rumah Kodir. Sambil menunggu giliran masuk ruang praktiknya kita isi dengan saling bertukar pengalaman selama menjadi pasiennya. Anehnya kita semua punya pertanyaan yang sama saat mengobtol di ruang antrian. kenapa Mbah Kodir di rumah sendirian tanpa anak dan istri.

Seorang ibu ibu paruh baya nyeletuk di tengah obrolan kami. Rupanya sejak tadi ia menguping, sambil senyum ia bekata setengah berbisik kepadaku, "Dokter tak bisa mengobati sakitnya sendiri."

*udheng : Ikat kepala dari kain untuk laki laki

Artikel Terkait