Saya pernah berjuang dan belajar menyelesaikan setiap permasalahan dengan hati yang lapang dan tidak terburu-buru. Mengutamakan sikap tenang sambil percaya bahwa semua pasti berlalu.

Jangan larut dalam kesedihan secara berlebihan. Kita perlu menangis dan meluangkan waktu untuk meluapkan segala rasa tanpa tersisa. Namun, mengendalikan diri agar tidak terluka adalah sebuah keharusan.

Seperti tahun ini, salah satu daftar impian yang saya tulis beberapa tahun lalu belum tergapai. Entah memang belum atau sama sekali tidak pernah bisa digapai. Impian memakai toga masih mengendap dalam kepala. Belum menjadi nyata dan bagaimana rasa bahagianya. 

Masa pandemi ini mengharuskan banyak kegiatan untuk ditunda sampai batas waktu yang belum bisa dipastikan. Termasuk acara wisuda yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.

19 April 2020 seharusnya menjadi momen yang paling mengharukan bagi saya dan teman-teman lainnya. Selama berbulan-bulan menempuh jalan terjal menyelesaikan skripsi. 

Suka duka yang semua orang pasti tahu betapa skripsi sangat menguji keimanan dari sekian banyak rentetan kesulitan. Tenaga, pikiran, waktu, dan juga uang yang tidak sedikit telah dikeluarkan. Semata-mata dilakukan untuk orang tua tercinta di kampung halaman.

Baru-baru ini Najwa Shihab melalui akun instagramnya membuat suatu challenge dengan hastag #wisudaLDR2020, di mana mereka diharuskan untuk mengunggah foto wisuda sebagai sikap empati menyemangati adik-adik lulusan 2020. Perayaan akan keberhasilan wisudawan 2020 saat pandemi.

Aksi ini telah diikuti oleh Iwet Ramadhan dengan mengunggah foto wisudanya dari Universitas Katolik Pahrayangan dan di-repost ulang oleh Najwa Shihab hingga dibanjiri banyak komentar sendu dari netizen.

Tentunya, mayoritas netizen ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang mengalami cobaan berat seperti saya. Sebagian dari mereka telah melaksanakan wisuda secara virtual. Sedangkan yang lainnya lagi harus menunggu ketidakpastian dari kampus. Wisuda tatap muka tanpa perantara teknologi atau wisuda virtual sebagai pilihan akhir dari perjuangan. Entahlah.

Saya juga menyadari rasa bahagia yang disekat oleh kecanggihan teknologi tentu berbeda dengan rasa bahagia yang dihadiri oleh orang tua di gedung serba guna kampus. 

Setitik airmata yang kerap turun saat saya melihat prosesi wisuda kakak tingkat dahulu menggambarkan suasana haru yang hanya bisa dirasakan di momen-momen tertentu, seperti wisuda ini.

Mungkin memang benar masa pandemi adalah masa serba tidak pasti yang menguras banyak emosi. Dari segala sisi, tingkatan masyarakat, apa pun profesi dan statusnya, semua adalah korban terdampak dari Covid-19. 

Mahasiswa yang harus merayakan kelulusannya hanya tetap di rumah saja dan menutup impian memakai toga agar tidak ketimpahan air mata. Di sinilah mental kita sebagai sarjana benar-benar diuji.

Lalu, apakah mental ini akan goyah hanya karena diuji oleh virus Corona? Meluapkan rasa marah dan kesedihan berkepanjangan? Perlu diketahui, sebagai sarjana yang telah menampuk sekian banyak ilmu pengetahuan, secara tidak langsung kita telah dibentuk oleh budi luhur.

Karena ilmu adalah budi. Tidaklah berilmu orang yang tidak berbudi. Mengarungi hidup dengan dua jalan yang mulia, ilmu dan kebaikan. Melalui budi itulah kita bisa mengambil hikmah di balik cobaan menjadi sebuah kebaikan.

Socrates saja telah mengingatkan kita berabad-abad yang lalu, "hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani." Mahasiswa wisudawan 2020 yang masih bersedih karena gagal wisuda tidak patut untuk disebut sebagai orang intelek. Titik!

Kita perlu banyak jalan kesulitan untuk dihadapi sebagai bentuk menempah diri. Perlu juga belajar dari kisah-kisah pelik dari orang-orang terdahulu. Socrates bisa mengingatkan kita tentang ujian hidup karena dia salah satu sosok yang memang semasa hidupnya banyak mengalami ujian.

Dia adalah guru, intelektual—kalau dilihat pada masa sekarang, dosen yang banyak memberi ilmu kepada mahasiswanya. Namun begitu, Socrates banyak dibenci oleh orang-orang yang merasa tersaingi. Kaum Sofis merupakan kaum yang berusaha untuk menyingkirkan Socrates dengan merayu pemerintah agar menghukumnya.

Dengan alasan bahwa Socrates telah memengaruhi pemuda-pemuda Athena ke jalan yang buruk, menolak mengakui dewa-dewa yang diakui oleh negara, serta berbagai kejahatan lainnya.

Hingga pada akhirnya Socrates dihukum mati dengan meneguk racun pada abad 399 SM. Kesedihan ini pun dirasakan oleh Plato, ia sangat kehilangan gurunya. Namun, Plato adalah murid yang tegar. Ia berusaha mengumpulkan setiap petuah Socrates menjadi sebuah buku. Berkat Plato-lah kita bisa membaca setiap dawuh yang disampaikan Socrates. Seperti nasihatnya yang saya tulis di atas tadi.

Wisudawan 2020 apakah masih bersedih? Kalian hebat begitu juga dengan saya. Sejak lahir kita telah banyak mengalami ujian. Lahir pada masa reformasi, demo sana sini, ekonomi mengalami keterpurukan, sedangkan kita harus makan agar tetap tumbuh. 

Sedangkan saat kita telah di gerbang impian menjadi sarjana, negeri kita sampai hari ini masih sempoyongan menangani wabah pandemi. Berbagai lelucon muncul menghinggapi kita, "hello, sarjana corona lulus melalui jalur virus."

Pada titik akhir, mungkinkah kita akan menggelar wisuda dengan jarak satu meter di era new normal? Tunggu saja.